Kamis, 02 Juli 2009

Perokok Yang Malang
THE BAGONK : 2 diantara 6 pasukannya (cieh kyak kerajaan aja..) adalah perokok berat
dah salah satunya adalah aku, dan satunya lagi adalah tmen dan jga tetangga kamarku. kami adalah pecandu berat (jgn negatif) kita sering ngisep puntung yg dah di asbak hehehe... boong deng... klo lg kere aja..!!!!

suatu hari aku pulang dri kampus !!!
aku punya sebatang rokok yg paling disukai ma tmenku itu..!!!
rokok itu bermerk ******** pokoknya gtu dech..!!
rokok itu hasil malak dri anak culun dikampusku,,,
yg ku mintai uang buat beli 2 batang rokok

sesampainya aku dirumah aku teringat akan kisah jahil tmen2 SMAku dlu yg ngerjain aku dengan rokok
maka timbullah niat jahilku !!!!

cara kerja (Jangan meniru kejahilan ini tanpa izin tertulis dri kepolisian)
1. keluarkan tembakau rokok dari pembalutnya hingga dekat dengan fliternya..
2. ambil beberapa belerang korek kayu (makin banyak makin dahsyat)
3. masukkan belerang kedalam pembalut rokok seperti tembakau
4. masukkan kembali tembakau yang telah dikeluarkan hingga rokok seperti semula ( agar tidak mencurigakan, masukkan tembakau rokok dengan rapi dan padat)
5 letakkan rokok itu ditempat biasa kamu meletakkan rokok
6 biarkan rokok terlihat oleh calon korban !

stelah aku buat ranjau itu dengan tak sengaja aku meletakkan rokok itu diatas mejaku dan aku pergi kekamar mandi !!
saat aku masuk kekamarku dan mendapati rokok itu telah lenyap aku tersenyum dan mencari siapa yg akan terkena ranjau maut itu..!!???

terlihat dua orang pria sedang asik berbincang2 diteras rumah kontrakanku!
mereka sedaNG ASYIK MENIKMATI hangatnya rokok bermerk********* (walau ku tau itu bukan rokok ranjau ) tawa girang terpekik dari mulut mereka satu kata terdengar begitu lucu ditelunga mereka.!!
namun aku tetap diam dan tersenyu penasaran dengan orang yang akan terkena ranjau mautku

aw.....!!!!

begitu keras dan jelas ku dengar teriakan itu..!!!
hingga aku kaget dan mencari dri mana suara itu berasal/?????
tah lebih dari 30 detik kudapati muka hitam tampa alis dan hidung yang berasap !!!
hingga pecah suara tawa kami bertiga yg tak henti2nya !!!

BETAPA MALANGNYA NASIBMU NAK !!!!!!

tawa itu kian lama kian mengencang
karena 14 penghuni kontrakan datang dan mendapati dia seperti topeng monyet yang akan pentas di kerumunan masa...!!!! wajahhitam penuh merang, alis yg keriting karena gosong dan tak bersisa
bibir tebal vbagai buku hukum

tawa kami makin kencang saat iya aku benci rokok *******

hahahahahahahahahahahahaha

cerita ini hanya fiksi dan sbagian ada kisah nyatanya
maaf bila ada kesamaan kisah dalam cerita ini !!!
smua ini hanya catatan belaka !!!



Tunggu aja lagi…. Pasti ada yg lebih seru…!!! OOOOKKKKKK………!!!!!
Aku tak akan menyerah

suatu hari aku dan sahabat dekatku punya suatu mici yang sangat penting. sebagai seorang sahabat aku tak pernah menghiraukan bagaimana nasibku nanti. yang penting bagiku adalah bagaimana aku bisa menyenangkan sahabatku !!!

sbagai senior dan the master!!!! cieh..... gaya nya,,,
aku selalu ingin memberi yang terbaik untuk fatner bisnisku
walaupun aku cma dpet bayaran Rp 200.000 dalam misi ini !!!

misi kami saat ini adalah mencegah perselingkuhan !!!
korbannya adalah seorang ibu2 bernama juwita (Red) dia punya seorang suami sebut saja namanya mamet !!

juwita adalah seorang ibu yang sangat sabar walaupun sdikit cemburuan. juwita adalah seorang bidan di sebuah RSUD di jawa timur. dia meniti karirnya sejak 10 tahun yang lalu. sedangkan suaminya adalah seorang pria yang tinggi badannya 165 cm, dengan gaya rambut mohak, dan berpenampilan selalu rapi. menejer sebuah perusahaan bekry ini selalu membuat wanita yang dekat dengannya merasa damai bersamanya !!


suatu hari ada seorang wanita datang memasuki kehidupan mereka (hal ini sering terjadi tapi ini paling parah) hingga dia menyewaku untuk membereskan semua itu !! sbenernya masalah ini ga begitu berarti, soalnya si mamet jg ga suka ma ni cwe. selain itu cwek ini orangnya ga bgitu cantik ko,,!!!
dah tinggi, kurus, jelek, item, bintitan, idup lg !! hehehehe....
tp yg jdi masalah ni cwek slalu bikin ulah dan bikin keluarga mereka berantem !!

dengan berbagai cara aku coba menyingkirkan wanita gila itu dari hubungan mereka, dari yg langsung maupun tidak langsung !!( tanpa pelet ya zaman modern kok pke pelet.... kuno )dari jurus dasar hingga jurus mautku ku gunakan !!! wanita itu tetap saja berdiri tegar,,,,!!!

hingga suatu ketika aku benar benar kesal dan marah..!!!
aku harus bermain licik
aku cuma punya satu jurus yg belum pernah aku pakai selama ini !!
dan itu adalah jurus yg aku pelajari dari perguruan the^kill man 1000 tahun lalu
akhirnya dia ku tahluk dan aku berhasil mencuri hatinya...!!!!

dia Djatuh tjinta kepada diri ku
huahahahahahahahahahahahah.........
sbagai manusia biasa aku smpet terlena dengan keberhasilanku menakhlukkan hati wanita yg keras itu
dan aku lupa pada mantan kekasihku yang sedang menyusui anaknya,,!!!
aku terlena dengan kenikmatan yang telah diberikan, aku terbuai dengan apa yang ia sediakan

higga akhirnya aku sadar dengan apa yang aku lakukan !!
aku bergegas menuju posisiku
saat ia tak sadar dan terpesona oleh rayuanku
kubuang dia dari peradaban dunia !!
namun deritaku tak hanya berakhir disini....
satu kata yang ku dengar dari bibir tebalnya..!!!
aku tak akan menyerah !!!!!

Bersambung……..:) !!!!

cerita ku

Perjalanan kekampus baru

Berawal dari sebuah kisah perjalanan para mahasiswa join program antara dua kampus yang berjauhan, yang satu berada diujung barat dan yang satu lagi berada di ujung timur. 250 orang mahasiswa diberangkatka dari kampus barat menuju ke kempus timur, dengan kendaraan yang seadanya.
Jam 7 pagi aku dan teman sekamarku bangun dan terburu-buru mandi, kami mendapat berita bahwa kami tidak bias diberangkatkan bersama teman-teman kami bila masih ada problem akademik di kampus barat.

Lima bendel laporan yang tebalnya sekitar 7 cm kumasukkan kedalam tas buluk yang kubeli 2 tahun lalu disebuah mal di Jakarta. Dengan cepat ku siapkan segala kekurangan akademikku. Satu masalah akademikku yang bias menentukan nasibku selanjutnya. Melesat kencang aku menggunakan motor supra x 125 putih menuju kampus yang berjarak _+ 500 m dari depan kos-kosanku. Dengan penuh harapan aku bias bertemu dengan seseorang yang membuatku bingung, serta dapat menentukan nasibku berikutnya.


Aku masuk ke sebuah ruangan besar berAC dan tertata rapi yang terletak di lantain 16 gedung pusat kampus itu.

“Pagi mbak” , aku mengucapkan salam dengan nafas yang ter engah-engah dan dada mau copot.

“Pagi,” sahut seorang wanita cantik dengan rok mini ketat diatas lutut berwarna coklat muda.

“saya mau ktemu dengan pak direktur mbak”??!! Dengan gaya yg sok PD tp sbenernya gugup.

“Ada keperluan apa” ??? Tanyanya lagi.
Saya mau minta tanda tangan pak direktur buk untuk laporan hasil penelitian kmarin !!! jawabku menjelaskan !

Letakkan saja laporannya disini, skalian tandai bagian yang mau ditanda tangani !
pak direktur masih ada rapat di kantor besar ! nanti jam 12 kamu kembali lagi kesini !

ya mbak…!!??? Jawabku sambil mengerjakan apa yang dia perintahkan dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


Jam menunjukkan pukul 08 : 05 aku berkemas untuk keberangkatanku kekampus baruku. Ku lihat para mahasiswa jurusan manajemen mulai berdatangan dan berkumpul di sebuah gedung yang mampu menampung 1000 orang. Beberapa anak tampak kerepotan membawa barang bawaannya yang ku perkirakan isinya adalah semua isi rumahnya ! serta lemari es milik mamanya pun ada dikoper itu. Seperti transmigrasi pada zaman pemerintahan pak harto dulu Cuma ini kurang banyak.

Jam 09 : 13 menit aku telah selesai membereskan semua barang yang akan ku bawa ketempat baruku. Setelah selaesai berbenah kamar dan sarapan, aku segera membawa barangku yang hanya sekoper tanggung dan sebuan kardus indomie instant rasa ayam bawang yang isinya adalah 5 pasang pakaian lengkap dan 1 jas, serta kaos-kaos oblongku. Maklum laki-laki ga banyak embel-embel.

Berangkat aku dengan muka sedikit tegang dan rasa penasaran yang mulai muncul. Kemanakah aku akan pergi ????!!! sambil menunggu waktu yang tinggal kurang dari 10 jam keberangkatan kita meninggalkan kota tercinta ini, aku menyempatkan diri mengelilingi kampus yang memiliki luas sekitar 58 hektoare ini.

Saat asyik menikmati pemandangan yang ada dikampus itu aku dikagetkan dengan getaran Hand Phoneku yang ku simpan disaku celana jccku. Sebuah pesan baru berisi pemberitahuan bahwa para mahasiswa yang akan berangkat segera berkumpul, dan bis akan diberangkatkan pada pukul 14 :15 aku segera bergegas menuju tempat dimana teman-temanku berkumpul.

Jam 14 : 22 menit semua mahasiswa sudah berada diatas bis, bersama barang-barang mereka yang mungkin melebihi berat badan mereka. Aku dan beberapa temanku sibuk menaikkan barang milik cwe-cwe yang telah asyik duduk diatas bangku bis berAC yang empuk.




Bersambung………………………..!!!!!!!!!!!!

Jumat, 26 Juni 2009

Kultur Jaringan Tumbuhan diluar Laboratorium Print E-mail
Written by Ir. Edhi Sandra MSi.
Friday, 20 June 2008

Oleh : Ir. Edhi Sandra MSi.

Pendahuluan

Banyak orang membayangkan laboratorium kultur jaringan adalah ruangan tertutup yang “mengerikan” terisolasi dari kondisi luar laboratorium dan harus serba steril. Penuh dengan botol-botol yang berisi tanaman dan alat-alat yang sebelumnya tidak pernah dilihat, dengan bau ruangan yang khas (bau desinfektan) Dan banyak orang juga beranggapan bahwa kultur jaringan adalah teknologi budidaya tumbuhan modern yang sangat sulit dan hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu saja. Perlu biaya investasi yang sangat besar serta hasilnya lama dan belum tentu berhasil.

Mungkin demikian pula persepsi anda?.... tidak perlu malu, karena memang fakta yang ada mengarah pada persepsi tersebut. Tapi… taukah anda, …….bahwa kultur jaringan itu dapat dilakukan oleh anak lulusan SMP atau SMA atau bahkan tidak perlu sekolah….? Taukah anda, ….bahwa laboratorium kultur jaringan dapat dilakukan dirumah kita?..... seadanya. Taukah anda, ….. bahwa botol kultur dapat dibawa-bawa keluar laboratorium kultur jaringan….?

Tidakkah anda ingin menghadirkan teknologi kultur jaringan modern di rumah anda…? Tidakkah anda ingin menguasai suatu teknologi yang mampu berbuat banyak dalam menghasilkan bibit berkualitas, mnghasilkan varitas baru, memperbanyak bibit yang harganya mahal…? Tidakkah anda ingin meneliti berbagai macam hal mengenai tumbuhan…? Kesemuanya …. Sebenarnya …. Dapat anda miliki.!!!...... (“apakah benar perkataan orang ini? Apakah mungkin saya yang tidak tau tanaman, …… yang tidak mempunyai dasar mengenai budidaya,…… yang berbeda profesinya dapat mengembangkan kultur jaringan?”….)

Memang dalam hal ini dibutuhkan keuletan dan ketekunan…..tapi yakinlah bahwa anda pasti bisa…!!!. Anda masih tidak percaya….. anda mau bukti……Beberapa peserta pelatihan saya saat ini sudah berhasil menjalankan kultur jaringan dengan baik sesuai dengan tujuannya masing-masing. Ada yang melaksanakan kultur jaringan sebatas hobi, …ada yang senang meneliti pertumbuhan kultur jaringan dengan memberikan berbagai macam perlakuan…. Dan ada juga yang sudah eksis dengan usaha kultur jaringan, .. ada yang usaha kulktur jaringan jati, …ada yang usaha kultur jaringan anggrek, …ada yang usaha kultur jaringan tanaman hias dan sebagainya.

Esha Flora

Esha flora adalah suatu lembaga yang mengemban misi dan visi mengembangkan, mentransfer dan menerapkan teknologi kultur jaringan di masyarakat. Awal mula memang dirasakan bahwa melaksanakan kultur jaringan serba sulit,… mau beli bahan dan alat …..kemana? …harga mahal..? ada ngga yang buatan dalam negeri yang murah..? ada ngga alternative alat dan bahan yang murah..?...bisa ngga kita beli eceran atau sedikit saja..?...bisa ngga kita beli jadi saja..? bisa ngga kita beli kultur jadinya..? bisa ngga kita beli ramuan jadi untuk media kulturnya..? Kesemua pertanyaan tadi adalah pertanyaan yang banyak ditemui kalau kita mau merintis kultur jaringan. Dulu…. Hal tersebut tidak terjawab…tapi, …sekarang semua kesulitan tersebut sudah dibantu oleh Esha Flora … apa yang menjadi kesulitan anda di dalam melakukan kultur jaringan …Esha Flora akan membantu anda..

Kalau anda belum memiliki alatalat dan bahan media secara lengkap, … anda tetap dapat melakukan kultur jaringan dengan hanya melakukan kegiatan subkultur dan aklimatisasi saja….anda hanya membeli enkas dan alat-alat tanam saja….sementara kultur jadi yang sudah steril dan media jadi yang sudah disterilisasi… dapat anda beli di Esha Flora…

Kalau anda masih dalam skala yang kecil dan masih coba-coba maka anda dapat membeli bahan secara eceran atau sedikit dan dapat membeli media ramuan secara eceran juga, sehingga anda tidak perlu keluar modal besar…

Kalau anda kesulitan di dalam inisiasi (menanam kultur dari luar ke dalam botol, karena biasanya tingkat kontaminasinya tinggi), ..maka anda dapat menginisiasi di Esha Flora…atau anda dapat membeli kultur yang ada untuk dapat diperbanyak sendiri….

Kalau anda belum mempunyai alat dan ingin melakukan kultur jaringan, ..maka anda dapat mengkulturkan di Esha Flora dengan biaya sewa alat yang cukup murah. Bahkan kalau anda mau menitipkan kultur di Esha Flora…juga bisa dengan membayar biaya menginap kultur perbulannya…

Kalau anda ada proyek dan kebutuhan bibit dalam jumlah tertentu, …maka anda dapat membayar jasa mengkulturkan di Esha Flora….

Prinsipnya Esha Flora siap membantu anda semua di dalam mengembangkan kultur jaringan baik skala rumah tangga maupun skala industri.
PENGARUH JENIS MEDIA ORGANIK DAN NAA TERHADAP PERTUMBUHAN ANGGREK HITAM (Coelogyne pandurata) Print E-mail

Untuk mencegah terjadinya kepunahan spesies ini, maka harus diupayakan teknik budidaya yang tepat untuk menyediakan tanaman-tanaman baru anggrek hitam secara cepat dengan kualitas dan kuantitas yang baik.



Dikutip dari Skripsi:

Rini Untari, S.Hut (Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB 2003 )

Dosen pembimbing: Ir. Edhi Sandra, MSi & Ir. Dwi Murti Puspitaningtyas, M.Sc

Anggrek hitam merupakan salahsatu anggrek alam yang berasal dari Kalimantan, bunganya berbau harum lembut dan lama mekar bunga sekitar 5-6 hari. Berdasarkan PP No.7 Tahun 1999 anggrek ini termasuk ke dalam tumbuhan yang dilindungi.

Di alam keberadaan jenis anggrek ini terancam karena pengambilan yang berlebihan, terjadinya perubahan dan rusaknya habitat tumbuh anggrek tersebut merupakan faktor yang mengancam kelestarian anggrek ini. Kegiatan pengeksploitasian yang berlebihan dan apabila terjadi terus-menerus, anggrek hitam akan mengalami kepunahan.

Untuk mencegah terjadinya kepunahan spesies ini, maka harus diupayakan teknik budidaya yang tepat untuk menyediakan tanaman-tanaman baru anggrek hitam secara cepat dengan kualitas dan kuantitas yang baik.

Tanaman anggrek dapat diperoleh melalui cara pembiakan secara vegetatif dan generatif. Secara alami pembiakan anggrek dengan cara generatif yang berasal dari biji hanya dapat tumbuh jika bersimbiosis dengan mikoriza. Biji anggrek hanya terdiri dari embrio dan testa (pelindung embrio) tanpa cadangan makanan atau endosperm. Jika bersimbiosis dengan mikoriza, anggrek dapat memperoleh nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh. Pada umumnya tingkat keberhasilan perkecambahan secara alami persentasenya sangat kecil.

Dengan berkembangnya teknik kultur in vitro, maka keberhasilan perkecambahan biji anggrek dapat ditingkatkan. Modifikasi media dapat meningkatkan produksi anggrek hitam ini secara kualitatif dan kuantitatif dibandingkan dengan produksi hasil dari alam. Salahsatu modifikasi media yaitu penambahan persenyawaan organik kompleks sehingga dapat mengoptimalkan pertumbuhan anggrek hitam tersebut serta penggunaan NAA, salahsatu jenis auksin sintetis banyak digunakan untuk meningkatkan rasio pertumbuhan akar tanaman dalam kultur invitro, karena akan mendorong pembentukan akar-akar baru pada selang konsentrasi tertentu. Dengan pertumbuhan akar yang sehat dan kuat akan meningkatkan kemampuan tanaman untuk bertahan hidup pada tahap aklimatisasi ke lapangan. Penelitian ini dilaksanakan Unit Kerja Laboratorium Kultur Jaringan Anggrek Kebun Raya Bogor. Penelitian dilakukan selama 6 bulan dari bulan Juni sampai bulan Desember 2002.

5 hari pengamatan plantlet selama di botol dan 1 bulan untuk melihat keberhasilan hidup di lapangan. Percobaan ini terdiri dari 2 faktor, faktor pertama adalah 6 jenis media organik (tanpa bahan organik, air kelapa 250ml/l, pisang ambon 150g/l, kentang 200g/l, ubi jalar 150g/l, dan kedelai 150g/l) yang dikombinasikan dengan faktor ke-2 yaitu 5 taraf konsentrasi NAA (0 ppm, 5ppm, 10ppm, 15ppm dan 20ppm). Media dasar yang digunakan adalah komposisi media VW (Vacin & Went) dengan menambahkan gula pasir, arang aktif dan agar-agar. Bahan eksplan yang digunakan: semai hasil perkecambahan dari biji yang berumur 20bulan mempunyai tinggi masing-masing 3-6cm dengan jumlah daun 6-7 helai.

Tanaman hasil kultur invitro setelah pengamatan selama 5bulan selanjutnya diaklimatisasi ke media yang terdiri spagnum moss, arang dan pecahan genting dengan perbandingan 1:1:1, media tanaman yang dipakai terlebih dahulu direndam dalam air panas selama 1 jam kemudian ditirskan dengan tujuan untuk melestarikan media tumbuhan yang akan dipakai.

Parameter yang diamati: pembentukan akar (panjang akar dan jumlah akar). Panjang akar diukur pada saat panen sedangkan jumlah akar diukur setelah 2minggu penanaman. Pertumbuhan eksplan (tinggi eskplan, jumlah daun, jumlah tunas baru). Pengamatan dilakukan setelah 2minggu penanaman selain peubah di atas dilakukan pengamatan terhadap kondisi eksplan seperti pembentukan akar adventif, warna daun, persentase hidup eksplan dan persentase plantlet yang hidup di lapang. Pengamatan di botol dilakukan setiap 2 minggu selama 5 bulan dan untuk plantlet yang hidup di lapangan diamati selama 1bulan setelah plantlet keluar dari botol kultur.

Penambahan media Vacin dan Went dengan persenyawaan organik kompleks dan zat pengatur tumbuh NAA serta interaksi antara 2 faktor perlakuan tersebut memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap parameter-parameter pertumbuhan, parameter pertumbuhan tersebut meliputi pembentukan akar baik panjang akar dan jumlah akar serta pertumbuhan eksplan yaitu tinggi eksplan, jumlah daun dan jumlah tunas baru.

Perbedaan jenis media organik kompleks berpengaruh nyata terhadap semua parameter kecuali jumlah tunas. Jumlah akar dan panjang akar tertinggi diperoleh dari media VW dengan penambahan ubi jalar 150g/l. Tinggi eksplan dan jumlah daun terbaik diperoleh dari media VW + kentang 200g/l. Sedangkan untuk rata-rata terendah dari parameter tinggi eksplan, jumlah daun, jumlah akar dan panjang akar pada media VW + kedelai 150g/l untuk 20 minggu setelah tanam (MST).

Zat pengatur tumbuh NAA berpengaruh terhadap parameter tinggi eksplan, jumlah daun, jumlah akar dan panjang akar, tidak berpengaruh terhadap jumlah tunas. Faktor zat pengatur tumbuh NAA berpengaruh nyata pada tingkat kwartik untuk semua parameter. Parameter tinggi serta jumlah daun konsentrasi NAA maksimum 0ppm, jumlah akar maksimum pada konsentrasi 2,1ppm sedangkan parameter jumlah tunas peningkatan NAA lebih dari 20ppm masih memungkinkan peningkatan jumlah tunas.

Peningkatan konsentrasi NAA mengakibatkan daya regenerasi tanaman menurun dan terhambat serta meningkatkan kematian untuk beberapa eksplan anggrek C. Pandurata. Terdapatnya zat-zat endogen/ auksin alami dalam eksplan yang mendorong eksplan untuk tetap mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

Interaksi antara jenis persenyawaan organik kompleks berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan baik tinggi plantlet, jumlah daun, jumlah tunas, jumlah akar dan panjang akar. Pemberian NAA berpengaruh nyata pada tingkat kwartik untuk semua media organik kecuali pada media VW + kedelai 150g/l berpengaruh nyata pada tingkat kuadratik. Pada parameter jumlah tunas, peningkatan NAA pada semua perlakuan media organik, konsentrasi NAA lebih dari 20 ppm dapat meningkatkan jumlah tunas.

Peranan zat tumbuh selain sebagai perangsang dapat pula berlaku sebagai penghambat, semuanya itu tergantung dari konsentrasi zat tersebut. Dengan meningkatnya konsentrasi NAA dalam media menyebabkan persentase kematian eksplan yang tinggi. Pada minggu ke-20 eksplan yang hidup untuk perlakuan NAA 0ppm 95.8%, NAA 5ppm 81.5%, NAA 10ppm 61.5%, NAA 15ppm 27.7% dan NAA 20ppm sebesar 14.5%.

NAA dengan konsentrasi rendah 0ppm (kontrol) dan 5ppm menghasilkan warna daun eksplan hijau tua. Meningkatnya konsentrasi NAA mengakibatkan warna daun kuning bahkan beberapa eksplan berwarna coklat dan mengalami kematian yang disebabkan oleh menurunnya jumlah klorofil dan rusaknya klorofil.

Plantlet yang memiliki persentase hidup yang tinggi setelah 4minggu aklimatisasi yaitu plantlet yang berasal dari eksplan yang diberi penambahan ekstrak ubi jalar 150g/l dengan konsentrasi NAA 0ppm, 5ppm dan 10ppm sebesar 100%.

Media Vacin dan Went dengan penambahan ekstrak ubi jalar 150g/l dengan NAA 0ppm merupakan media yang terbaik untuk pertumbuhan optimal semai Coelogyne pandurata hasil kultur in vitro.

Jumat, 15 Mei 2009

masalah hutan indonesia

Laporan tentang Keadaan Hutan Indonesia ini adalah hasil karya ForestWatch Indonesia (FWI) dan Global Forest Watch (GFW). FWI mulai dibentukpada akhir tahun 1997 oleh 20 lembaga swadaya masyarakat untuk berperansebagai bagian dari masyarakat sipil yang mendorong percepatan prosesdemokratisasi, khususnya dalam hal alokasi dan pengelolaan sumber dayahutan di Indonesia. GFW diluncurkan pada tahun 1998 oleh World ResourcesInstitute (WRI) untuk bekerja bersama lembaga swadaya masyarakat dan parapemimpin lokal di negara-negara yang memiliki hutan di seluruh dunia.
Forest Watch Indonesia berupaya untuk mengembangkan kemampuan wargamasyarakat yang mandiri dalam hal mengumpulkan, mengolah danmenyebarluaskan data tentang hutan, peta-peta dan berbagai informasikebijakan yang relevan dengan apa yang sedang terjadi di hutan-hutanIndonesia dan di tengah masyarakat Indonesia yang hidupnya mengandalkanhutan. FWI merupakan organisasi jaringan pemantauan hutan independen yangterdiri dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memilikikomitmen untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan diIndonesia.
Makalah tentang potret buram Hutan Indonesia :

Sabtu, 02 Mei 2009

Publikasi Karya Ilmiah Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc.


Jurnal
Seminar
Meeting
Sep
1
PRINSIP DASAR ANALISIS KELEMBAGAAN DALAM USAHA PERHUTANAN RAKYAT
PRINSIP DASAR ANALISIS KELEMBAGAAN DALAM USAHA PERHUTANAN RAKYAT
(Diterbitkan oleh Jurnal Hutan Rakyat Volume 1 Tahun 2003)
1. Pendahuluan
Banyak orang berpendapat bahwa kegagalan melakukan kegiatan pembangunan, terutama pembangunan yang berorientasi kepada pembangunan masyarakat disebabkan oleh lemahnya kelembagaan yang ada dalam proses pembangunan tersebut. Secara teknis dan finansial kegiatan pembangunan tersebut nyaris tidak ada masalah, tetapi capaian keberhasilan masih rendah.
Keyakinan banyak orang tentang posisi strategis kelembagaan dalam suatu kegiatan memiliki dasar yang kuat. Dalam kegiatan yang dilakukan oleh orang perorang maka kelembagaan tidak menjadi penting, tetapi jika kegiatan tersebut dilakukan oleh banyak orang, banyak aktor, berdampak luas kepada sumberdaya alam, lingkungan sosial, dan apalagi sebuah gerakan sosial yang luas, maka diperlukan pengaturan, membangun tata nilai bersama, dan bahkan alat ukur keberhasilan yang diakui secara bersama-sama oleh semua pihak yang terlibat. Dalam situasi seperti itulah kita memerlukan kelembagaan guna mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu kita harus menyamakan persepsi terlebih dahulu mengenai apa yang dimaksud dengan kelembagaan itu? Kemudian apa kaitan kelembagaan dengan program pengembangan Usaha Perhutanan Rakyat (UPR) yang dikembangkan oleh Departemen Kehutanan?
Kelembagaan dimaknai sebagai satu kumpulan nilai, norma, peraturan dalam suatu kumpulan orang, yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tidak semua organisasi akan memiliki sistem kelembagaan yang sama, tetapi masing-masing organisasi akan memiliki sistem kelembagaannya sendiri sesuai dengan kharakteristik kegiatannya. Oleh karena itu untuk kesesuaian sistem kelembagaan tersebut diperlukan suatu analisis tentang kelembagaan (institutional analysis). Jika persoalannya terkait dengan strategi pengembangan UPR, maka analisis kelembagaan diarahkan kepada model-model kelembagaan seperti apa yang sesuai dengan kharakteristik UPR tersebut. UPR adalah semua kegiatan kehutanan yang terkait dengan usaha pengembangan masyarakat , pengembangan ekonomi kerakyatan, namun tetap mempertahankan dan menjamin kelestarian sumberdaya alam. Beberapa kegiatan dalam lingkup UPR antara lain: pembangunan hutan rakyat melalui proyek penghijauan dan swadaya masyarakat, pengembangan lebah madu, pengembangan sutra alam, usaha-usaha konservasi, pangan dalam hutan, pengembangan hutan adat, dan lain-lain.
Analisis kelembagaan untuk UPR adalah upaya untuk memahami insentif yang memotivasi tingkah laku manusia / masyarakat / kelompok masyarakat pada satu tempat tertentu, waktu tertentu, dan dampak dari tingkah laku tersebut pada kontek sumberdaya alam hutan. Semua itu melalui analisis insentif, pilihan-pilihan, dan outcome.
2. Kerangka Pendekatan Sistematik Kajian Kelembagaan UPR
Seperti disebutkan di atas bahwa untuk analisis sistematik kelembagaan UPR dilakukan melalui analisis tentang insentif, pilihan-pilihan, dan otcome (hasil manfaat).
2.1. Insentif dalam Kegiatan UPR
Insentif adalah sesuatu yang membuat seseorang ingin melakukan hal tertentu. Uang dapat merupakan suatu insentif, misalnya dalam hal sebuah proyek dapat membayar orang untuk kegiatan penanaman pohon. Rasa takut kepada pelanggaran atas pesan-pesan nenek moyang supaya melestarikan sumberdaya hutan, sehingga anak cucunya tidak merusak hutan merupakan insentif. Strategi peningkatan pendapatan keluarga melalui penanaman pohon di atas lahan pertanian. Dengan demikian dapat kita pahami bahwa katagori insentif itu dapat menempati pemaknaan yang luas dengan ragam bentuk yang bermacam-macam. Kompleksitas insentif ini sangat ditentukan oleh kondisi individu dan komunitas, utamanya dalam bentuk interaksi mereka dengan lingkungan di sekitar mereka.
Salah satu bagian dari analisis kelembagaan UPR adalah tentang apakah ada insentif bagi masyarakat yang terlibat dalam kegiatan UPR dan dari mana sumber-sumber insentif tersebut diperoleh. Dalam kontek UPR ini ini insentif lebih baik dimengerti melalui pemecahan masalah dan mempertimbangkan 3 jenis insentif yang sering dihadapi oleh masyarakat pelaku program UPR: (1) insentif terkait dengan kharakteristik sumberdaya. Misalnya sumberdaya permodalan dalam bentuk KREDIT USAHA ; (2) insentif terkait dengan kharakteristik masyarakat; dan (3) insentif terkait dengan kharakteristik peraturan (rules) dimana masyarakat tersebut eksis.
Sebagai contoh sederhana dari 3 jenis insentif tersebut adalah model kemitraan antara pegusaha industri kayu dengan petani peserta program pembangunan hutan rakyat untuk jenis JATI SUPER yang diiming-imingi dengan analisis pendapatan yang besar dalam jangka waktu 10-15 tahun, atau jenis sengon yang dalam waktu 5-6 tahun sudah menghasilkan pendapatan yang besar. Dengan kharakteristik masyarakat masrginal (kritis ekonomi) maka tawaran HASIL YANG BESAR pasti merupakan insentif yang sangat memotivasi rakyat mengikuti program penanaman pohon jati atau sengon di lahan milik mereka. Rakyat miskin, lahan kritis, dan tanaman cepat tumbuh merupakan insentif dalam pengembangan UPR hutan rakyat. Insentif ini pula yang menyebabkan masyarakat dan organisasinya melakukan proteksi atas tanaman jati super dan sengon. Hal yang sama dapat dianalisis untuk program usaha persutraan alam, lebah madu, hasil hutan non kayu dalam hutan adat, dan lain-lain. Namun sebaliknya dapat terjadi sesuatu akan menjadi disinsentif tehadap program UPR, misalnya saja berkaitan dengan ketidakjelasan status lahan dimana kegiatan UPR dilaksanakan. Kasus konflik lahan negara dan lahan adat meluas saat ini di Indonesia. Apabila kegiatan UPR dilaksanakan di atas lahan yang tenurialnya konflikting dan tidak jelas, maka hal ini dapat menjadi faktor disinsentif dalam UPR.
2.2. Pilihan-Pilihan
Maksud dari analisis pilihan-pilihan ini adalah untuk memberikan peluang kepada peserta program UPR melakukan pilihan jenis kegiatan yang diinginkan setelah disinergikan dengan ragam masukan dan pertimbangan insentif yang ada. Misalnya dalam kaitan dengan memilih kegiatan pengembangan usaha lebah madu dan persutraan alam harus memperhatikan sumnberpakan lebah dan sumber pakan ulat (daun murbai). Apabila sumber pakannya sulit dan sukar dikembangkan karena lahannya karitis dan tidak mungkin ditanami tanaman murbei dan tanaman penghasil bunga-bunga, maka usaha lebah madu dan sutra alam tidak dapat dilanjutkan. Artinya bahwa kendatipun insentif dana ada, tetapi pengembangan sutra alam dan lebah madu tidak dapat dipilih sebagai bentuk kegiatan kelembagaan UPR. Pada kontek hutan adat atau sistem hutan kerakyatan (SHK) yang berbasis pendekatan komunal, analisis pilihan-pilihan tersebut menjadi penting.
2.3. Outcome (hasil manfaat) Program UPR
Di dalam outcome pengembangan UPR , pertanyaan mengenai apa dampak dari semua pengambilan keputusan tentang pilihan program UPR pada sumberdaya hutannya, hasil sutra alam, lebah madu, hasil hutan non kayu, dan kayu hutan rakyat, serta dampak pada komunitas peserta program, perlu mendapat penjelasan.
Untuk memnjawab pertanyaan dampak tersebut, maka ada banyak kriteria dapat digunakan untuk menilai dampak sebagai akibat dari struktur insentif terhadap sumberdaya hutannya dan anggota peserta program, yaitu antara lain:
(1) Efisiensi dari bagaimana sumberdaya UPR digunakan: apakah sumberdaya sudah digunakan sesuai dengan potensi maksimumnya? Apakah ada penggunaan yang menimbulkan dampak sisa (waste?)
(2) Pemerataan penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya: apakah anda hak-hak istimewa yang diberikan kepada beberapa orang dibandingkan dengan anggota masyarakat lainnya dalam pengembangan UPR? Apakah aspek keadilan antar generasi dipertimbangkan? Apa yang menjadi basis penilaian dari diskriminasi dalam mengakses sumberdaya? Apakah sistem yang diterapkan cukup terbuka dan berkeadilan (Fair)?
(3) Sustensi (keberlanjutan) penggunaan sumberdaya: dapatkah pola penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya alam lahan yang digunakan tersebut berlanjut sampai jangka panjang? Apakah sistem regenerasi sumberdaya alamnya dapat dijamin? Dan
(4) Biodiversitas dan pengawetan jenis: apakah strategi UPR akan diarahkan pada model monokultur atau polikultur? Akan adakah jenis yang dominan dikembangkan dalam program?
Pada bagian analisis kelembagaan yang berkaitan dengan outcome program UPR, langkah penting yang harus dilakukan oleh profesional rimbawan bersama masyarakat adalah membangun KOMUNIKASI antar pihak (masyarakat, LSM, Pemerintah, Perguruan Tinggi). Artinya outcome harus didasarkan pada penilaian yang diberikan oleh anggota masyarakat / anggota kelompok peserta program UPR, dan mendapat dukungan dari pihak lainnya.
Dalam melaksanakan analisis kelembagaan, kharateristik di atas (sumberdaya, masyarakat, dan peraturan) jangan dibaca secara lepas-lepas, sendiri-sendiri, tetapi ketiganya harus dibaca dalam satu kesatuan sistem yang saling berintrekasi satu sama lain. Bahkan dari ketiganya menghasilkan proses analisis insentif, pilihan-pilihan, dan hasil manfaat (outcome). Interaksi ketiga kharakteristik tersebut dalam kontek strategi pengembangan UPR dapat dilihat dalam skema di bawah ini.
Skema Interaksi antara Kharakteristik Sumberdaya, Komunitas, Peraturan, Insentif, Pilihan, dan Hasil Manfaat
(sumber: modifikasi dari Thomson and Freudenberger, 1997)
3. Proses Analisis Kelembagaan UPR
Maksud dari analisis kelembagaan UPR adalah untuk mengetahui secara pasti model kelembagaan UPR seperti apa yang sesuai dengan bentuk-bentuk usaha (hutan rakyat, lebah madu, hutan adat, SHK, persutraan alam, dll), termasuk di dalamnya adalah model kemitraan yang mungkin dikembangkan. Oleh karena itu para pengambil keputusan baik di Departemen Kehutanan maupun di instansi kehutanan yang ada di daerah-daerah perlu memahami proses penetapan model kelembagaan UPR yang dilakukan secara partisipatif. Pedoman umum proses melakukan analisis kelembagaan UPR adalah sebagai berikut:
(1) Menetapkan dan mengidentifikasi masyarakat yang terlibat dalam program UPR
Dalam analisis kelembagaan ini kegiatan seleksi dan identifikasi siapa masyarakat yang terlibat dalam kegiatan UPR merupakan langkah awal yang harus dilakukan di dalam program UPR. Penetapan peserta program UPR hendaknya mempertimbang kan dan memprioritaskan masyarakat yang kurang mampu, sehingga tujuan peningkatan kesejahteraan dapat tercapai. Potensi dari masyarakat untuk mendukung UPR juga harus mendapat perhatian yang serius, bukan potensi yang didesain oleh orang yang berada di luar masyarakat.
(2) Membuat identifikasi awal masalah
Antara penetapan masyarakat peserta program UPR harus ada kaitan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh mereka. Dalam banyak kasus dapat diidentifikasi bahwa keberhasilan kegiatan pengembangan kelembagaan hanya dapat dicapai jika dimulai dengan memahami persoalan-persoalan yang ada dalam masyarakat tersebut, dan mencoba menarik masalah tersebut pada kontek yang lebih luas. Masalah umum dalam masyarakat biasanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, peningkatan produksi, dan apa yang akan diproduksi yang sesuai dengan permintaan pasar. Problematika dalam masyarakat ini dapat diselesaikan melalui kerja kolaboratif dengan pihak-pihak yang berada di luar komunitas masyarakat.
(3) Membuat identifikasi awal tentang Stakeholders yang berkaitan dengan Masalah
Masalah masyarakat sering kali hanya dirasakan oleh masyarakat saja, sehingga mereka tidak tahu harus berbuat apa untuk keluar dari masalah tersebut. Cara seperti ini sudah harus ditinggalkan. Pilihan yang dianggap baik saat ini adalah melakukan kajian terhadap institusi dan aktor mana saja yang terkait dengan permasalahan masyarakat untuk mengembangkan program UPR. Oleh karena itu pelibatan orang luar dalam program UPR juga ada baiknya, seperti pemerintah desa, staf Dinas Kehutanan, personal proyek, dan lain-lain.
(4) memantapkan proses kajian dan berkolaborasi dengan pemimpin masyarakat, aktivis lokal, stakeholders dan anggota masyarakat lainnya yang terkait
Kajian kelembagaan UPR dianjurkan menggunakan model Participatory Rural Appraisal (PRA), karena model ini dianggap sesuai untuk kerja kolaboratif, reflektif, dan mampu mengambil langkah penyelesaian masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Dalam aspek perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi, kelompok masyarakat menjadi aktor yang sangat penting, dan mereka harus ikut menetapkan model dan cara monitoring dan evaluasi di dalam program UPR.
4. Penutup
Uraian di atas merupakan dasar-dasar yang harus dipahami oleh pihak pemerintah, LSM, masyarakat, apabila ingin mengembangkan satu model kelembagaan UPR apapun bentuk usaha ekonomi yang akan diambil (hutan rakyat, usaha lebah madu, usaha ulat sutra, usaha cadangan pangan, dan lain-lain). Bentuk kelembagaan tidak dapat ditentukan oleh pemerintah pusat, tetapi harus dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan kepentingan dari tipikal UPR. Oleh karena itu dalam setiap pengembangan UPR, kelembagaannya dibangun dan ditetapkan atas dasar kajian yang dilakukan secara bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat, dan jika diperlukan dapat difasilitasi oleh LSM atau Perguruan Tinggi. Persoalan efisiensi sumberdaya dalam UPR, peningkatan kualitas SDM pengelola program UPR, dan keberlanjutan program UPR merupakan unsur kelembagaan yang sangat penting untuk diperhatikan. Semoga paper singkat ini bermanfaat bagi pelaksana program UPR di Jakarta dan di daerah-daerah.