PEMBENTUKAN KALUS EMBRIOZIGOTIK KAKAO (Theobroma cacao L.) DENGAN PENAMBAHAN ZAT PENGATUR TUMBUH GOLONGAN AUKSIN
LAPORAN TUGAS AKHIR
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan di
Bidang Konsentrasi Kultur Jaringan Tanaman Program Studi D-IV
Manajemen Agroindustri Jurusan Manajemen Agribisnis
Oleh :
I Wayan Suwardana
NIM K4030605
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2010
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
POTENSI PEMBENTUKAN KALUS EMBRYOZIGOTIK KAKAO (Theobroma cacao L.) DENGAN PENAMBAHAN ZAT PENGATUR TUMBUH GOLONGAN AUKSIN
Telah Diuji pada Tanggal…
Telah Dinyatakan Memenuhi Syarat
Tim Penguji:
Ketua (DPU)
Dyah Nuning Erawati, SP,MP
NIP.196905 0219940 3 2004
Anggota (DPA) Anggota (Penguji)
Ir. Damanhuri, MP Ir. Sugiarto
NIP.195902 081988 1 1001 NIP.19610220 19880 3 1001
Mengesahkan: Menyetujui:
Direktur Politeknik Negeri Jember, Ketua Jurusan Manajemen Agroindustri
Ir. H. Asmuji, MM Retno Sari Mahanani, SP., MM.
NIP. 1956022 219881 1 1001 NIP. 1970050 20000 3 2001
PERSEMBAHAN
Terima kasih penulis panjatkan kepada tuhan yang maha kuasa, yang member limpahan kesehatan, serta perlindungan sehingga laporan tugas akhir ini dapat terselesaikan,
Dengan terselesainya laporan tugas akhir yang berjudul potensi pembentukan kalus Embryozigotik kakao (Theobroma cacao L.) ini saya persembahkan kepada
1. Bapak (Iketut Japa), Ibu (Ni Kadek Weti) adikku (Ari Setiawan), anak-anak Rare Angon (Dika, Arya, Wisnu, dan kawan-kawan) serta semua sahabat seperjuanganku yang selalu setia menemaniku dalam suka dan duka.
2. Dosen dan teknisi Politeknik Negeri Jember dan VEDCA cianjur yang selama 4 tahun memberikan bimbingan, ilmu, dan pengalaman yang sangat berarti bagi penulis. Ibu Dyah Nuning Erawati dan bapak Ir. Damanhuri MP. yang telah bersedia membimbing dan member semangat disela-sela kegagalan yang penulis hadapi selama menyelesaikan penelitian ini.
3. Terima kasih kepada ( Eny Rosida) yang selalu ada dan member motivasi yang bermanfaat kepada penulis.
4. Teman-teman kultur jaringan angkatan 2006 (Agustina Anti, Cindy, Eko, Irpan, Juwita, Titin, Ria, Kakah, Mamat, Sepdian, Dan Yuni).kalian adalah sebagian dari jiwaku yang tak mungkin kuhilangkan dari benak dan imajinasiku. Aku akan selalu merindukan kalian kelak.
5. Almamater yayang sangat ku banggakan (POLITEKNIK NEGERI JEMBER) kau memang SIP dan (VEDCA CIANJUR) namamu terukir abadi dihatiku
MOTTO
Hidup memerlukan pengorbanan,,,, Pengorbanan memerlukan perjuangan,,,, Perjuangan memerlukan ketabahan,,,, ketabahan memerlukan keyakinan,,, Keyakinan pula yang akan menentukan Kabahagiaan,,,!!!
(Estate)
Kesusksesan lebih diukur dari rintangan yang berhasil diatasi seseorang saat berusaha untuk sukses dari pada posisi yang telah diraihnya dalam kehidupan,,,,,!!!
(Booker T. Washington)
Hidup ini adalah keyakinan dan perjuangan,,, dan perjuangan mukmin yang sejati tidak akan berhenti, kecuali kedua tapak kakinya teLah menginjak pintu Syurga,,,,
(Imam Ahmad Bin Hambal)
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir yang berjudul Pembentukan Kalus Embriozigotik Kakao (Theobroma cacao l.) Dengan Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin.
Penyusunan Laporan Tugas Akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Menteri Pendidikan Nasional yang telah memberikan dukungan pembiayaan melalui Program Beasiswa Unggulan hingga penyelesaian Tugas Akhir berdasarkan DIPA Sekertariat Jenderal Kementrian Pendidikan Nasional Tahun Anggaran 2006 sampai dengan tahun 2010
2. Direktur Politeknik Negeri Jember
3. Ketua Jurusan Manajemen Agribisnis
4. Ketua Program Studi Manajemen Agroindustri
5. Ketua Bidang Konsentrasi Kultur Jaringan Tanaman
6. Dyah Nuning Erawati, SP, MP, selaku dosen pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan dan masukannya.
7. Ir. Damanhuri, MP,selaku dosen pembimbing anggota yang telah memberikan bimbingan dan masukannya.
8. Ir. Sugiarto, MP, selaku penguji yang telah memberikan bimbingan dan masukannya.
9. Bapak dan Ibuku tercinta yang telah memberikan curahan kasih sayang, do’a dan dukungan baik materil maupun spiritual.
10. Teman-teman yang telah memberikan motivasi dan dukungan dalam penyusunan laporan ini.
11. Pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang membantu dalam penulisan tugas akhir ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan Tugas Akhir ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan dan kelengkapan laporan ini. Akhir kata semoga laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Jember, Agustus 2010
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
LEMBAR PENGESAHAN ii
PERSEMBAHAN iii
MOTTO iv
PRAKATA v
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR LAMPIRAN x
ABSTRACK xi
RINGKASAN xii
SURAT PERNYATAAN xiii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan Penelitian 3
1.2 Manfaat Penelitian 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1 Tanaman Kakao 4
2.2 Kultur Jaringan Tanaman Kakao 4
2.3 Media Dasar Kultur Jaringan Murashigge And Skhog 6
2.3.1 Keadaan Fisik Media 7
2,3,2 Asam amino 8
2.4 Embriozigotik 8
2.5 Zat pengatur tumbuh 9
2.5.1 2,4D 11
2.5.2 IBA 11
2.6 hipotesa 11
BAB 3 METODE PELAKSANAAN 12
3.1 Bahan dan Alat 12
3.1.1 Bahan 12
3.1.2 Alat 12
3.2 Metode Penelitian 12
3.3 Pelaksanaan 13
3.3.1 Persiapan Eksplan 13
3.3.2 Inisiasi 13
3.3.3 Inkubasi 13
3.4 Parameter Pengamatan 14
3.4.1 Kedinian Pembentukan Kalus 14
3.4.2 Morfologi Kalus 14
3.4.3 Persentase Kalus 14
3.4.4 Berat Kalus 14
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 15
4.1 Kedinian Pembentukan Kalus 15
4.2 Morfologi Kalus 17
4.3 Persentase Kalus 19
4.4 Berat Kalus 20
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 21
5.1 Kesimpulan 21
5.2 Saran 21
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap Kedinian Pembentukan Kalus Embryozigotik Kakao 15
Tabel 4.1.2 Rerata Kedinian Pembetukan Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin 15
Tabel 4.3.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap Persentase Pembentukan Kalus Embryozigotik Kakao 18
Tabel 4.3.2 Rerata Persentase Pembetukan Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin 18
Tabel 4.4.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap Berat Kalus Embryozigotik Kakao 19
Tabel 4.4.2 Rerata Berat Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin 20
DAFTAR LAMPIRAN
Analisis uji tanda morfologi kalus
Hasil data pengamatan
Hasil perhitungan manual jarak nyata duncan 5%
Hasil gambar kalus yang terbantuk pada setiap perlakuan
Jadwal pelaksanaan
I Wayan Suwardana 1), Callus formation Embryozigotik Cacao (Theobroma cacao l.) With the addition of plant growth regulator auxin Group Dyah Nuning Erawati 2), Damanhuri 3)
ABSTRACT
Cacao (Theobroma cacao L.) is one of the mainstays of plantation commodities important role for the national economy, especially as a provider of employment, sources of income and foreign exchange. Propagation is generally done in generative cocoa using seed and vegetatively using cuttings, grafting, and connect the pieces. How to use the seed multiplication there is weakness in the production of variations of each individual plant. With tissue culture techniques is expected that problems can be overcome in order to obtain clonal plant material in large quantities and in a relatively short time.
Research rancanganan prepared using completely randomized factorial with six levels are A1: Murashigge And Skoog medium + IBA 2ppm, A2: Media Murashigge And Skoog + IBA 3 ppm, A3: Murashigge And Skoog medium + IBA 4 ppm, A4: And Murashigge media Skoog D 2 + 2.4 ppm, A5: Murashigge And Skoog medium + 2.4 D 3 ppm, A6: Murashigge And Skoog medium + 2.4 ppm D 4. observational parameters of this study is kedinian callus (days), the morphology of callus, callus percentage (%), and callus weight (mg)
Keywords: Auxin, callus, cocoa, embryozigotik,
RINGKASAN
I WAYAN SUWARDANA. Potensi Pembentukan Kalus Embryozigotik Kakao Theobroma cacao L. Dengan Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Auksin. Komisi Pembimbing:DYAH NUNING ERAWATI, DAMANHURI
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Perbanyakan kakao umumnya dilakukan secara generatif menggunakan benih dan secara vegetatif menggunakan setek, okulasi, dan sambung pucuk. Cara perbanyakan menggunakan benih terdapat kelemahan yaitu variasi produksi dari setiap individu tanaman. Dengan teknik kultur jaringan diharapkan kendala itu dapat diatasi sehingga diperoleh bahan tanaman klonal dalam jumlah besar dan dalam waktu yang relatif singkat.
Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui pengaruh pemberian jenis auksin yang optimal dalam pertumbuhan kalus yang optimal embriozygotik kakao. Penelitian disusun dengan menggunakan rancanganan acak lengkap non faktorial dengan 6 level yaitu A1: media Murashigge And Skoog + IBA 2ppm, A2: Media Murashigge And Skoog + IBA 3 ppm, A3: media Murashigge And Skoog + IBA 4 ppm, A4: media Murashigge And Skoog + 2,4 D 2 ppm, A5: media Murashigge and Skoog + 2,4 D 3 ppm, A6: media Murashigge and Skoog + 2,4D 4 ppm. eksplan yang digunakan adalah embio yang diambil dari buah muda kakao yang berumur 90-120 hari.
Hasil pengamatan rerata kedinian berkalus eksplan, menunjukkan bahwa eksplan yang mampu membentuk kalus rata-rata tumbuh pada kisaran hari ke 9 – 12. Hanya ada satu perlakuan yang menunjukkan awal pembentukan kalus pada hari ke 14 yaitu perlakuan A4. Perkembangan yang optimal rata-rata ditemukan pada perlakuan media Murashigge and Skoog dengan penambahan IBA. Bahkan Pada hari ke 12 telah ditemukan eksplan yang telah 100% membentuk kalus, walaupun kalus belum dapat terlihat jelas. Setelah diuji lanjut dengan menggunakan Jarak Nyata Duncan (JND) 5%, dapat dilihat perakuan yang menunjukkan berbeda sangat nyata. Pertumbuhan paling cepat ditunjukkan oleh perlakuan A3 yaitu media Murashigge and Skoog dengan penambahan 4 ppm IBA.
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : I Wayan Suwardana
Nim : D4030605
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam Tugas Akhir Saya yang berjudul Pembentukan Kalus Embriozigotik Kakao (Theobroma cacao L.) Dengan Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin, merupakan gagasan dan hasil karya Saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing, dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun.
Semua data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang ditrbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam naskah dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Tugas Akhir ini.
Jember Agustus, 2010
IWayan Suwardana
NIMK4030605
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta (Pelita perkebunan, 2009).
Perbanyakan kakao umumnya dilakukan secara generatif menggunakan benih dan secara vegetatif menggunakan setek, okulasi, dan sambung pucuk. Cara perbanyakan menggunakan benih terdapat kelemahan yaitu variasi produksi dari setiap individu tanaman. Bahan tanam dapat diperoleh melalui setek cabang ortotrop tetapi jumlahnya terbatas. Pada okulasi dan sambung pucuk diperlukan 2 macam bahan tanam yaitu batang bawah dan batang atas. Untuk penyediaan bahan tanam dalam jumlah besar dijumpai kendala terbatasnya kedua macam bahan tersebut terutama batang atas, (Winarsih, 2009). Dengan teknik kultur jaringan diharapkan kendala itu dapat diatasi sehingga diperoleh bahan tanaman klonal dalam jumlah besar dan dalam waktu yang relatif singkat.
Kultur jaringan tanaman kakao telah dicoba dengan menggunakan beberapa jenis eksplan, antara lain pucuk tunas, kultur pucuk meristem, (Esen, 1977 dalam Utami, 2009). Hasil penelitian tanaman kakao melalui kultur jaringan menggunakan eksplan berupa embriozigotik muda (immature). Tehnik embriozigotik sangat menguntungkan bagi para pemulia tanaman kakao, terutama untuk perbanyakan klon-klon dalam waktu yang relatif singkat, (Oetami, 2009). Keberhasilan perbanyakan kakao melalui embriozigotik sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah umur fisiologi eksplan. Selain itu eksplan dapat tumbuh dengan baik pada kombinasi media dan zat pengatur tumbuh serta fitohormon yang terkandung didalam eksplan, (Oetami, 2009).
Eksplan yang dapat digunakan untuk embryogenesis somatik adalah bunga. selain bunga buah muda juga dapat dijadikan eksplan untuk embryozigotik. Selama ini dengan menggunakan embryozigotik telah dihasilkan planlet, (Pence dkk., 1979). Buah kakao yang digunakan sebagai eksplan adalah buah muda yang berumur 90-120 hari. Embryozigotik yang akan digunakan diisolasi dari bakal biji. Embrio yang dipilih adalah embrio yang berukuran 2-4 mm (Triastanto, 2005) Selain eksplan faktor yang mempengaruhi keberhasilan kultur embryozigotik adalah zat pengatur tumbuh yang digunakan. Eksplan yang ditumbuhkan dalam media yang tepat dapat beregenerasi melalui embryogenesis dan organogenesis (Gunawan, 1988). Dalam kultur jaringan dengan tujuan pengkalusan, zat pengatur tumbuh yang sering digunakan adalah golongan auksin yang dikombinasikan dengan sitokinin dengan konsentrasi rendah. Auksin yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah jenis IBA dan 2,4D. Peran fisiologis auksin adalah mendorong perpanjangan sel, pembelahan sel, diferensiasi jaringan xilem dan floem, (Sandra, 2010).
Menurut Gunawan, (1988), zat pengatur tumbuh berperan penting dalam menentukan arah pertumbuhan suatu kultur. Setiap genotip mempunyai respon yang berbeda dalam penyerapan zat pengatur tumbuh dalam media dan mempunyai kandungan zat pengatur tumbuh endogen yang berbeda. Hasil penelitian Oetami, (2002) menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara IBA dan klon yang diuji pada semua parameter pengamatan eksplan menghasilkan embrio. Respon setiap klon terhadap konsentrasi IBA yang berbeda yaitu 0, 1, 2, 3, dan 4 mg/l. Respon inisiasi kalus paling baik pada klon ICS 60 diperoleh dari perlakuan IBA 3 mg/l. Sedangkan menurut Fitrianti, (2006) Asam 2,4-D dan Kinetin merupakan zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan tumbuhan. Asam 2,4-D adalah salah satu auksin yang berperan dalam pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman.
1.2 Rumusan Masalah
Kendala yang dihadapi dalam kultur jaringan kakao selama ini adalah produksi, fenol dan lendir yang berlebih dari eksplan vegetatif, sehingga menghambat proses regenerasi (Ampomah, 1992 dalam Zulkarnain ). Hal serupa juga dikemukakan oleh Priyono, (1995) bahwa kandungan fenolik yang tinggi pada eksplan pucuk mengakibatkan terhambatnya proses regenerasi dan pembentukan kalus pada eksplan.
Teknik kultur jaringan kakao selama ini telah dikembangkan dengan berbagai metode misalnya kultur anter dengan kombinasi zat pengatur tumbuh akan tetapi belum berhasil menumbuhkan planlet. Berbagai metode kemudian dikembangkan dengan menggunakan zat pengatur tumbuh golongan auksin (Winarsih, 2009).
Menurut Fitrianti (2006) Zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan khususnya pada tujuan pengkalusan adalah auksin dan sitokinin. Zat pangatur tumbuh yang digolongkan auksin yang sering digunakan dalam kultur jaringan, seperti asam IBA, dan 2,4D yang cenderung menyebabkan terjadinya pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman. Oleh karena itu perlu diuji kembali peranan zat pengatur tumbuh dari golongan auksin terhadap pembentukan kalus yang optimal pada embryozigotik.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui pengaruh pemberian jenis auksin yang optimal dalam pertumbuhan kalus yang optimal embriozygotik kakao
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Menemukan konsentrasi golongan auksin yang tepat untuk pengkaluasan embryozigotik kakao
1.4.2 Dapat menjadi kajian ilmiah lebih lanjut dalam penelitian tanaman kakao melalui kultur jaringan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Kakao ( Theobroma cacao L. )
Kakao (Theobroma cacao L) merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon, di alam dapat mencapai ketinggian 10 m (Pelita perkebunan, 2009). kakao merupakan tanaman yang menumbuhkan bunga dari batang atau cabang, sehingga tanaman ini digolongkan kedalam kelompok Caulifloris, (siregar dkk., 2009).
Buah kakao berupa buni yang daging bijinya sangat lunak Pada waktu muda, biji menempel pada bagian kulit buah, dan apabila telah matang akan terlepas dari kulit buah, (Siregar dkk., 2009). Buah muda kakao (Cherelle) selama 3 bulan pertama akan menjadi Cherelle with, (Sunanto, 1992). Buah berbentuk bulat hingga memanjang dan memiliki Endospermia biji yang mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi, (Wikipedia, 2009).
2.2 Kultur Jaringan Kakao
Kultur Jaringan adalah teknik memperbanyak tanaman dengan memperbanyak jaringan mikro tanaman yang ditumbuhkan secara invitro menjadi tanaman yang sempurna dalam jumlah yang tidak terbatas. Yang menjadi dasar kultur jaringan ini adalah teori totipotensi sel yaitu setiap sel organ tanaman akan mampu tumbuh menjadi tanaman yang sempurna jika ditempatkan di lingkungan yang sesuai. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperbanyak tanaman dengan waktu yang lebih singkat (Gunawan, 2003).
Menurut Winarsih, (2009) sekitar satu minggu setelah dikulturkan pada media induksi, embryozigotik mulai membengkak, warnanya menjadi lebih putih dan bagian daun kotilnya menggulung. Seiring dengan membesarnya ukuran explant tersebut kalus mulai tumbuh pada permukaan hipokotil maupun daun kotil.
Kendala yang dihadapi dalam kultur jaringan kakao selama ini adalah produksi fenol dan lendir yang berlebih dari eksplan vegetatif, sehingga menghambat proses regenerasi kalus, (Ampomah, 1992 dalam Oetami 2009). Hal serupa juga dikemukakan oleh Priyono, (1995) bahwa kandungan fenolik yang tinggi pada eksplan pucuk mengakibatkan terhambatnya proses regenerasi eksplan.
Pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur jaringan sangat dipengaruhi oleh keadaan jaringan tanaman yang digunakan sebagai eksplan. Selain faktor genetis eksplan yang telah disebutkan di atas, kondisi eksplan yang mempengaruhi keberhasilan kultur adalah jenis eksplan, ukuran, umur dan fase fisiologis jaringan yang digunakan sebagai eksplan, (Erwin, 2009).
Menurut Erwin (2009), umur eksplan sangat berpengaruh terhadap kemampuan eksplan tersebut untuk tumbuh dan beregenerasi. Umumnya eksplan yang berasal dari jaringan tanaman yang masih muda (juvenil) lebih mudah tumbuh dan beregenerasi dibandingkan dengan jaringan yang telah terdiferensiasi lanjut. Jaringan muda umumnya memiliki sel-sel yang aktif membelah dengan dinding sel yang belum kompleks sehingga lebih mudah dimodifikasi dalam kultur dibandingkan jaringan tua. Oleh karena itu, inisiasi kultur biasanya dilakukan dengan menggunakan pucuk-pucuk muda, kuncup-kuncup muda, hipokotil, inflorescence yang belum dewasa, dan lain-lain.
Ukuran eksplan juga mempengaruhi keberhasilan kultur. Eksplan dengan ukuran kecil lebih mudah disterilisasi dan tidak membutuhkan ruang serta media yang banyak, namun kemampuannya untuk beregenerasi juga lebih kecil sehingga dibutuhkan media yang lebih kompleks untuk pertumbuhan dan regenerasinya. Sebaliknya semakin besar eksplan, maka semakin besar kemungkinannya untuk membawa penyakit dan makin sulit untuk diterilkan, membutuhkan ruang dan media kultur yang lebih banyak. Ukuran eskplan yang sesuai sangat tergantung dari jenis tanaman yang dikulturkan, teknik dan tujuan pengkulturannya (Erwin, 2009).
Selain organ bunga, eksplan yang dapat digunakan untuk embryogenesis somatik adalah embryiozigotik. Selama ini dengan menggunakan embryozigotik telah dihasilkan embriosomatik pence et al., 1979 dalam Oetami 2009) Buah kakao yang digunakan sebagai eksplan adalah buah muda yang berumur 90-120 hari. Buah muda yang akan digunakan sebagai bahan tanam disterilisasi dengan menggunakan alkohol 70% selama 10 menit. Embryozigotik yang akan digunakan diisolasi dari bakal biji. Embrio yang dipilih adlah embrio yang berukuran 2-4 mm (Triastanto, 2005)
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengkulturan suatu tanaman adalah lingkungan kultur. Lingkungan kultur merupakan hasil interaksi antara bahan tanaman, wadah kultur, dan lingkungan eksternal ruang kultur. Ruang kultur memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap suatu sistem kultur jaringan. Secara teoritis sejumlah faktor lingkungan yang berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan kultur adalah suhu, cahaya, karbondioksida dan kelembaban, (Zulkarnain, 2009). Menurut Read, (1990, dalam Zulkarnain, 2009) menyatakan bahwa suhu berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan sel dan jaringan, pembentukan organ tanaman, dan berkaitan erat dengan perkembangan tanaman yang berada dibawah pengaruh enzim. Selain itu peranan suhu lebih kritis pada kultur in vitro dibandingkan dengan kultur in vivo. Hal itu disebabkan oleh sifat jaringan yang peka dan kurangnya mekanisme perlindungan terhadap jaringan tersebut. Suhu optimum untuk terjadinya morfogenesis tidak selalu sama untuk setiap spesies tanaman. Menurut Winarsih, (2009) untuk dapat menginduksi kalus tanaman kakao klon Sca 6 membutuhkan suhu 20-240C winarsih dkk, (2002).
2.3 Media Dasar Kultur Jaringan Murashige Skoog
Media Murashige & Skoog (MS) merupakan perbaikan komposisi media Skoog, terutama kebutuhan garam anorganik yang mendukung pertumbuhan optimum pada kultur jaringan tembakau. Media MS mengandung 40 mM N dalam bentuk NO3 dan 29 mM N dalam bentuk NH4+. Kandungan N ini, lima kali lebih tinggi dari N total yang terdapat pada media Miller, 15 kali lebih tinggi dari media tembakau Hildebrant, dan 19 kali lebih tinggi dari media White. Kalium juga ditingkatkan sampai 20 mM, sedangkan P, 1.25 mM. Unsur makro lainnya konsentrasinya dinaikkan sedikit. Pertama kali unsur-unsur makro dalam media MS dibuat untuk kultur kalus tembakau, tetapi komposisi MS ini sudah umum digunakan untuk kultur jaringan jenis tanaman lain, (Erwin, 2009).
Media MS paling banyak digunakan untuk berbagai tujuan kultur pada tahun-tahun sesudah penemuan media MS, sehingga dikembangkan media-media lain berdasarkan media MS tersebut, antara lain media Lin & Staba, menggunakan media dengan setengah dari komposisi unsur makro MS, dan memodifikasi : 9 mM ammonium nitrat yang seharusnya 10mM, sedangkan KH2 PO4 yang dikurangi menjadi 0.5 Mm, tidak 0.625 mM. Larutan senyawa makro dari media Lin & Staba, kemudian digunakan oleh Halperin untuk penelitian embryogenesis kultur jaringan wortel dan juga digunakan oleh Bourgin & Nitsch (Gunawan, 1988).
Senyawa-senyawa di dalam media MS dapat terjadi pengendapan persenyawaan, ini terlihat jelas pada media cair. Kebanyakan dari persenyawaan yang mengendap adalah fosfat dan besi, kemudian dalam jumlah yang lebih sedikit adalah Ca, K, N, Zn dan Mn. Senyawa paling sedikit adalah senyawa yang mengandung unsur C, Mg, H, Si, Mo, S, Ca dan Co. Setelah tujuh hari dibiarkan, maka kira-kira 50% dari Fe dan 13% dari PO4+, mengendap, Dalton dkk., (1983 dalam Erwin, 2009). Pengendapan unsur-unsur tersebut mungkin tidak penting, karena unsur-unsur tersebut masih tersedia bagi jaringan tanaman dan pengaruh pengendapannya belum diketahui. Untuk mengatasi pengendapan Fe, Dalton dan grupnya menganjurkan supaya konsentrasi Fe dikurangi sampai 1/3 dengan EDTA yang tetap (Erwin, 2009).
Menurut Erwin, (2009) Perbedaan komposisi media, seperti jenis dan komposisi garam-garam anorganik, senyawa organik, zat pengatur tumbuh sangat mempengaruhi respon eksplan saat dikulturkan. Perbedaan komposisi dan bentuk fisik media biasanya sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan. Meskipun demikian, media yang telah diformulasikan tidak hanya berlaku untuk satu jenis eksplan dan tanaman saja. Beberapa jenis formulasi media bahkan digunakan secara umum untuk berbagai jenis eksplan dan varietas tanaman, seperti media MS.
2.3.1 Keadaan Fisik Media.
Media yang umum digunakan dalam kultur jaringan adalah medium padat, medium semi padat dan medium cair. Keadaan fisik media akan mempengaruhi pertumbuhan kultur, kecepatan pertumbuhan dan diferensiasinya. Keadaan fisik media ini mempengaruhi pertumbuhan antara lain karena efeknya terhadap osmolaritas larutan dalam media serta ketersediaan oksigen bagi pertumbuhan eksplan yang dikulturkan (Gunawan, 1998).
2.3.2 Asam Amino
Asam amino adalah salah satu zat organik yang biasanya ditambahkan dalam medium kultur jaringan asam amino selain sukrosa, zat pengatur tumbuh dan myo inositol, (Hendaryono, 1994) Asam amino memiliki peranan penting untuk pertumbuhan diferensasi kalus Hendaryono dan wijayanti, (1994). Asam amino merupakan sumber N organik yang dapat lebih cepat diserap oleh eksplan Gunawan, (1992). Asam amino memiliki N yang melekat pada posisi karbon-α, Gardner dkk., (2008). Menurut sampkin dkk.,(1970 dalam Gunawan (1994). dengan penambahan asam amino terjadi perpanjangan sel pada kultur sel Sycamore.
Beberapa jenis asam amino dinyatakan memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan eksplan. Seperti yang dilaporkan oleh liu, (1981 dalam Zulkarnain 2009) L-asparagine digunakan untuk merangsang regenerasi dalam kultur jaringan jagung. Hal serupa juga dinyatakan oleh Zulkarnain, (2009) L-glutamat adalah salah satu asam amino atau amida yang sering memberikan hasil positif bagi pertumbuhan kultur jaringan tanaman.
2.4 Embryozigotik
Embryozigotik adalah perkembangan embrio lengkap dari penyatuan gamet jantan dan gamet betina, Hertman dkk., (1990 dalam Zulkarnain 2009). Apabila dikembangkan dalam kultur jaringan maka akan mengalami perkembangan melalui tahapan oktan, globular, awal hati, hati, torpedo, dewasa.
Embrio yang digunakan dalam kultur embrio, tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan kalus semata, sebaliknya embrio tersebut diharapkan dapat menjaga integritas dan kemampuan tumbuh embrio menjadi tanaman lengkap. Menurut Gunawan, (1992) kultur embrio ditujukan untuk membantu perkecambahan embrio menjadi tanaman lengkap. Problema inkompatibel post zygotic yang diatasi dengan kultur embrio kadang-kadang dikenal dengan istilah embrio rescue walaupun keberhasilan menolong embrio masih tergolong sangat rendah, akan tetapi sudah mampu menghasilkan tanaman lengkap. Pada berbagai tingkat kematangan embrio dapat digunakan sebagai eksplan tergantung dari jenis tanaman dan tujuannya.
Eksplan merupakan faktor penting yang mempengeruhi keberhasilan kultur. Untuk memulai sistem kultur jaringan yang baru dengan spesies atau kultivar tanaman yang baru pula, sering kali menghendaki analisis yang sistemis terhadap potensi dari setiap tipe jaringan. Menurut Oetami, (2009) tiga aspek utama yang harus diperhatikan dalam memilih bahan eksplan adalah genotif, umur dan kondisi fisiologis tanaman induk.
Kondisi fisiologis eksplan memiliki peranan penting bagi keberhasilan teknik kultur jaringan. Menurut Gunawan (1988 dalam winarsih (2002) menyatakan bahwa faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan embrio somatik adalah tingkat perkembangan embryozigotik yang dikulturkan. Tingkat perkembangan eksplan (umur eksplan) mempengaruhi tipe serta morfogenesis
2.5 Zat Pengatur Tumbuh Auksin
Zat pengatur tumbuh pada tanaman (plant regulator) adalah senyawa organik bukan hara (nutrient), yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung (promote), manghambat (inhibit), dan dapat merubah fisiologi tumbuhan (Abidin, 1994). Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan dalam media sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan ke dalam media kultur sangat tergantung dari jenis eksplan yang dikulturkan dan tujuan pengkulturannya. Konsentrasi hormon pertumbuhan optimal yang ditambahkan ke dalam media tergantung pula dari eksplan yang dikulturkan serta kandungan hormon pertumbuhan endogen yang terdapat pada eksplan tersebut. Komposisi yang sesuai ini dapat diperkiraan percobaan-percobaan yang telah dilakukan sebelumnya dibarengi percobaan untuk mengetahui kompisisi hormon pertumbuhan yang sesuai dengan kebutuhan dan arah pertumbuan eksplan yang diinginkan, (Erwin, 2009).
Menurut Hendaryono, (1994) dan Fitrianti, (2006) dalam kultur in vitro terdapat 2 golongan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang sangat penting adalah sitokinin dan auksin. ZPT ini mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ. Interaksi dan perimbangan dalam zat pengatur tumbuh (ZPT) yang diberikan dalam media dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah suatu kultur. Auksin sintetik terdiri dari IAA, IBA, NAA dan herbisida yang bersifat auksin.
Sandra, (2010). Menyatakan bahwa peranan Auksin dalam aktifitas kultur jaringan sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus, menghambat kerja sitokinin membentuk klorofil dalam kalus, mendorong proses morfogenesis kalus, membentuk akar atau tunas, mendorong proses embriogenesis, dan auksin juga dapat mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman.
Auksin digunakan secara luas dalam kultur jaringan untuk merangsang pertumbuhan kalus, suspensi sel, dan organogenesis. Pemilihan jenis auksin dan konsentrasinya tergantung dari tipe pertumbuhan yang dikehendaki, level auksin endogen, kemampuan auksin mensintesis auksin dan zat pengatur tumbuh lain yang ditambahkan, (Sandra, 2010).
Santoso dan Nursandi, (2001) menambahkan auksin sebagai zat pengatur tumbuh berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman yaitu :
a. Auksin mempengaruhi protein membran sehingga sintesis protein dan asam nukleat dapat lebih cepat
b. uksin dapat mempengaruhi pembentukan akar baru, pembelahan sel dan pembentukan tunas
Auksin alamiah yang sering terdapat pada tumbuhan adalah IAA (Asam 3-indol Asetat). IAA disintesis dari triptopan pada bagian tanaman tertentu yaitu primordial daun, daun muda dan biji yang sedang berkembang. Sedangkan auksin sintetik yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah IBA (Asam – Indol Butirat) dan 2,4 D (2,4Diklorofenoksiasetat).
2.5.1 2,4 D (2,4-Diklorofenoksiasetat).
Menurut Ariwahono, (2010) 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) adalah herbisida sistemik yang umum untuk digunakan dalam mengontrol gulma yang tumbuh dalam tanaman pertanian. Selain itu, 2,4-D dikenal sebagai salah satu jenis auksin sintetik. 2,4-D merupakan jenis auksin sintetis yang sering digunakan dalam kultur jaringan, (Abidin, 1982). Dalam konsentrasi rendah 2,4-D dapat berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh yang mampu merangsang dan menggiatkan pertumbuhan tanaman. Hal serupa juga diungkapkan oleh Fitrianti, (2006) Asam 2,4-D adalah salah satu auksin yang berperan dalam pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman. 2,4 Dmemiliki Rantai yang mempunyai gugus karboksil dipisahkan oleh karbon atau karbon dan oksigen akan memberikan aktivitas yang optimal (Abidin, 1985).
Sebagai salah satu senyawa yang masuk ke dalam grup hormon auksin, maka 2,4-D dapat bekerja maksimum untuk pembelahan dan pembesaran sel serta pembentukan akar stek bila diberikan dalam konsentrasi rendah. Herbisida jenis 2,4 -D ini tergolong ideal, karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya : relatif murah, tidak meninggalkan racun pada hewan, (Manurung, 2010).
2.5.2 IBA (Asam 3 – Indol Butirat)
3-indol asam butirat (-indol-3-butanoat asam 1H, IBA) adalah Kristal putih padat, dengan rumus molekul C 12 H 13 NO 2. IBA merupakan salah satu hormon tanaman dalam golongan auksin yang sering digunakan pada pengakaran tanaman hortikultura. IBA meleleh pada 125 ° C dan tekanan atmosfir 15 psi dan terurai sebelum dipanaskan. Untuk dapat menggunakan, harus dilarutkan dalam alkohol 75%, kemudian dilarutkan kembali dengan air steril, karena IBA tidak dapat dilarutkan dengan air. Jenis auksin ini merupakan auksin sintetis, karena terbuan dari daun dan biji jagung, (William, 1999).
2.6 Hipotesa
Konsentrasi zat pengetur tumbuh golongan auksin memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan kalus embryozigotik kakao.
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Politeknik Negeri Jember di Jember, penelitian akan dimulai pada bulan Januari 2010 sampai dengan Juli 2010.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah : Media B5 ((NH4)2SO4, KNO3, CaCl2 . 2H2O, MgSO4 . 7H2O, NaH2PO4 . H2O, FeSO4 . 7H2O, Na2EDTA, MnSO4 . H2O, CoCl2 . 6H2O Myi-inositol, Niacin, Pyridoxine-HCl, Thiamine-HCl, Sucrosa, ZnSO2 . 7H2O, H3BO3, KI, Na2MoO4, 2H2O, CuSO4.5H2O), zat pengatur tumbuh (IBA), 2,4 D (2,4-Diklorofenoksiasetat), eksplan (buah kakao yang berumur 90-120 hari), Spiritus, Korek api, dan Alkohol, almunium foil dan aquades steril.
3.2.2 Alat
Alat-alat yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian ini adalah : pipet, Erlenmeyer, gelas ukur, autoklaf, botol kultur, Pinset steril, Pisau steril, laminar, lampu Bunsen, Petridis, pipet, Erlenmeyer, gelas ukur, autoklaf, botol kultur.
3.3 Metode Penelitian
Penelitian disusun menurut rancangan acak lengkap (RAL) faktor tunggal dengan 6 perlakuan pemberian zat pengatur tumbuh golongan auksin (A) dan diulang sebanyak 5 kali. Perlakuan penelitian meliputi :
A1 = MS + IBA 2 ppm
A2 = MS + IBA 3 ppm
A3 = MS + IBA 4 ppm
A4 = MS + 2,4D 2 ppm
A5 = MS + 2,4D 3 ppm
A6 = MS + 2,4D 4 ppm
3.4 Pelaksanaan
3.4.1 Persiapan eksplan
Eksplan yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari buah kakao yang berumur 90 – 120 hari. Buah yang akan digunakan untuk mengantisipasi adanya serangan hama atau pathogen. Satu minggu sebelum inisiasi dilakukan penyemprotan dengan fungisida dan bakterisida pada konsentrasi 1 %.
3.4.2 Persiapan media
Media yang digunakan adalah media B5 yang ditambahkan dengan zat pengatur tumbuh IBA dan 2,4D sesuai dengan perlakuan. Media dituangkan kedalam botol kultur. Setiap botol diisi 20 ml media. Kemudian media disterilkan selama 20 menit dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 121oC dan tekanan 15 Psi.
3.4.3 Inisiasi
Sebelum melakukan kegiatan inisiasi, buah muda yang akan diinisiasi disteril terlebih dahulu. Buah muda dibersihkan dengan menggunakan detergen dan dicuci dengan air hingga bersih. Kemudian kupas kulit buah muda kakao dengan menggunakan pisau. Kemudian bawa buah muda yang telah dikupas kedalam laminar. Cuci eksplan dengan aquadest steril kemudian letakkan eksplan diatas Petridis. Siapkan alat-alat dan bahan yang dibutuhkan dalam inisiasi.
Celupkan eksplan kedalam alcohol 90 % kemudian dibakar (langkah ini diulang sebanyak 2-3 kali). Setelah api padam, ambil eksplan dengan menggunakan pinset. Congkel eksplan pada bagian biji eksplan, kemudian ambil embrio dengan menggunakan pisau. Bersihkan lendir yang menempel pada embrio. Tanam embrio pada media yang telah disiapkan. Kemudian tutup media dengan menggunakan almunium foil.
3.4.4 Inkubasi
Setelah eksplan selesai diinisiasikan pada media, eksplan diinkubasikan diruangan gelap selama 8 minggu. Ruang inkubasi harus dalam keadaan gelap selama 24 jam dengan suhu 230C.
3.5 Parameter Pengamatan
3.5.1 Kedinian pembentukan kalus (hari)
Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati perkembangan eksplan yang mulai menunjukkan tanda-tanda membentuk kalus. Pengamatan bertujuan untuk mengetahui kecepatan berkalus eksplan pada tiap-tiap perlakuan. Pengamatan dilakukan selama 12 hari dihitung dari 1 hari setelah tanam. Eksplan yang menunjukkan tanda-tanda membentuk kalus diberinilai sesuai rentang hari setelah tanam.
3.5.2 Persentase pembentukan kalus (%)
Pengamatan dilakukan dengan cara membandingkan antara bagian eksplan yang membentuk kalus dengan keseluruhan luas eksplan. Pengamatan bertujuan untuk mengetahui berapa persen kalus yang mampu dibentuk oleh tiap-tiap perlakuan. Pengamatan dilakukan pada minggu ke 8 setalah tanam
3.5.3 Morfologi kalus yang dihasilkan
Pengamatan bertujuan untuk mengetahui jenis kalus yang dihasilkan pada tiap-tiap perlakuan. pengamatan dilaksanakan dengan cara mengamati kekompakan dan keremahan kalus yang dihasilkan pada tiap-tiap perlakuan. Morfologi kalus dapat diamati dengan cara melihat bentuk butiran kalus yang terbentuk. Pengamatan ini lakukan pada minggu ke 8 setelah tanam. Setelah memperoleh hasil pengamatan, maka data diuji dengan menggunakan metode uji tanda.
3.5.4 Berat Kalus (mg)
Pengamatan bertujuan untuk mengetahui berat kalus yang dihasilkan dalam tiap-tiap perlakuan. pengamatan dilakukan dengan cara menimbang eksplan dengan menggunakan timbangan digital. Pengamatan dilakukan pada minggu ke 8 setelah tanam.
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kedinian Pembentukan Kalus
Kedinian pembentukan kalus adalah kemampuan eksplan atau kecepatan eksplan dalam membentuk kalus. Kedinian pembentukan kalus dihitung berdasarkan kecepatan eksplan menunjukkan tanda-tanda membehtuk kalus.
Tabel 4..1.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap Kedinian Pembentukan Kalus Embryozigotik Kakao
SK db JK KT Fhitung Ftabel
0.01 0.05
PERLAKUAN 5 322.30 64.46 3.03 * 3.90 2.62
GALLAT 24 510.40 21.27
TOTAL 29 832.70
KK 39, 66 %
Keterangan : * = Berbeda Nyata
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Tabel 4.1.1), dari 6 perlakuan yang diujikan menunjukkan nilai F hitung lebih besar dari nilai F tabel 5 % dan lebih kecil dari F hitung 1 %. Dengan koefisien keragaman 39,66 %.. Hal ini menunjukkan bahwa zat pengetur tumbuh yang diberikan pada media MS dengan konsentrasi dan jenis yang berbeda menunjukkan hasil berbeda nyata terhadap kedinian pembentukan kalus embryozigotik kakao.
Tabel 4.1.2 Rerata Kedinian Pembetukan Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin
PERLAKUAN A3 A1 A2 A5 A6 A4 RERATA
A3 0.00 10.20 a
A1 0.80 0.00 11.00 ab
A2 1.20 0.40 0.00 11.40 ab
A5 1.46 0.66 0.26 0.00 11.66 ab
A6 1.80 1.00 0.60 0.33 0.00 12.00 ab
A4 3.30 2.50 2.10 1.83 1.50 0.00 13.50 b
P 2 3 4 5 6
SRR 2.92 3.07 3.15 3.22 3.28
RP
SD = 2.06
Keterangan : nilai yang dilanjutkan dengan huruf yang sama menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut uji JND 5%
Berdasarkan hasil analisis rerata dengan menggunakan uji jarak nyata Duncan 5 % terlihat bahwa Hasil pengamatan rerata kedinian berkalus eksplan, menunjukkan bahwa eksplan yang mampu membentuk kalus rata-rata tumbuh pada kisaran hari ke 9 – 12. Kalus embryozigotik kakao akan mulai terbentuk antara hari ke 9-12, akan tetapi kalus belum terlihat jelas, (Oetami, 2009).
Setelah diuji lanjut dengan menggunakan Jarak Nyata Duncan (JND) 5%, dapat dilihat perakuan yang menunjukkan berbeda sangat nyata. Pembentukan kalus paling cepat ditunjukkan oleh perlakuan A3 yaitu media MS dengan penambahan 4 ppm IBA.. Respon paling lambat ditunjukkan oleh perlakuan A4 media MS dengan penambahan 2 ppm 2,4D.
Terhambatnya pembentukan kalus pada perlakuan dengan penambahan 2,4 D diakibatkan oleh ketidak mampuan eksplan menyerap unsur hara pada media, terutama zat pengatur tumbuh yang tersedia.selain itu karena konsentrasi zat pengatur tumbuh yang tinggi sehingga dan menghambatpertumbuhan eksplan. Komposisi 2,4 D yang tinggi dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan eksplan, karena 2,4 D dibutuhkan dalam jumlah kecil. Menurut Sandra, (2009) pada konsentrasi tinggi 2,4D dapat berubah peranan menjadi herbisida.
4.2 Morfologi Kalus
Morfologi kalus adalah bentuk fisik kalus yang dihasilkan dalam setiap perlakuan, yang diamati berdasarkan bentuk, warna, dan tekstur kalus. Untuk mengetahui perbedaan kalus dalam tiap-tiap perlakuan, harus dilakukan pengujian dengan menggunakan uji tanda. Skor atau nilai diberikan berdasarkan warna, tekstur, dan bentuk kalus.
Berdasarkan hasil analisis uji tanda morfologi kalus, pada tabel 4.2.1 menunjukkan bahwa pada tiap-tiap perlakuan dari 6 perlakuan yang diujikan menyatakan berbeda tidak nyata. Walaupun jenis kalus yang dihasilkan berbeda-beda akan tetap hasil scoring tidak menunjukkan nilai yang berbeda nyata.
Berdasarkan hasil identifikasi ciri-ciri kalus, setiap perlakuan menghasilkan kalus dengan ciri-ciri yang berbeda-beda. Pada perlakuan A1 kalus yang dihasilkan terlihat berwarna kuning kehijauan dan bertekstur kompak, sedangkan kalus pada perlakuan A4, A5 dan A6 cenderung berwarna putih dan bertekstur semi remah. Berdasarkan uji tanda, hasil analisis menunjukkan bahwa dari 6 perlakuan yang diujikan tidak ada yang menunjukkan berbeda nyata.
Berdasarkan ciri-ciri kalus yang terbentuk, setiap perlakuan menunjukkan pembentukan kalus yang arah pertumbuhannya berbeda-beda. Kalus yang terbentuk pada perlakuan IBA rata-rata menunjukkan ciri-ciri pembentukan embrio. Menurut Winarsih, (2002) kalus yang terbentuk selanjutnya mengalami pendewasaan yang dicirikan oleh bertambahnya volume kalus dan warna kalus yang semula berwarna putih menjadi kuning krem hingga kecoklatan. Sedangkan pada perlakuan 2,4D kalus yang terbentuk masih berwarna putih dan ukuran kalus tidak bertambah. Hal ini dapat diartikan bahwa kalus yang dihasilkan tidak berpotensi menjadi embrio.
4.3 Persentase pembentukan Kalus
Persentase kalus dihitung dari total berat akhir kalus dari seluruh ulangan perlakuan dikurangi berat kalus yang dihasilkan. Peda pengamatan ini kalus yang terbentuk sudah dapat dilihat warna, tekstur dan bentuknya.
Tabel 4.3.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap persentase Pembentukan Kalus Embryozigotik Kakao
SK
db
JK
KT
F hitung
Ftabel
0.01 0.05
PERLAKUAN 5 26.37 5.27 3.53 * 3.89 2.62
GALLAT 24 35.84 1.49
TOTAL 29 62.21
KK 5,05%
Keterangan : * = Berbeda Nyata
Berdasarkan hasil sidik ragam pada tabel 4.3.1 setiap perlakuan menunjukkan respon berbeda nyata, dengan koefisien keragaman 5.05 %. Pada pengamatan ini kalus yang terbentuk sudah dapat dilihat bentu, warna dan ukrannya.
Tabel 4.3.2 Rerata persentase Pembetukan Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin
Perlakuan Rerata
A1 0 5.18 a
A5 0.69 0 4.48 ab
A3 0.76 0.06 0 4.41 b
A2 1.30 0.60 0.53 0 3.87 bc
A4 1.91 1.21 1.14 0.60 0 3.26 c
A6 2.21 1.51 1.44 0.90 0.30 0 2.96 c
Sd 1.12
BNT 5 % 1.59
Keterangan : Nilai yang dilanjutkan dengan huruf sama menunjukkan berbeda tidak nyata berdasarkan uji BNT 5 % hasil transformasi
Pada minggu ke 8 semua perlakuan menunjukkan pengkalusan. Setiap perlakuan menghasilkan kalus dengan persentase yang berbeda-beda. Kalus yang dihasilkan tiap-tiap perlakuan berkisar antara 2 – 6%. persentase tertinggi ditunjukkan pada perlakuan A1 yaitu 5, 18 % dan persentase berkalus ter rendah ditunjukkan pada perlakuan A6 yaitu 2,96%. Berdasarkan notasi, perlakuan A6 berbedanyata dengan perlakuan A1 dan berbeda tidak nyata dengan perlakuan A4 dan A5.
Berdasarkan hasil analisis rerata dengan menggunakan BNT 5 % pada tabel 4.3.2 menunjukkan bahwa perlakuan yang menghasilkan berat kalus tertinggi ditunjukkan pada perlakuan media MS dengan penambahan 2 ppm IBA. Bila dikaitkan dengan kedinian membentuk kalus, perlakuan A3 memiliki tingkat kedinian berkalus paling cepat diantara perlakuan lainnya. Dapat dilihat pada tabel 4.1.2, A3 berbeda nyata dengan perlakuan A1 yang menunjukkan hasil persentase kalus paling tinggi. Hal ini memnunjukkan bahwa perlakuan A3 memiliki perkembangan lebih lambat dibandingkan dengan perlakuan A1.
4.4 Berat Kalus
Berat kalus dihitung dari hasil penimbangan kalus yang terbentuk pada setiap perlakuan. Kalus yang telah terbantuk dipisahkan dengan bagian eksplan yang belum membentuk kalus, kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan digital.
Tabel 4.4.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap Berat Kalus Embryozigotik Kakao
SK db JK KT F hitung Ftabel
0.01 0.05
Perlakuan 5 37.73 7.55 3.93 ** 3.90 2.62
Galat 24 46.12 1.92
Total 29 83.85
KK = 34,23 %
Keterangan : ** = Berbeda Sangat Nyata
Berdasarkan analisis sidik ragam pada tabel 4.4.1. menunjukkan bahwa nilai F hitung lebih besar dari nilai F tabel 1 %, dengan koefisien keragaman 34,23 %.. Hal ini menyatakan bahwa perlakuan yang diujikan menunjukkan berbeda sangat nyata. Dari hasil tabel diatas maka perlu diuji lanjut dengan menggunakan metode JND 1 %.
Setiap eksplan yang pada hari ke 9-13 mengalami pembentukan kalus, pada minggu ke 8 kalus yang terbentuk sangat terlihat jelas. Walaupun setiap perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada setiap perlakuan, akan tetapi setiap eksplan yang diinisiasi mampu memberi respon yang positif terhadap perlakuan yang diujikan, artinya setiap eksplan yang diinisiasi pada perlakuan yang diujikan mempu membentuk kalus.
Tabel 4.4.2 Rerata Berat Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin
Perlakuan rerata A4 A5 A6 A2 A3 A1
A4 2.36 0 a
A5 2.94 0.57 0 ab
A6 3.75 1.38 0.81 0 ab
A2 4.73 2.37 1.79 0.98 0 ab
A3 5.11 2.74 2.17 1.35 0.37 0 b
A1 5.38 3.02 2.44 1.63 0.65 0.28 0 b
JND 1 % 2 3 4 5 6
SRR 3.96 4.14 4.24 4.33 4.39
RP 2.61 2.73 2.79 2.85 2.89
Sd 0.66
Keterangan Nilai yang dilanjutkan dengan angka yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata berdasarkan uji JND 1 %
Berdasar hasil analisis rerata dengan uji lanjut jarak nyata duncan (DNJ) 1% perlakuan yang menghasilkan berat kalus yang paling tinggi adalah perlakuan A1 dan berbeda nyata dengan perlakuan A4. Kedua perlakuan berbeda tidak nyata dengan perlakuan A2, A3, A5 dan A6.
Perkembangan pada minggu ke 8 berdasarkan analisis sidik ragam, setiap perlakuan mengalami perkembangan yang positif.. setiap eksplan yang pada hari ke9 -13 membentuk kalus, pada pengamatan ini kalus yang dihasilkan sudah dapat terlihat dengan jelas bentuk, warna, dan teksturnya. Walaupun setiap perlakuan menunjukkan berbeda nyata, akan tetapi setiap eksplan yang diinisiasi pada setiap perlakuan mampu menghasilkan kalus.
IBA berperan penting dalam pembentukan kalus kakao, hal ini tampak dari eksplan yang ditanam pada media MS dengan penambahan IBA dapat menghasilkan berat kalus yang paling tinggi dibandingkan dengan eksplan yang ditanam pada media MS dengan penambahan 2,4D. menurut Pierik, (1982, dalam Winarsih 2002) bahwa IBA merupakan factor paling penting yang berperan dalam proses embryogenesis somatik. Selain itu IBA juga dapat mempengaruhi metabolisme RNA dan Proteinmelalui transaksi molekul RNA, (Gunawan, 1988 dalam Winarsih 2002), sehingga dapat memacu pertumbuhan kalus.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Perlakuan IBA memiliki pengaruh pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan 2,4 D
2. Persentase kalus tertinggi ditunjukkan pada perlakuan media MS dengan penambahan 2 ppm IBA
3. Dengan penambahan 4 ppm IBA dapat menghasilkan berat kalus yang maksimal dibandingkan perlakuan lainnya
5.2 saran
1. Dalam mengkulturkan embriozigotik perlu diperhatikan kondisi lingkunga diruang inkubasi
2. Perlu diuji kembali klon-klon kakao untuk memperoleh hasil yang maksimal
3. Dalam media perlakuak perlu ditambahkan asam amino untuk mempercepat perkembengan sel.
Daftar Pustaka
Ariwahono.2010:Uji Biologi 2, 4-D.http//www.esaflora.com. diakses pada 28 juli 2010
Abidin, Z. 1982. Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh. Penerbit Angkasa: Bandung.
Erwin, L. 2009: Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tanaman Dalam Kultur Jaringan.Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Pertanian Cianjur. Cianjur.
Fitrianti, A. 2006:Efektivitas Asam 2,4-Diklorofenoksiasetat (2,4-D) Dan Kinetin Pada Medium Ms Dalam Induksi Kalus Sambiloto Dengan Eksplan Potongan Daun. Skripsi.Universitas Negeri Semarang.Semarang.
Gardner.F. P. dkk. 2008; Fisiologi Tanaman Budidaya.Jakarta.Pers Universitas Indonesia
Gunawan, L.W.1988:Teknik Kultur Jaringan.Bogor.Institut Pertanian Bogor
Hendaryono, D.P. dan Ari Wijayanti.1994:Pengenalan Dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetative Modern.Yogyakarta.Kanisius.
Manurung L. 2007: Pengaruh Auksin (2,4-D) dan Sitokinin (BAP) Dalam Kultur In Vitro Buah Makasar (Brucea Javanica L. Merr.) Bogor. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
Oetami, R. F. 2009.Embriosomatik Primer Pada Bagian Organ Bunga Kakao (Theobroma cacao L.). Jember. Universitas Jember
Pelita Perkebunan.2009:Kembangkan Kultur Jaringan Atasi Bibit Kakao.Diakses 30 Mei 2010.http://www.google.com
Pence D. B. and C. L. Tan 2002:Development Of An In Vitro Regeneration System For Theobroma cacao From Mature Tissues. Lembaga Koko Malaysia. Sabah, Malaysia
Prijanti, A. 2008: Metabolism Asam Amino.Universitas Indonesia. Jakarta
Sandra, E.2010: Peranan Zat Pengatur Tumbuh Dalam Kultur Jaringan. Jakarta.Esha Flora
Santoso, J. dan T. Wardiyati.2009;Regenerasi Embrio Zigotik Dan Transformasi Genetik Kakao Melalui Agrobacterium tumefaciens.Malang.Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang
Santoso, U. dan F. Nursandi. 2003: Kultur Jaringan Tanaman. Malang. Pusbitan UMM.
Siregar, T.H.S. dkk. 2009;Cokelat. Jakarta.Penebar swadaya
Trisantoso, O. F. 2006; Identifikasi homolog TcAGL-15 untuk penanda embriogenesis tanaman kakao melalui pendekatan bioinformatika. Bogor. Institut pertanian bogor.
Wattimena, G. A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Bogor: PAU IPB.
Wikipedia.2009: Prospek Perkebunan Kakao Indonesia.. http://www.google.com. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2009
Wikipedia.2009:Bibit Kakao Somatic Embryogenesis. http://www.google.com. diakses pada tanggal 23 Oktober 2009.
Wikipedia.2009:Mengenal Tenologi Somatik Embriogenesis Kakao.http://www.google.com Diakses 30 Mei 2010.
Winarsih. S. 2009:Embriogenesis Somatik dan Regenerasi dari Eksplan Embrio Zigotik Kakao (Theobroma cacao L.)..http//www.google.com. diakses 28 November 2009.
Yusnita. 2003. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Zulkarnain. 2009: Solusi Perbanyakan Tanaman Budidaya.Bumi Aksara. Jakarta
Minggu, 29 Agustus 2010
Jumat, 06 Agustus 2010
potensi pembentukan kalus embryozigotik kakao dengan penambahan zat pengatur tumbuh golongan auksin
PEMBENTUKAN KALUS EMBRIOZIGOTIK KAKAO (Theobroma cacao L.) DENGAN PENAMBAHAN ZAT PENGATUR TUMBUH GOLONGAN AUKSIN
LAPORAN TUGAS AKHIR
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Menyelesaikan Pendidikan Program Studi Kultur Jaringan Tanaman
Jurusan Manajemen Agribisnis
Oleh :
I Wayan Suwardana
NIM K4030605
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2010
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : I Wayan Suwardana
Nim : D4030605
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam Tugas Akhir Saya yang berjudul Pembentukan Kalus Embriozigotik Kakao (Theobroma cacao L.) Dengan Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin, merupakan gagasan dan hasil karya Saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing, dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun
Semua data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang ditrbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam naskah dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Tugas Akhir ini.
Jember,………… 2010
I Wayan Suwardana
NIM D4030613
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI NAA DAN BAP TERHADAP PEMBENTUKAN KALUS MELON (Cucumis melo L.) SECARA IN VITRO
Telah Diuji pada Tanggal…
Telah Dinyatakan Memenuhi Syarat
Tim Penguji:
Ketua
Ir. Sugiarto
NIP.
Anggota, Anggota,
Dyah Nuning Erawati, SP,MP Ir. Damanhuri, MP
NIP.195902081988111001 NIP.1960502199432004
Mengesahkan: Menyetujui:
Direktur Politeknik Negeri Jember, Ketua Jurusan Manajemen Agroindustri
Ir. H. Asmuji, MM Wenny Dhamayanthi, SE, M. Si
NIP. 131 804 030 NIP. 197108041998022001
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir yang berjudul Pembentukan Kalus Embriozigotik Kakao (Theobroma cacao l.) Dengan Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin
Penyusunan Laporan Tugas Akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Menteri Pendidikan Nasional yang telah memberikan dukungan pembiayaan melalui Program Beasiswa Unggulan hingga penyelesaian Tugas Akhir berdasarkan DIPA Sekertariat Jenderal Kementrian Pendidikan Nasional Tahun Anggaran 2006 sampai dengan tahun 2010.
2. Direktur Politeknik Negeri Jember
3. Ketua Jurusan Manajemen Agribisnis
4. Ketua Program Studi Manajemen Agroindustri
5. Ketua Bidang Konsentrasi Kultur Jaringan Tanaman
6. Dyah Nuning Erawati, SP, MP, selaku dosen pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan dan masukannya.
7. Ir. Damanhuri, MP,selaku dosen pembimbing anggota yang telah memberikan bimbingan dan masukannya.
8. Ir. Sugiarto, MP, selaku penguji yang telah memberikan bimbingan dan masukannya.
9. Bapak dan Ibuku tercinta yang telah memberikan curahan kasih sayang, do’a dan dukungan baik materil maupun spiritual.
10. Teman-teman yang telah memberikan motivasi dan dukungan dalam penyusunan laporan ini.
11. Pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang membantu dalam penulisan tugas akhir ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan Tugas Akhir ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan dan kelengkapan laporan ini. Akhir kata semoga laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Jember, Agustus 2010
Penulis
Daftar isi
HALAMAN JUDUL i
SURAT PERNYATAAN ii
LEMBAR PENGESAHAN iii
MOTTO iv
PERSEMBAHAN v
ABSTRACK vi
RINGKASAN vii
Daftar Isi viii
Daftar Tabel x
Daftar Gambar xi
Daftar Lampiran xii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan Penelitian 3
1.2 Manfaat Penelitian 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1 Tanaman Kakao 4
2.2 Kultur Jaringan Tanaman Kakao 4
2.3 Media Dasar Kultur Jaringan Murashigge And Skhog 6
2.3.1 Keadaan Fisik Media 8
2,3,2 Asam amino 8
2.4 Embriozigotik 8
2.5 Zat pengatur tumbuh 9
2.5.1 2,4D 11
2.5.2 IBA 11
2.6 hipotesa 12
BAB 3 METODE PELAKSANAAN 13
3.1 Bahan dan Alat 13
3.1.1 Bahan 13
3.1.2 Alat 13
3.2 Metode Penelitian 13
3.3 Pelaksanaan 14
3.3.1 Persiapan Eksplan 14
3.3.2 Inisiasi 14
3.3.3 Inkubasi 14
3.4 Parameter Pengamatan 15
3.4.1 Kedinian Pembentukan Kalus 15
3.4.2 Morfologi Kalus 15
3.4.3 Persentase Kalus 15
3.4.4 Berat Kalus 15
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 16
4.1 Kedinian Pembentukan Kalus 16
4.2 Morfologi Kalus 18
4.3 Persentase Kalus 20
4.4 Berat Kalus 21
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 22
5.1 Kesimpulan 22
5.2 Saran 22
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta (Pelita perkebunan, 2009).
Perbanyakan kakao umumnya dilakukan secara generatif menggunakan benih dan secara vegetatif menggunakan setek, okulasi, dan sambung pucuk. Cara perbanyakan menggunakan benih terdapat kelemahan yaitu variasi produksi dari setiap individu tanaman. Bahan tanam dapat diperoleh melalui setek cabang ortotrop tetapi jumlahnya terbatas. Pada okulasi dan sambung pucuk diperlukan 2 macam bahan tanam yaitu batang bawah dan batang atas. Untuk penyediaan bahan tanam dalam jumlah besar dijumpai kendala terbatasnya kedua macam bahan tersebut terutama batang atas, (Winarsih, 2009). Dengan teknik kultur jaringan diharapkan kendala itu dapat diatasi sehingga diperoleh bahan tanaman klonal dalam jumlah besar dan dalam waktu yang relatif singkat.
Kultur jaringan tanaman kakao telah dicoba dengan menggunakan beberapa jenis eksplan, antara lain pucuk tuna, kultur pucuk meristem, (Esen, 1977 dalam Utami, (2009). Hasil penelitian tanaman kakao melalui kultur jaringan menggunakan eksplan berupa embriozigotik muda (immature). Tehnik embriozigotik sangat menguntungkan bagi para pemulia tanaman kakao, terutama untuk perbanyakan klon-klon dalam waktu yang relatif singkat, (oetami, 2009). Keberhasilan perbanyakan kakao melalui embriozigotik sangat dipengaruhi oleh beberapa factor, diantaranya adalah umur fisiologi eksplan. Selain itu eksplan dapat tumbuh dengan baik pada kombinasi media dan zat pengatur tumbuh serta fitohormon yang terkandung didalam eksplan, (Oetami, 2009).
Eksplan yang dapat digunakan untuk embryogenesis somatik adalah bunga. selain bunga buah muda juga dapat dijadikan eksplan untuk embryozigotik. Selama ini dengan menggunakan embryozigotik telah dihasilkan embryozigotik pence et al., (1979). Buah kakao yang digunakan sebagai eksplan adalah buah muda yang berumur 90-120 hari Triastanto, (2005). Embryozigotik yang akan digunakan diisolasi dari bakal biji. Embrio yang dipilih adalah embrio yang berukuran 2-4 mm Triastanto, (2005)
Selain eksplan faktor yang mempengaruhi keberhasilan kultur embryozigotik adalah zat pengatur tumbuh yang digunakan. Eksplan yang ditumbuhkan dalam media yang tepat dapat beregenerasi melalui embryogenesis dan organogenesis (Gunawan, 1988). Dalam kultur jaringan dengan tujuan pengkalusan, zat pengatur tumbuh yang sering digunakan adalah golongan auksin yang dikombinasikan dengan sitokinin dengan konsentrasi rendah. Auksin yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah jenis IBA dan 2,4D. Peran fisiologis auksin adalah mendorong perpanjangan sel, pembelahan sel, diferensiasi jaringan xilem dan floem, (Sandra, 2010).
Menurut Gunawan, (1988), zat pengatur tumbuh berperan penting dalam menentukan arah pertumbuhan suatu kultur. Setiap genotip mempunyai respon yang berbeda dalam penyerapan zat pengatur tumbuh dalam media dan mempunyai kandungan zat pengatur tumbuh endogen yang berbeda. Hasil penelitian Oetami, (2002) menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara IBA dan klon yang diuji pada semua parameter pengamatan eksplan menghasilkan embrio. Respon setiap klon terhadap konsentrasi IBA yang berbeda yaitu 0, 1, 2, 3, dan 4 mg/l. Respon inisiasi kalus paling baik pada klon ICS 60 diperoleh dari perlakuan IBA 3 mg/l. Sedangkan menurut Fitrianti, (2006) Asam 2,4-D dan Kinetin merupakan zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan tumbuhan. Asam 2,4-D adalah salah satu auksin yang berperan dalam pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman.
1.2 Rumusan Masalah
Kendala yang dihadapi dalam kultur jaringan kakao selama ini adalah produksi, fenol dan lendir yang berlebih dari eksplan vegetatif, sehingga menghambat proses regenerasi (Ampomah, 1992). Hal serupa juga dikemukakan oleh Priyono, (1995) bahwa kandungan fenolik yang tinggi pada eksplan pucuk mengakibatkan terhambatnya proses regenerasi dan pembentukan kalus pada eksplan.
Teknik kultur jaringan kakao selama ini telah dikembangkan dengan berbagai metode misalnya kultur anter dengan kombinasi zat pengatur tumbuh akan tetapi belum berhasil menumbuhkan planlet. Berbagai metode kemudian dikembangkan dengan menggunakan zat pengatur tumbuh golongan auksin (Winarsih, 2009).
Menurut Fitrianti (2006) Zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan khususnya pada tujuan pengkalusan adalah auksin dan sitokinin. Zat pangatur tumbuh yang digolongkan auksin yang sering digunakan dalam kultur jaringan, seperti asam IBA, dan 2,4D yang cenderung menyebabkan terjadinya pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman. Oleh karena itu perlu diuji kembali peranan zat pengatur tumbuh dari golongan auksin terhadap pembentukan kalus yang optimal pada embryozigotik.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui pengaruh pemberian jenis auksin yang optimal dalam pertumbuhan kalus yang optimal embriozygotik kakao
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Dapat memperbaiki kualitas bibit kakao melalui pengadaan bibit kakao hasil kultur jaringan
1.4.2 Dapat menjadi kajian ilmiah lebih lanjut dalam penelitian tanaman kakao melalui kultur jaringan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Kakao ( Theobroma cacao L. )
Kakao (Theobroma cacao L) merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon, di alam dapat mencapai ketinggian 10 m (Pelita perkebunan, 2009). kakao merupakan tanaman yang menumbuhkan bunga dari batang atau cabang, sehingga tanaman ini digolongkan kedalam kelompok Caulifloris, (siregar dkk., 2009).
Buah kakao berupa buni yang daging bijinya sangat lunak Pada waktu muda, biji menempel pada bagian kulit buah, dan apabila telah matang akan terlepas dari kulit buah, (Siregar dkk., 2009). Buah muda kakao (Cherelle) selama 3 bulan pertama akan menjadi Cherelle with, Sunanto, (1992). Buah berbentuk bulat hingga memanjang dan memiliki Endospermia biji yang mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi, Wikipedia, (2009).
2.2 Kultur Jaringan Kakao
Kultur Jaringan adalah teknik memperbanyak tanaman dengan memperbanyak jaringan mikro tanaman yang ditumbuhkan secara invitro menjadi tanaman yang sempurna dalam jumlah yang tidak terbatas. Yang menjadi dasar kultur jaringan ini adalah teori totipotensi sel yaitu setiap sel organ tanaman akan mampu tumbuh menjadi tanaman yang sempurna jika ditempatkan di lingkungan yang sesuai. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperbanyak tanaman dengan waktu yang lebih singkat (Gunawan, 2003).
Menurut Winarsih, (2009) sekitar satu minggu setelah dikulturkan pada media induksi, embryozigotik mulai membengkak, warnanya menjadi lebih putih dan bagian daun kotilnya menggulung. Seiring dengan membesarnya ukuran explant tersebut kalus mulai tumbuh pada permukaan hipokotil maupun daun kotil.
Kendala yang dihadapi dalam kultur jaringan kakao selama ini adalah produksi kalus, fenol dan lendir yang berlebih dari eksplan vegetatif, sehingga menghambat proses regenerasi kalus, (Ampomah, 1992). Hal serupa juga dikemukakan oleh Priyono, (1995) bahwa kandungan fenolik yang tinggi pada eksplan pucuk mengakibatkan terhambatnya proses regenerasi eksplan.
Pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur jaringan sangat dipengaruhi oleh keadaan jaringan tanaman yang digunakan sebagai eksplan. Selain faktor genetis eksplan yang telah disebutkan di atas, kondisi eksplan yang mempengaruhi keberhasilan kultur adalah jenis eksplan, ukuran, umur dan fase fisiologis jaringan yang digunakan sebagai eksplan, (Erwin, 2009).
Menurut Erwin (2009), umur eksplan sangat berpengaruh terhadap kemampuan eksplan tersebut untuk tumbuh dan beregenerasi. Umumnya eksplan yang berasal dari jaringan tanaman yang masih muda (juvenil) lebih mudah tumbuh dan beregenerasi dibandingkan dengan jaringan yang telah terdiferensiasi lanjut. Jaringan muda umumnya memiliki sel-sel yang aktif membelah dengan dinding sel yang belum kompleks sehingga lebih mudah dimodifikasi dalam kultur dibandingkan jaringan tua. Oleh karena itu, inisiasi kultur biasanya dilakukan dengan menggunakan pucuk-pucuk muda, kuncup-kuncup muda, hipokotil, inflorescence yang belum dewasa, dan lain-lain.
Ukuran eksplan juga mempengaruhi keberhasilan kultur. Eksplan dengan ukuran kecil lebih mudah disterilisasi dan tidak membutuhkan ruang serta media yang banyak, namun kemampuannya untuk beregenerasi juga lebih kecil sehingga dibutuhkan media yang lebih kompleks untuk pertumbuhan dan regenerasinya. Sebaliknya semakin besar eksplan, maka semakin besar kemungkinannya untuk membawa penyakit dan makin sulit untuk diterilkan, membutuhkan ruang dan media kultur yang lebih banyak. Ukuran eskplan yang sesuai sangat tergantung dari jenis tanaman yang dikulturkan, teknik dan tujuan pengkulturannya (Erwin, 2009).
Selain organ bunga, eksplan yang dapat digunakan untuk embryogenesis somatik adalah embryiozigotik. Selama ini dengan menggunakan embryozigotik telah dihasilkan embriosomatik pence et al., 1979 dalam Oetami 2009) Buah kakao yang digunakan sebagai eksplan adalah buah muda yang berumur 90-120 hari. Buah muda yang akan digunakan sebagai bahan tanam disterilisasi dengan menggunakan alkohol 70% selama 10 menit. Embryozigotik yang akan digunakan diisolasi dari bakal biji. Embrio yang dipilih adlah embrio yang berukuran 2-4 mm (Triastanto, 2005)
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengkulturan suatu tanaman adalah lingkungan kultur. Lingkungan kultur merupakan hasil interaksi antara bahan tanaman, wadah kultur, dan lingkungan eksternal ruang kultur. Ruang kultur memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap suatu sistem kultur jaringan. Secara teoritis sejumlah faktor lingkungan yang berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan kultur adalah suhu, cahaya, karbondioksida dan kelembaban, (Zulkarnain, 2009). Menurut Read, (1990, dalam Zulkarnain, 2009) menyatakan bahwa suhu berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan sel dan jaringan, pembentukan organ tanaman, dan berkaitan erat dengan perkembangan tanaman yang berada dibawah pengaruh enzim. Selain itu peranan suhu lebih kritis pada kultur in vitro dibandingkan dengan kultur in vivo. Hal itu disebabkan oleh sifat jaringan yang peka dan kurangnya mekanisme perlindungan terhadap jaringan tersebut. Suhu optimum untuk terjadinya morfogenesis tidak selalu sama untuk setiap spesies tanaman. Menurut Winarsih, (2009) untuk dapat menginduksi kalus tanaman kakao klon Sca 6 membutuhkan suhu 20-240C winarsih dkk, (2002).
2.3 Media Dasar Kultur Jaringan Murashige Skoog
Media Murashige & Skoog (MS) merupakan perbaikan komposisi media Skoog, terutama kebutuhan garam anorganik yang mendukung pertumbuhan optimum pada kultur jaringan tembakau. Media MS mengandung 40 mM N dalam bentuk NO3 dan 29 mM N dalam bentuk NH4+. Kandungan N ini, lima kali lebih tinggi dari N total yang terdapat pada media Miller, 15 kali lebih tinggi dari media tembakau Hildebrant, dan 19 kali lebih tinggi dari media White. Kalium juga ditingkatkan sampai 20 mM, sedangkan P, 1.25 mM. Unsur makro lainnya konsentrasinya dinaikkan sedikit. Pertama kali unsur-unsur makro dalam media MS dibuat untuk kultur kalus tembakau, tetapi komposisi MS ini sudah umum digunakan untuk kultur jaringan jenis tanaman lain, (Erwin, 2009).
Media MS paling banyak digunakan untuk berbagai tujuan kultur pada tahun-tahun sesudah penemuan media MS, sehingga dikembangkan media-media lain berdasarkan media MS tersebut, antara lain media Lin & Staba, menggunakan media dengan setengah dari komposisi unsur makro MS, dan memodifikasi : 9 mM ammonium nitrat yang seharusnya 10mM, sedangkan KH2 PO4 yang dikurangi menjadi 0.5 Mm, tidak 0.625 mM. Larutan senyawa makro dari media Lin & Staba, kemudian digunakan oleh Halperin untuk penelitian embryogenesis kultur jaringan wortel dan juga digunakan oleh Bourgin & Nitsch (Gunawan, 1988).
Senyawa-senyawa di dalam media MS dapat terjadi pengendapan persenyawaan, ini terlihat jelas pada media cair. Kebanyakan dari persenyawaan yang mengendap adalah fosfat dan besi, kemudian dalam jumlah yang lebih sedikit adalah Ca, K, N, Zn dan Mn. Senyawa paling sedikit adalah senyawa yang mengandung unsur C, Mg, H, Si, Mo, S, Ca dan Co. Setelah tujuh hari dibiarkan, maka kira-kira 50% dari Fe dan 13% dari PO4+, mengendap, Dalton dkk., (1983 dalam Erwin, 2009). Pengendapan unsur-unsur tersebut mungkin tidak penting, karena unsur-unsur tersebut masih tersedia bagi jaringan tanaman dan pengaruh pengendapannya belum diketahui. Untuk mengatasi pengendapan Fe, Dalton dan grupnya menganjurkan supaya konsentrasi Fe dikurangi sampai 1/3 dengan EDTA yang tetap (Erwin, 2009).
Menurut Erwin, (2009) Perbedaan komposisi media, seperti jenis dan komposisi garam-garam anorganik, senyawa organik, zat pengatur tumbuh sangat mempengaruhi respon eksplan saat dikulturkan. Perbedaan komposisi dan bentuk fisik media biasanya sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan. Meskipun demikian, media yang telah diformulasikan tidak hanya berlaku untuk satu jenis eksplan dan tanaman saja. Beberapa jenis formulasi media bahkan digunakan secara umum untuk berbagai jenis eksplan dan varietas tanaman, seperti media MS.
2.3.1 Keadaan Fisik Media.
Media yang umum digunakan dalam kultur jaringan adalah medium padat, medium semi padat dan medium cair. Keadaan fisik media akan mempengaruhi pertumbuhan kultur, kecepatan pertumbuhan dan diferensiasinya. Keadaan fisik media ini mempengaruhi pertumbuhan antara lain karena efeknya terhadap osmolaritas larutan dalam media serta ketersediaan oksigen bagi pertumbuhan eksplan yang dikulturkan (Gunawan, 1998).
2.3.2 Asam Amino
Asam amino adalah salah satu zat organik yang biasanya ditambahkan dalam medium kultur jaringan asam amino selain sukrosa, zat pengatur tumbuh dan myo inositol, (Hendaryono, 1994) Asam amino memiliki peranan penting untuk pertumbuhan diferensasi kalus Hendaryono dan wijayanti, (1994). Asam amino merupakan sumber N organik yang dapat lebih cepat diserap oleh eksplan Gunawan, (1992). Asam amino memiliki N yang melekat pada posisi karbon-α, Gardner dkk., (2008). Menurut sampkin dkk.,(1970 dalam Gunawan (1994). dengan penambahan asam amino terjadi perpanjangan sel pada kultur sel Sycamore.
Beberapa jenis asam amino dinyatakan memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan eksplan. Seperti yang dilaporkan oleh liu, (1981 dalam Zulkarnain 2009) L-asparagine digunakan untuk merangsang regenerasi dalam kultur jaringan jagung. Hal serupa juga dinyatakan oleh Zulkarnain, (2009) L-glutamat adalah salah satu asam amino atau amida yang sering memberikan hasil positif bagi pertumbuhan kultur jaringan tanaman.
2.4 Embryozigotik
Embryozigotik adalah perkembangan embrio lengkap dari penyatuan gamet jantan dan gamet betina, Hertman dkk., (1990 dalam Zulkarnain 2009). Apabila dikembangkan dalam kultur jaringan makaakan mengalami perkembangan melalui tahapan oktan, globular, awal hati, hati, torpedo, dewasa.
Embrio yang digunakan dalam kultur embrio, tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan kalus semata, sebaliknya embrio tersebut diharapkan dapat menjaga integritas dan kemampuan tumbuh embrio menjadi tanaman lengkap. Menurut Gunawan, (1992) kultur embrio ditujukan untuk membantu perkecambahan embrio menjadi tanaman lengkap. Problema inkompatibel post zygotic yang diatasi dengan kultur embrio kadang-kadang dikenal dengan istilah embrio rescue walaupun keberhasilan menolong embrio masih tergolong sangat rendah, akan tetapi sudah mampu menghasilkan tanaman lengkap. Pada berbagai tingkat kematangan embrio dapat digunakan sebagai eksplan tergantung dari jenis tanaman dan tujuannya.
Eksplan merupakan faktor penting yang mempengeruhi keberhasilan kultur. Untuk memulai sistem kultur jaringan yang baru dengan spesies atau kultivar tanaman yang baru pula, sering kali menghendaki analisis yang sistemis terhadap potensi dari setiap tipe jaringan. Menurut Oetami, (2009) tiga aspek utama yang harus diperhatikan dalam memilih bahan eksplan adalah genotif, umur dan kondisi fisiologis tanaman induk.
Kondisi fisiologis eksplan memiliki peranan penting bagi keberhasilan teknik kultur jaringan. Menurut Gunawan (1988 dalam winarsih (2002) menyatakan bahwa faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan embrio somatik adalah tingkat perkembangan embryozigotik yang dikulturkan. Tingkat perkembangan eksplan (umur eksplan) mempengaruhi tipe serta morfogenesis
2.5 Zat Pengatur Tumbuh Auksin
Zat pengatur tumbuh pada tanaman (plant regulator) adalah senyawa organik bukan hara (nutrient), yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung (promote), manghambat (inhibit), dan dapat merubah fisiologi tumbuhan (Abidin, 1994). Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan dalam media sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan ke dalam media kultur sangat tergantung dari jenis eksplan yang dikulturkan dan tujuan pengkulturannya. Konsentrasi hormon pertumbuhan optimal yang ditambahkan ke dalam media tergantung pula dari eksplan yang dikulturkan serta kandungan hormon pertumbuhan endogen yang terdapat pada eksplan tersebut. Komposisi yang sesuai ini dapat diperkiraan percobaan-percobaan yang telah dilakukan sebelumnya dibarengi percobaan untuk mengetahui kompisisi hormon pertumbuhan yang sesuai dengan kebutuhan dan arah pertumbuan eksplan yang diinginkan, (Erwin, 2009).
Menurut Hendaryono, (1994) dan Fitrianti, (2006) dalam kultur in vitro terdapat 2 golongan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang sangat penting adalah sitokinin dan auksin. ZPT ini mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ. Interaksi dan perimbangan dalam zat pengatur tumbuh (ZPT) yang diberikan dalam media dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah suatu kultur. Auksin sintetik terdiri dari IAA, IBA, NAA dan herbisida yang bersifat auksin.
Sandra, (2010). Menyatakan bahwa peranan Auksin dalam aktifitas kultur jaringan sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus, menghambat kerja sitokinin membentuk klorofil dalam kalus, mendorong proses morfogenesis kalus, membentuk akar atau tunas, mendorong proses embriogenesis, dan auksin juga dapat mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman.
Auksin digunakan secara luas dalam kultur jaringan untuk merangsang pertumbuhan kalus, suspensi sel, dan organogenesis. Pemilihan jenis auksin dan konsentrasinya tergantung dari tipe pertumbuhan yang dikehendaki, level auksin endogen, kemampuan auksin mensintesis auksin dan zat pengatur tumbuh lain yang ditambahkan, (Sandra, 2010).
Santoso dan Nursandi, (2001) menambahkan auksin sebagai zat pengatur tumbuh berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman yaitu :
a. Auksin dapat meningkatkan kandungan asam nukleat sel karena auksin bekerja pada proses replikasi DNA dan karena DNA mempunyai sifat auto katalitik maka auksin berpengaruh memacu kemampuan DNA agar sifat auto katalitiknya berfungsi
b. Auksin mempengaruhi protein membran sehingga sintesis protein dan asam nukleat dapat lebih cepat
c. Auksin dapat mempengaruhi pembentukan akar baru, pembelahan sel dan pembentukan tunas
Menurut Wattimena (1998, dalam 1998), auksin alamiah yang sering terdapat pada tumbuhan adalah IAA (Asam 3-indol Asetat). IAA disintesis dari triptopan pada bagian tanaman tertentu yaitu primordial daun, daun muda dan biji yang sedang berkembang. Sedangkan auksin sintetik yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah IBA (Asam – Indol Butirat) dan 2,4 D (2,4Diklorofenoksiasetat).
2.5.1 2,4 D (2,4-Diklorofenoksiasetat).
Menurut Ariwahono, (2010) 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) adalah herbisida sistemik yang umum untuk digunakan dalam mengontrol gulma yang tumbuh dalam tanaman pertanian. Selain itu, 2,4-D dikenal sebagai salah satu jenis auksin sintetik. 2,4-D merupakan jenis auksin sintetis yang sering digunakan dalam kultur jaringan, (Abidin, 1982). Dalam konsentrasi rendah 2,4-D dapat berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh yang mampu merangsang dan menggiatkan pertumbuhan tanaman. Hal serupa juga diungkapkan oleh Fitrianti, (2006) Asam 2,4-D adalah salah satu auksin yang berperan dalam pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman. 2,4 Dmemiliki Rantai yang mempunyai gugus karboksil dipisahkan oleh karbon atau karbon dan oksigen akan memberikan aktivitas yang optimal (Abidin, 1985).
Sebagai salah satu senyawa yang masuk ke dalam grup hormon auksin, maka 2,4-D dapat bekerja maksimum untuk pembelahan dan pembesaran sel serta pembentukan akar stek bila diberikan dalam konsentrasi rendah. Herbisida jenis 2,4 -D ini tergolong ideal, karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya : relatif murah, tidak meninggalkan racun pada hewan, (Manurung, 2010).
2.5.2 IBA (Asam 3 – Indol Butirat)
3-indol asam butirat (-indol-3-butanoat asam 1H, IBA) adalah Kristal putih padat, dengan rumus molekul C 12 H 13 NO 2. IBA merupakan salah satu hormon tanaman dalam golongan auksin yang sering digunakan pada pengakaran tanaman hortikultura. IBA meleleh pada 125 ° C dan tekanan atmosfir 15 psi dan terurai sebelum dipanaskan. Untuk dapat menggunakan, harus dilarutkan dalam alkohol 75%, kemudian dilarutkan kembali dengan air steril, karena IBA tidak dapat dilarutkan dengan air. Jenis auksin ini merupakan auksin sintetis, karena terbuan dari daun dan biji jagung, William, (1999).
2.6 Hipotesa
Terdapat 1 jenis auksin dengan 1 konsentrasi yang mempengaruhi pembentukan kalus embryozigotik kakao secara optimal
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Politeknik Negeri Jember di Jember, penelitian akan dimulai pada bulan Januari 2010 sampai dengan Juli 2010.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah : Media B5 ((NH4)2SO4, KNO3, CaCl2 . 2H2O, MgSO4 . 7H2O, NaH2PO4 . H2O, FeSO4 . 7H2O, Na2EDTA, MnSO4 . H2O, CoCl2 . 6H2O Myi-inositol, Niacin, Pyridoxine-HCl, Thiamine-HCl, Sucrosa, ZnSO2 . 7H2O, H3BO3, KI, Na2MoO4 . 2H2O, CuSO4.5H2O), zat pengatur tumbuh (IBA) 2,4 D (2,4-Diklorofenoksiasetat), eksplan (buah kakao yang berumur 90-120 hari), Spiritus, Korek api, dan Alkohol, almunium foil dan aquades steril.
3.2.2 Alat
Alat-alat yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian ini adalah : pipet, Erlenmeyer, gelas ukur, autoklaf, botol kultur, Pinset steril, Pisau steril, laminar, lampu Bunsen, Petridis, pipet, Erlenmeyer, gelas ukur, autoklaf, botol kultur.
3.3 Metode Penelitian
Penelitian disusun menurut rancangan acak lengkap (RAL) faktor tunggal dengan 6 perlakuan pemberian zat pengatur tumbuh golongan auksin (A) dan diulang sebanyak 5 kali. Perlakuan penelitian meliputi :
A1 = MS + IBA 2 ppm
A2 = MS + IBA 3 ppm
A3 = MS + IBA 4 ppm
A4 = MS + 2,4D 2 ppm
A5 = MS + 2,4D 3 ppm
A6 = MS + 2,4D 4 ppm
3.4 Pelaksanaan
3.4.1 Persiapan eksplan
Eksplan yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari buah kakao yang berumur 90 – 120 hari. Buah yang akan digunakan untuk mengantisipasi adanya serangan hama atau pathogen. Satu minggu sebelum inisiasi dilakukan penyemprotan dengan fungisida dan bakterisida pada konsentrasi 1 %.
3.4.2 Persiapan media
Media yang digunakan adalah media B5 yang ditambahkan dengan zat pengatur tumbuh IBA dan 2,4D sesuai dengan perlakuan. Media dituangkan kedalam botol kultur. Setiap botol diisi 20 ml media. Kemudian media disterilkan selama 20 menit dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 121oC dan tekanan 15 Psi.
3.4.3 Inisiasi
Sebelum melakukan kegiatan inisiasi, buah muda yang akan diinisiasi disteril terlebih dahulu. Buah muda dibersihkan dengan menggunakan detergen dan dicuci dengan air hingga bersih. Kemudian kupas kulit buah muda kakao dengan menggunakan pisau. Kemudian bawa buah muda yang telah dikupas kedalam laminar. Cuci eksplan dengan aquadest steril kemudian letakkan eksplan diatas Petridis. Siapkan alat-alat dan bahan yang dibutuhkan dalam inisiasi.
Celupkan eksplan kedalam alcohol 90 % kemudian dibakar (langkah ini diulang sebanyak 2-3 kali). Setelah api padam, ambil eksplan dengan menggunakan pinset. Congkel eksplan pada bagian biji eksplan, kemudian ambil embrio dengan menggunakan pisau. Bersihkan lendir yang menempel pada embrio. Tanam embrio pada media yang telah disiapkan. Kemudian tutup media dengan menggunakan almunium foil.
3.4.4 Inkubasi
Setelah eksplan selesai diinisiasikan pada media, eksplan diinkubasikan diruangan gelap selama 8 minggu. Ruang inkubasi harus dalam keadaan gelap selama 24 jam dengan suhu 230C.
3.5 Parameter Pengamatan
3.5.1 Kecepatan eksplan dalam pembentukan kalus (hari)
Pengamatan bertujuan untuk mengetahui kecepatan berkalus eksplan pada tiap-tiap perlakuan. pengamatan dilakukan dengan cara mengamati perubahan eksplan yang menunjukkan tanda-tanda terbentuknya kalus.
3.5.2 Persentase pembentukan kalus (%)
Pengamatan bertujuan untuk mengetahui eksplan yang membentuk kalus setelah 21 hari setelah tanam dengan cara menghitung persentase terbentuknya kalus pada tiap-tiap perlakuan. Pengamatan ini dilakukan pada minggu ke 8 setelah tanam.
3.5.3 Morfologi kalus yang dihasilkan
Pengamatan bertujuan untuk mengetahui jenis kalus yang dihasilkan pada tiap-tiap perlakuan. pengamatan dilaksanakan dengan cara mengamati kekompakan dan keremahan kalus yang dihasilkan pada tiap-tiap perlakuan. Morfologi kalus dapat diamati dengan cara melihat bentuk butiran kalus yang terbentuk. Pengamatan ini lakukan pada minggu ke 8 setelah tanam.
3.5.4 Berat Kalus (Mg)
Pengamatan bertujuan untuk mengetahui berat kalus yang dihasilkan dalam tiap-tiap perlakuan. pengamatan dilakukan dengan cara menimbang eksplan dengan menggunakan timbangan digital. Pengamatan dilakukan pada minggu ke 8 setelah tanam.
BAB 4 HASIL
4.1 Kedinian Pembentukan Kalus
Kedinian pembentukan kalus adalah kemampan atau kecepatan eksplan dalam membentuk kalus.kedinian pembentukan kalus dihitung berdasarkan kecepatan eksplan menunjukkan tanda-tanda membentuk kalus.
Tabel 4..1.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap Kedinian Pembentukan Kalus Embryozigotik Kakao
SK db JK KT Fhitung Ftabel
0.01 0.05
PERLAKUAN 5 322.30 64.46 3.03 * 3.90 2.62
GALLAT 24 510.40 21.27
TOTAL 29 832.70
KK39.66%
Keterangan * = Berbeda Nyata
Besdasarkan hasil analisis sidik ragam (Tabel 4.1.1), dari 6 perlakuan yang diujikan manunjukkan nilai F hitugn lebih besar dari F tabel 0,05 dan lebih kecil dari F tabel 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa golongan auksin yang ditambahkan pada media MS dengan konsentrasi yang berbeda-beda memberikan respon berbeda sangat nyata.
Tabel 4.1.2 Rerata Kedinian Pembetukan Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin
Perlakuan Rerata kedinian berkalus (hari)
A1 11.00 a
A2 11.40 a
A3 10.20 a
A4 13.50 b
A5 11.67 a
A6 12.00 a
Keterangan : nilai yang dilanjutkan dengan huruf yang sama menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut uji JND 5%
Eksplan yang mampu membentuk kalus rata-rata tumbuh pada kisaran hari ke 10 – 12. Hanya ada satu perlakuan yang menunjukkan awal pembentukan kalus pada hari ke 14 yaitu perlakuan A4. Perkembangan yang optimal rata-rata ditemukan pada perlakuan media MS dengan penambahan IBA. Kalus embryozigotik kakao akan mulai terbentuk antara hari ke 9-12, akan tetapi kalus belum terlihat jelas, (Winarsih, 2002). Kalus yang muncul melebihi 12 hari umumnya perkembangannya kurang bagus, Winarsih, (2009).
4.2 Morfologi Kalus
morfologi kalus adalah bentuk fisik kalus yang dihasilkan pada tiap-tiap perlakuan yang dilihat berdasarkan bentuk, warna dan tekstur kalus. Untuk mengetahui perbedaan kalus dalam tiap-tiap perlakuan dilakuan analisis berdasarkan scoring atau uji tanda. Skor diberikan berdasarkan warna, tekstur dan warna serta arah pertumbuhan kalus.
4.2.1 Perhitungan uji tanda berdasarkan warna tekstur dan arah pertumbuhan kalus perlakuan A1 yang dibandingkan dengan perlakuan A6
n1 = Positif
n2 = Negatif
X2 = (n1-n2)2 /n1+n2
= 9/5 = 1,8
X tabel = 3,90
X2 1,8 ≤ 3,90 = NS
4.2.2 Perhitungan uji tanda berdasarkan warna tekstur dan arah pertumbuhan kalus perlakuan A2 yang dibandingkan dengan perlakuan A6
n1 = Positif
n2 = Negatif
X2 = (n1-n2)2/n1+n2
= 9/5 = 1,8
X tabel = 3,90
X2 1,8 ≤ 3,90 = NS
4.2.3 Perhitungan uji tanda berdasarkan warna tekstur dan arah pertumbuhan kalus perlakuan A3 yang dibandingkan dengan perlakuan A6
n1 = Positif
n2 = Negatif
X2 = (n1-n2)2 /n1+n2
= 9/5 = 1,8
X tabel = 3,90
X2 1,8 ≤ 3,90 = NS
Dilihat dari hasil uji tanda morfologi kalus pada tiap-tiap perlakuan, dari 6 perlakuan yang diujikan menyatakan berbeda tidak nyata. Walaupun kalus yang dihasilkan memiliki ciriyang berbeda, akan tetapi hasil scoring dari tiap-tiap perlakuan menghasilkan selisih nilai lebih rendah dari X tabel.
4.3 Persentase pembentukan Kalus
Persentase kalus dihitung berdasarkan hasil penimbangan berat kalus yang terbentuk dibandingkan dengan total berat akhir eksplan sebelum dikurangi dengan berat kalus.
Tabel 4.3.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap persentase Pembentukan Kalus Embryozigotik Kakao
SK db JK KT Fhitung Ftabel
0.01 0.05
PERLAKUAN 5 1805.90 361.18 6.87 ** 3.90 2.62
GALLAT 24 1261.39 52.56
TOTAL 29 3067.30
KK 42.80 %
Keterangan : ** = Berbeda Sangat Nyata
. Dari hasil sidik ragam pada tabel 4.3.1 menunjukkan setiap perlakuan menunjukkan respon berbeda sangat nyata, dengan koefisien keragaman 42,80 %. Pada pengamatan ini kalus yang terbentuk sudah dapat dilihat bentuk, warna dan arah pertumbuhannya.
Tabel 4.3.2 Rerata persentase Pembetukan Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin
Perlakuan Rerata Persentase Pembentukan Kalus (%)
A1 26.81 d
A2 15.90 b
A3 19.32 c
A4 10.55 a
A5 20.22 c
A6 8.80 a
Keterangan : nilai yang dilanjutkan dengan huruf yang sama menunjukkan respon berbeda sangat nyata menurut uji JND 5%
Pada minggu ke 8 semua perlakuan menunjukkan pengkalusan. Setiap perlakuan menghasilkan kalus dengan persentase yang berbeda-beda. Kalus yang dihasilkan tiap-tiap perlakuan berkisar antara 8 – 26% persentase tertinggi ditunjukkan pada perlakuan A1 yaitu 26,8 % dan persentase berkalus paling rendah ditunjukkan pada perlakuan A6. Berdasarkan notasi perlakuan A6 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A4 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan A1, Sedangkan perlakuan perlakuan A2 dan A3 menunjukkan berbeda nyata dengab perlakuan A1.
4.4 Berat Kalus
Berat kalus dihitung dari kalus yang terbentuk pada setiap perlakuan. Kalus ditimbang dengan menggunakan timbangan digital. Kalus dipisahkan dari eksplan yang belum membentuk kalus.
Tabel 4.4.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap Berat Kalus Embryozigotik Kakao
SK db JK KT Fhitung Ftabel
0.01 0.05
PERLAKUAN 5 1971.50 394.30 3.57 * 3.90 2.62
GALLAT 24 2648.80 110.37
TOTAL 29 4620.30
KK 56.18 %
Keterangan : * = Berbeda Nyata
Berdasarkan analisis sidik ragam pada tabel 4.4.1 menunjukkan bahwa F hitung lebih besar dari F tabel 1%. Hal ini menyatakan bahwa perlakuan yang diujikan menunjukkan berbeda nyata. Dari hasil analisis pada tabel 4.4.1 maka perlu dilakukan uji lanjut dengan menggunakan Jarak Nyata Duncan (DNJ).
Tabel 4.4.2 Rerata Berat Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin
Perlakuan Rerata berat kalus embryozigotik
A1 29 a
A2 24 ab
A3 26.2 ab
A4 7 b
A5 12 b
A6 14 b
Keterangan : Nilai yang dilanjutkan dengan huruf yang sama menunjukkan respon berbeda sangat nyata berdasarkan uji JND 5%
Berdasarkan hasil analisis rerata pada tabel 4.4.2 menunjukkan bahwa perlakuan yang memiliki berat kalus ditunjukkan pada perlakuan A1 dengan nilai rerata berat kalus 29 gram. Perlakuan A1 berbeda nyata tidak nyata dengan perlakuan A2 dan perlakuan A3 serta berbeda nyata dengan perlakuan A4, A5, dan A6.
BAB 5 PEMBAHASAN
4.1 Kedinian Pembentukan Kalus
Hasil pengamatan pada hari ke awal pembentukan kalus pada hari ke 9-12 menunjukkan respon positif dari tiap tiap perlakuan. Sekitar 90% eksplan yang diinisiasi telah menunjukkan tanda-tanda membentuk kalus, walaupun respon setiap eksplan berbeda-beda. Menurut Winarsih, (2003 dalam Oetami, 2009) menyatakan bahwa periode ini merupakan terbentuknya kalus. Kalus yang terbentuk belun terlihat jelas.
Hasil pengamatan rerata kedinian berkalus eksplan, menunjukkan bahwa eksplan yang mampu membentuk kalus rata-rata tumbuh pada kisaran hari ke 9 – 12. Hanya ada satu perlakuan yang menunjukkan awal pembentukan kalus pada hari ke 14 yaitu perlakuan A4. Kalus embryozigotik kakao akan mulai terbentuk antara hari ke 9-12, akan tetapi kalus belum terlihat jelas, (Utami, 2009). Perkembangan yang optimal rata-rata ditemukan pada perlakuan media MS dengan penambahan IBA. Bahkan Pada hari ke 12 telah ditemukan eksplan yang telah 100% membentuk kalus, walaupun kalus belum dapat terlihat jelas.
Berdasarkan tabel 4.1.2 terlihat bahwa perlakuan menunjukkan respon yang berbeda-beda. Pada 3 level IBA terlihat pertumbuhan eksplan sangat tinggi, >90%. Selain itu eksplan yang membentuk kalus pada perlakuan MS dengan penambahan IBA terlihat cukup tinggi. Berbeda dengan 3 level 2,4D jumlah eksplan yang memberi respon positif lebih sedikit dibandingkan dengan perlakuan media MS dengan penambahan IBA. Selain itu sekitar 30 % dari eksplan yang ditanam pada perlakuan ini tidak mengalami perkembangan dan bahkan mati. Auksin dapat berpengaruh pada pemanjangan sel, akan tetapi pada konsentrasi tinggi malah berfungsi sebaliknya, (Ariwahono, 2010). Menurut Raharja, (1994) bahan yang digunakan harus dengan konsentrasi yang tepat. Kelebihan konsentrasi dapat menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah diuji lanjut dengan menggunakan Jarak Nyata Duncan (JND) 5%, dapat dilihat perakuan yang menunjukkan berbeda sangat nyata. Pertumbuhan paling cepat ditunjukkan oleh perlakuan A3 yaitu media MS dengan penambahan 4 ppm IBA. Menurut winarsih, (2002) setiap klon menampilkan respon yang berbeda-beda pada setiap perlakuan, hasil terbaik diperoleh pada perlakuan klon ICS60 dengan penambahan 3 ppm IBA. Respon paling lambat ditunjukkan oleh perlakuan A4 media MS dengan penambahan 2 ppm 2,4D. menurut Sandra, (2009) pada konsentrasi tinggi 2,4D dapat berubah peranan menjadi herbisida. Terhambatnya pembentukan kalus pada perlakuan dengan penambahan 2,4 D diperkirakan diakibatkan oleh ketidak mampuan eksplan menyerap unsur hara pada media, terutama zat pengatur tumbuh yang tersedia.selain itu karena konsentrasi zat pengatur tumbuh yang tinggi sehingga dan bersifat herbisida, dan dapat menekan pertumbuhan sel-sel pada eksplan yang akhirnya mongering dan mati.
4.2 Morfologi Kalus
Dari hasil identifikasi ciri-ciri kalus, setiap perlakuan menghasilkan kalus dengan ciri-ciri yang berbeda-beda. Pada perlakuan A1 kalus yang dihasilkan terlihat berwarna kuning kehijauan dan bertekstur kompak, sedangkan kalus pada perlakuan A4, A5 dan A6 cenderung berwarna putih dan bertekstur semi remah. Berdasarkan uji tanda, hasil analisis menunjukkan bahwa dari 6 perlakuan yang diujikan tidak ada yang menunjukkan berbeda nyata.
Dari ciri-ciri kalus yang terbentuk, setiap perlakuan menunjukkan pembentukan kalus yang arah pertumbuhannya berbeda-beda. Kalus yang terbentuk pada perlakuan IBA rata-rata menunjukkan ciri-ciri pembentukan embrio. Menurut Winarsih, (2002) kalus yang terbentuk selanjutnya mengalami pendewasaan yang dicirikan oleh bertambahnya volume kalus dan warna kalus yang semula berwarna putih menjadi kuning krem hingga kecoklatan. Sedangkan pada perlakuan 2,4D kalus yang terbentuk masih berwarna putih dan ukuran kalus tidak bertambah. Hal ini dapat diartikan bahwa kalus yang dihasilkan tidak berpotensi menjadi embrio.
4.3 Persentase pembentukan Kalus
. Persentase kalus dihitung dari total berat akhir kalus dari seluruh ulangan perlakuan dikurangi berat kalus yang dihasilkan. Pada pengamatan mingu ke 8 dapat dilihat dengan jelas tekstur, diameter dan warna dari kalus yang terbentuk. Dilihat dari hasil pengamatan minggu ke 8 semua perlakuan menunjukkan pengkalusan. Setiap perlakuan menghasilkan kalus dengan persentase yang berbeda-beda. Kalus yang dihasilkan tiap-tiap perlakuan berkisar antara 8 – 26% persentase tertinggi ditunjukkan pada perlakuan A1 yaitu 26,8 % dan persentase berkalus ter rendah ditunjukkan pada perlakuan A6.
Bila dikaitkan dengan kedinian terbentuknya kalus pada tabel 4.1.2 perlakuan A4 memiliki perkembangan lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan A6. Walaupun dalam pembentukan kalus lebih lambat dibandingkan perlakuan 2,4D lainnya, persentase kalus yang dihasilkan pada perlakuan ini lebih tinggi. Lambatnya pembentukan kalus pada perlakuan A4 diakibatkan oleh kurang tersedianya zat pengatur tumbuh yang tersedia didalam media yang dibutuhkan pada saat awal pembentukan kalus.
Dari hasil uji lanjut dengan menggunakan metode jarak nyata (DNJ) 5% dapat dilihat bahwa perlakuan yang menunjukkan persentase berkalus paling rendah adalah pada perlakuan A6 yaitu Perkembangan hingga minggu ke 8 menunjukkan menghasilkan kalus sekitar 8% dari keseluruhan berat eksplan. Sedangkan persentase tertinggi ditunjukksn pada perlakuan A1.
4.4 Berat Kalus
Perkembangan pada minggu ke 8 berdasarkan analisis sidik ragam, setiap perlakuan mengalami perkembangan yang positif. Setiap eksplan yang pada hari ke 9-13 mengalami pembentukan kalus, pada minggu ke 8 kalus yang terbentuk sangat terlihat jelas. Walaupun setiap perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada setiap perlakuan, akan tetapi setiap eksplan yang diinisiasi mampu memberi respon yang positif terhadap perlakuan yang diujikan, artinya setiap eksplan yang diinisiasi pada perlakuan yang diujikan mempu membentuk kalus. Berdasarkan teori totepotensi yaitu setiap sel organ tanaman akan mampu tumbuh menjadi tanaman yang sempurna jika ditempatkan di lingkungan yang sesuai. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperbanyak tanaman dengan waktu yang lebih singkat (Gunawan, 2003).
Hasil analisis rerata pada tabel 4.4.2menunjukkan bahwa tiap-tiap perlakuan memiliki respon yang berbeda dalam perkembangan kalus. Bila dilihat dari pengamatan awal pembentukan kalus yang dilakukan pada minggu ke 2 setelah inisiasi, A1 menunjukkan perkembangan yang lebih pesat dibandingkan perlakuan yang lain. Pada awal pembentukan kalus (Tabel 4.1.2) lebih lambat dibandingkan A3, akan tetapi kalus yang dihasilkan lebih berat dibandingkan dengan yang lainnya.
Walaupun perlakuan A1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A3, akan tetapi hasil yang ditunjukkan pada perlakuan ini sangat terlihat berbeda. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor lain selain perlakuan misalnya klon. Menurut Zulkarnain, (2009) Setiap genotipe atau jaringan mempunyai respon yang berbeda dalam penyerapan zat pengatur tumbuh dalam media dan memiliki kandungan zat pengatur tumbuh endogen yang berbeda.
Dari hasil analisis rerata dengan uji lanjut jarak nyata duncan (DNJ) 5% dapat dilihat perlakuan yang berbeda nyata adalah perlakuan A6 (perlakuan media MS dengan penambahan 2,4D 4 ppm), berbeda nyata dengan perlakuan A1 (media MS dengan penambahan 2 ppm IBA). berat kalus paling tinggi ditunjukkan oleh perlakuan A1 sedangkan A6 menunjukkan hasil berat kalus yang paling rendah yaitu 7 gram dari hasil rata-rata seluruh ulangan. silva dalam winarsih, (2009) yang menyatakan bahwa frekuensi pembentukan embriosomatik dipengaruhi oleh komposisi dan jenis zat pengatur tumbuh yang digunakan.
LAPORAN TUGAS AKHIR
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Menyelesaikan Pendidikan Program Studi Kultur Jaringan Tanaman
Jurusan Manajemen Agribisnis
Oleh :
I Wayan Suwardana
NIM K4030605
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2010
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : I Wayan Suwardana
Nim : D4030605
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam Tugas Akhir Saya yang berjudul Pembentukan Kalus Embriozigotik Kakao (Theobroma cacao L.) Dengan Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin, merupakan gagasan dan hasil karya Saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing, dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun
Semua data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang ditrbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam naskah dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Tugas Akhir ini.
Jember,………… 2010
I Wayan Suwardana
NIM D4030613
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI NAA DAN BAP TERHADAP PEMBENTUKAN KALUS MELON (Cucumis melo L.) SECARA IN VITRO
Telah Diuji pada Tanggal…
Telah Dinyatakan Memenuhi Syarat
Tim Penguji:
Ketua
Ir. Sugiarto
NIP.
Anggota, Anggota,
Dyah Nuning Erawati, SP,MP Ir. Damanhuri, MP
NIP.195902081988111001 NIP.1960502199432004
Mengesahkan: Menyetujui:
Direktur Politeknik Negeri Jember, Ketua Jurusan Manajemen Agroindustri
Ir. H. Asmuji, MM Wenny Dhamayanthi, SE, M. Si
NIP. 131 804 030 NIP. 197108041998022001
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir yang berjudul Pembentukan Kalus Embriozigotik Kakao (Theobroma cacao l.) Dengan Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin
Penyusunan Laporan Tugas Akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Menteri Pendidikan Nasional yang telah memberikan dukungan pembiayaan melalui Program Beasiswa Unggulan hingga penyelesaian Tugas Akhir berdasarkan DIPA Sekertariat Jenderal Kementrian Pendidikan Nasional Tahun Anggaran 2006 sampai dengan tahun 2010.
2. Direktur Politeknik Negeri Jember
3. Ketua Jurusan Manajemen Agribisnis
4. Ketua Program Studi Manajemen Agroindustri
5. Ketua Bidang Konsentrasi Kultur Jaringan Tanaman
6. Dyah Nuning Erawati, SP, MP, selaku dosen pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan dan masukannya.
7. Ir. Damanhuri, MP,selaku dosen pembimbing anggota yang telah memberikan bimbingan dan masukannya.
8. Ir. Sugiarto, MP, selaku penguji yang telah memberikan bimbingan dan masukannya.
9. Bapak dan Ibuku tercinta yang telah memberikan curahan kasih sayang, do’a dan dukungan baik materil maupun spiritual.
10. Teman-teman yang telah memberikan motivasi dan dukungan dalam penyusunan laporan ini.
11. Pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang membantu dalam penulisan tugas akhir ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan Tugas Akhir ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan dan kelengkapan laporan ini. Akhir kata semoga laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Jember, Agustus 2010
Penulis
Daftar isi
HALAMAN JUDUL i
SURAT PERNYATAAN ii
LEMBAR PENGESAHAN iii
MOTTO iv
PERSEMBAHAN v
ABSTRACK vi
RINGKASAN vii
Daftar Isi viii
Daftar Tabel x
Daftar Gambar xi
Daftar Lampiran xii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan Penelitian 3
1.2 Manfaat Penelitian 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1 Tanaman Kakao 4
2.2 Kultur Jaringan Tanaman Kakao 4
2.3 Media Dasar Kultur Jaringan Murashigge And Skhog 6
2.3.1 Keadaan Fisik Media 8
2,3,2 Asam amino 8
2.4 Embriozigotik 8
2.5 Zat pengatur tumbuh 9
2.5.1 2,4D 11
2.5.2 IBA 11
2.6 hipotesa 12
BAB 3 METODE PELAKSANAAN 13
3.1 Bahan dan Alat 13
3.1.1 Bahan 13
3.1.2 Alat 13
3.2 Metode Penelitian 13
3.3 Pelaksanaan 14
3.3.1 Persiapan Eksplan 14
3.3.2 Inisiasi 14
3.3.3 Inkubasi 14
3.4 Parameter Pengamatan 15
3.4.1 Kedinian Pembentukan Kalus 15
3.4.2 Morfologi Kalus 15
3.4.3 Persentase Kalus 15
3.4.4 Berat Kalus 15
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 16
4.1 Kedinian Pembentukan Kalus 16
4.2 Morfologi Kalus 18
4.3 Persentase Kalus 20
4.4 Berat Kalus 21
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 22
5.1 Kesimpulan 22
5.2 Saran 22
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta (Pelita perkebunan, 2009).
Perbanyakan kakao umumnya dilakukan secara generatif menggunakan benih dan secara vegetatif menggunakan setek, okulasi, dan sambung pucuk. Cara perbanyakan menggunakan benih terdapat kelemahan yaitu variasi produksi dari setiap individu tanaman. Bahan tanam dapat diperoleh melalui setek cabang ortotrop tetapi jumlahnya terbatas. Pada okulasi dan sambung pucuk diperlukan 2 macam bahan tanam yaitu batang bawah dan batang atas. Untuk penyediaan bahan tanam dalam jumlah besar dijumpai kendala terbatasnya kedua macam bahan tersebut terutama batang atas, (Winarsih, 2009). Dengan teknik kultur jaringan diharapkan kendala itu dapat diatasi sehingga diperoleh bahan tanaman klonal dalam jumlah besar dan dalam waktu yang relatif singkat.
Kultur jaringan tanaman kakao telah dicoba dengan menggunakan beberapa jenis eksplan, antara lain pucuk tuna, kultur pucuk meristem, (Esen, 1977 dalam Utami, (2009). Hasil penelitian tanaman kakao melalui kultur jaringan menggunakan eksplan berupa embriozigotik muda (immature). Tehnik embriozigotik sangat menguntungkan bagi para pemulia tanaman kakao, terutama untuk perbanyakan klon-klon dalam waktu yang relatif singkat, (oetami, 2009). Keberhasilan perbanyakan kakao melalui embriozigotik sangat dipengaruhi oleh beberapa factor, diantaranya adalah umur fisiologi eksplan. Selain itu eksplan dapat tumbuh dengan baik pada kombinasi media dan zat pengatur tumbuh serta fitohormon yang terkandung didalam eksplan, (Oetami, 2009).
Eksplan yang dapat digunakan untuk embryogenesis somatik adalah bunga. selain bunga buah muda juga dapat dijadikan eksplan untuk embryozigotik. Selama ini dengan menggunakan embryozigotik telah dihasilkan embryozigotik pence et al., (1979). Buah kakao yang digunakan sebagai eksplan adalah buah muda yang berumur 90-120 hari Triastanto, (2005). Embryozigotik yang akan digunakan diisolasi dari bakal biji. Embrio yang dipilih adalah embrio yang berukuran 2-4 mm Triastanto, (2005)
Selain eksplan faktor yang mempengaruhi keberhasilan kultur embryozigotik adalah zat pengatur tumbuh yang digunakan. Eksplan yang ditumbuhkan dalam media yang tepat dapat beregenerasi melalui embryogenesis dan organogenesis (Gunawan, 1988). Dalam kultur jaringan dengan tujuan pengkalusan, zat pengatur tumbuh yang sering digunakan adalah golongan auksin yang dikombinasikan dengan sitokinin dengan konsentrasi rendah. Auksin yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah jenis IBA dan 2,4D. Peran fisiologis auksin adalah mendorong perpanjangan sel, pembelahan sel, diferensiasi jaringan xilem dan floem, (Sandra, 2010).
Menurut Gunawan, (1988), zat pengatur tumbuh berperan penting dalam menentukan arah pertumbuhan suatu kultur. Setiap genotip mempunyai respon yang berbeda dalam penyerapan zat pengatur tumbuh dalam media dan mempunyai kandungan zat pengatur tumbuh endogen yang berbeda. Hasil penelitian Oetami, (2002) menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara IBA dan klon yang diuji pada semua parameter pengamatan eksplan menghasilkan embrio. Respon setiap klon terhadap konsentrasi IBA yang berbeda yaitu 0, 1, 2, 3, dan 4 mg/l. Respon inisiasi kalus paling baik pada klon ICS 60 diperoleh dari perlakuan IBA 3 mg/l. Sedangkan menurut Fitrianti, (2006) Asam 2,4-D dan Kinetin merupakan zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan tumbuhan. Asam 2,4-D adalah salah satu auksin yang berperan dalam pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman.
1.2 Rumusan Masalah
Kendala yang dihadapi dalam kultur jaringan kakao selama ini adalah produksi, fenol dan lendir yang berlebih dari eksplan vegetatif, sehingga menghambat proses regenerasi (Ampomah, 1992). Hal serupa juga dikemukakan oleh Priyono, (1995) bahwa kandungan fenolik yang tinggi pada eksplan pucuk mengakibatkan terhambatnya proses regenerasi dan pembentukan kalus pada eksplan.
Teknik kultur jaringan kakao selama ini telah dikembangkan dengan berbagai metode misalnya kultur anter dengan kombinasi zat pengatur tumbuh akan tetapi belum berhasil menumbuhkan planlet. Berbagai metode kemudian dikembangkan dengan menggunakan zat pengatur tumbuh golongan auksin (Winarsih, 2009).
Menurut Fitrianti (2006) Zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan khususnya pada tujuan pengkalusan adalah auksin dan sitokinin. Zat pangatur tumbuh yang digolongkan auksin yang sering digunakan dalam kultur jaringan, seperti asam IBA, dan 2,4D yang cenderung menyebabkan terjadinya pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman. Oleh karena itu perlu diuji kembali peranan zat pengatur tumbuh dari golongan auksin terhadap pembentukan kalus yang optimal pada embryozigotik.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui pengaruh pemberian jenis auksin yang optimal dalam pertumbuhan kalus yang optimal embriozygotik kakao
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Dapat memperbaiki kualitas bibit kakao melalui pengadaan bibit kakao hasil kultur jaringan
1.4.2 Dapat menjadi kajian ilmiah lebih lanjut dalam penelitian tanaman kakao melalui kultur jaringan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Kakao ( Theobroma cacao L. )
Kakao (Theobroma cacao L) merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon, di alam dapat mencapai ketinggian 10 m (Pelita perkebunan, 2009). kakao merupakan tanaman yang menumbuhkan bunga dari batang atau cabang, sehingga tanaman ini digolongkan kedalam kelompok Caulifloris, (siregar dkk., 2009).
Buah kakao berupa buni yang daging bijinya sangat lunak Pada waktu muda, biji menempel pada bagian kulit buah, dan apabila telah matang akan terlepas dari kulit buah, (Siregar dkk., 2009). Buah muda kakao (Cherelle) selama 3 bulan pertama akan menjadi Cherelle with, Sunanto, (1992). Buah berbentuk bulat hingga memanjang dan memiliki Endospermia biji yang mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi, Wikipedia, (2009).
2.2 Kultur Jaringan Kakao
Kultur Jaringan adalah teknik memperbanyak tanaman dengan memperbanyak jaringan mikro tanaman yang ditumbuhkan secara invitro menjadi tanaman yang sempurna dalam jumlah yang tidak terbatas. Yang menjadi dasar kultur jaringan ini adalah teori totipotensi sel yaitu setiap sel organ tanaman akan mampu tumbuh menjadi tanaman yang sempurna jika ditempatkan di lingkungan yang sesuai. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperbanyak tanaman dengan waktu yang lebih singkat (Gunawan, 2003).
Menurut Winarsih, (2009) sekitar satu minggu setelah dikulturkan pada media induksi, embryozigotik mulai membengkak, warnanya menjadi lebih putih dan bagian daun kotilnya menggulung. Seiring dengan membesarnya ukuran explant tersebut kalus mulai tumbuh pada permukaan hipokotil maupun daun kotil.
Kendala yang dihadapi dalam kultur jaringan kakao selama ini adalah produksi kalus, fenol dan lendir yang berlebih dari eksplan vegetatif, sehingga menghambat proses regenerasi kalus, (Ampomah, 1992). Hal serupa juga dikemukakan oleh Priyono, (1995) bahwa kandungan fenolik yang tinggi pada eksplan pucuk mengakibatkan terhambatnya proses regenerasi eksplan.
Pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur jaringan sangat dipengaruhi oleh keadaan jaringan tanaman yang digunakan sebagai eksplan. Selain faktor genetis eksplan yang telah disebutkan di atas, kondisi eksplan yang mempengaruhi keberhasilan kultur adalah jenis eksplan, ukuran, umur dan fase fisiologis jaringan yang digunakan sebagai eksplan, (Erwin, 2009).
Menurut Erwin (2009), umur eksplan sangat berpengaruh terhadap kemampuan eksplan tersebut untuk tumbuh dan beregenerasi. Umumnya eksplan yang berasal dari jaringan tanaman yang masih muda (juvenil) lebih mudah tumbuh dan beregenerasi dibandingkan dengan jaringan yang telah terdiferensiasi lanjut. Jaringan muda umumnya memiliki sel-sel yang aktif membelah dengan dinding sel yang belum kompleks sehingga lebih mudah dimodifikasi dalam kultur dibandingkan jaringan tua. Oleh karena itu, inisiasi kultur biasanya dilakukan dengan menggunakan pucuk-pucuk muda, kuncup-kuncup muda, hipokotil, inflorescence yang belum dewasa, dan lain-lain.
Ukuran eksplan juga mempengaruhi keberhasilan kultur. Eksplan dengan ukuran kecil lebih mudah disterilisasi dan tidak membutuhkan ruang serta media yang banyak, namun kemampuannya untuk beregenerasi juga lebih kecil sehingga dibutuhkan media yang lebih kompleks untuk pertumbuhan dan regenerasinya. Sebaliknya semakin besar eksplan, maka semakin besar kemungkinannya untuk membawa penyakit dan makin sulit untuk diterilkan, membutuhkan ruang dan media kultur yang lebih banyak. Ukuran eskplan yang sesuai sangat tergantung dari jenis tanaman yang dikulturkan, teknik dan tujuan pengkulturannya (Erwin, 2009).
Selain organ bunga, eksplan yang dapat digunakan untuk embryogenesis somatik adalah embryiozigotik. Selama ini dengan menggunakan embryozigotik telah dihasilkan embriosomatik pence et al., 1979 dalam Oetami 2009) Buah kakao yang digunakan sebagai eksplan adalah buah muda yang berumur 90-120 hari. Buah muda yang akan digunakan sebagai bahan tanam disterilisasi dengan menggunakan alkohol 70% selama 10 menit. Embryozigotik yang akan digunakan diisolasi dari bakal biji. Embrio yang dipilih adlah embrio yang berukuran 2-4 mm (Triastanto, 2005)
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengkulturan suatu tanaman adalah lingkungan kultur. Lingkungan kultur merupakan hasil interaksi antara bahan tanaman, wadah kultur, dan lingkungan eksternal ruang kultur. Ruang kultur memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap suatu sistem kultur jaringan. Secara teoritis sejumlah faktor lingkungan yang berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan kultur adalah suhu, cahaya, karbondioksida dan kelembaban, (Zulkarnain, 2009). Menurut Read, (1990, dalam Zulkarnain, 2009) menyatakan bahwa suhu berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan sel dan jaringan, pembentukan organ tanaman, dan berkaitan erat dengan perkembangan tanaman yang berada dibawah pengaruh enzim. Selain itu peranan suhu lebih kritis pada kultur in vitro dibandingkan dengan kultur in vivo. Hal itu disebabkan oleh sifat jaringan yang peka dan kurangnya mekanisme perlindungan terhadap jaringan tersebut. Suhu optimum untuk terjadinya morfogenesis tidak selalu sama untuk setiap spesies tanaman. Menurut Winarsih, (2009) untuk dapat menginduksi kalus tanaman kakao klon Sca 6 membutuhkan suhu 20-240C winarsih dkk, (2002).
2.3 Media Dasar Kultur Jaringan Murashige Skoog
Media Murashige & Skoog (MS) merupakan perbaikan komposisi media Skoog, terutama kebutuhan garam anorganik yang mendukung pertumbuhan optimum pada kultur jaringan tembakau. Media MS mengandung 40 mM N dalam bentuk NO3 dan 29 mM N dalam bentuk NH4+. Kandungan N ini, lima kali lebih tinggi dari N total yang terdapat pada media Miller, 15 kali lebih tinggi dari media tembakau Hildebrant, dan 19 kali lebih tinggi dari media White. Kalium juga ditingkatkan sampai 20 mM, sedangkan P, 1.25 mM. Unsur makro lainnya konsentrasinya dinaikkan sedikit. Pertama kali unsur-unsur makro dalam media MS dibuat untuk kultur kalus tembakau, tetapi komposisi MS ini sudah umum digunakan untuk kultur jaringan jenis tanaman lain, (Erwin, 2009).
Media MS paling banyak digunakan untuk berbagai tujuan kultur pada tahun-tahun sesudah penemuan media MS, sehingga dikembangkan media-media lain berdasarkan media MS tersebut, antara lain media Lin & Staba, menggunakan media dengan setengah dari komposisi unsur makro MS, dan memodifikasi : 9 mM ammonium nitrat yang seharusnya 10mM, sedangkan KH2 PO4 yang dikurangi menjadi 0.5 Mm, tidak 0.625 mM. Larutan senyawa makro dari media Lin & Staba, kemudian digunakan oleh Halperin untuk penelitian embryogenesis kultur jaringan wortel dan juga digunakan oleh Bourgin & Nitsch (Gunawan, 1988).
Senyawa-senyawa di dalam media MS dapat terjadi pengendapan persenyawaan, ini terlihat jelas pada media cair. Kebanyakan dari persenyawaan yang mengendap adalah fosfat dan besi, kemudian dalam jumlah yang lebih sedikit adalah Ca, K, N, Zn dan Mn. Senyawa paling sedikit adalah senyawa yang mengandung unsur C, Mg, H, Si, Mo, S, Ca dan Co. Setelah tujuh hari dibiarkan, maka kira-kira 50% dari Fe dan 13% dari PO4+, mengendap, Dalton dkk., (1983 dalam Erwin, 2009). Pengendapan unsur-unsur tersebut mungkin tidak penting, karena unsur-unsur tersebut masih tersedia bagi jaringan tanaman dan pengaruh pengendapannya belum diketahui. Untuk mengatasi pengendapan Fe, Dalton dan grupnya menganjurkan supaya konsentrasi Fe dikurangi sampai 1/3 dengan EDTA yang tetap (Erwin, 2009).
Menurut Erwin, (2009) Perbedaan komposisi media, seperti jenis dan komposisi garam-garam anorganik, senyawa organik, zat pengatur tumbuh sangat mempengaruhi respon eksplan saat dikulturkan. Perbedaan komposisi dan bentuk fisik media biasanya sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan. Meskipun demikian, media yang telah diformulasikan tidak hanya berlaku untuk satu jenis eksplan dan tanaman saja. Beberapa jenis formulasi media bahkan digunakan secara umum untuk berbagai jenis eksplan dan varietas tanaman, seperti media MS.
2.3.1 Keadaan Fisik Media.
Media yang umum digunakan dalam kultur jaringan adalah medium padat, medium semi padat dan medium cair. Keadaan fisik media akan mempengaruhi pertumbuhan kultur, kecepatan pertumbuhan dan diferensiasinya. Keadaan fisik media ini mempengaruhi pertumbuhan antara lain karena efeknya terhadap osmolaritas larutan dalam media serta ketersediaan oksigen bagi pertumbuhan eksplan yang dikulturkan (Gunawan, 1998).
2.3.2 Asam Amino
Asam amino adalah salah satu zat organik yang biasanya ditambahkan dalam medium kultur jaringan asam amino selain sukrosa, zat pengatur tumbuh dan myo inositol, (Hendaryono, 1994) Asam amino memiliki peranan penting untuk pertumbuhan diferensasi kalus Hendaryono dan wijayanti, (1994). Asam amino merupakan sumber N organik yang dapat lebih cepat diserap oleh eksplan Gunawan, (1992). Asam amino memiliki N yang melekat pada posisi karbon-α, Gardner dkk., (2008). Menurut sampkin dkk.,(1970 dalam Gunawan (1994). dengan penambahan asam amino terjadi perpanjangan sel pada kultur sel Sycamore.
Beberapa jenis asam amino dinyatakan memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan eksplan. Seperti yang dilaporkan oleh liu, (1981 dalam Zulkarnain 2009) L-asparagine digunakan untuk merangsang regenerasi dalam kultur jaringan jagung. Hal serupa juga dinyatakan oleh Zulkarnain, (2009) L-glutamat adalah salah satu asam amino atau amida yang sering memberikan hasil positif bagi pertumbuhan kultur jaringan tanaman.
2.4 Embryozigotik
Embryozigotik adalah perkembangan embrio lengkap dari penyatuan gamet jantan dan gamet betina, Hertman dkk., (1990 dalam Zulkarnain 2009). Apabila dikembangkan dalam kultur jaringan makaakan mengalami perkembangan melalui tahapan oktan, globular, awal hati, hati, torpedo, dewasa.
Embrio yang digunakan dalam kultur embrio, tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan kalus semata, sebaliknya embrio tersebut diharapkan dapat menjaga integritas dan kemampuan tumbuh embrio menjadi tanaman lengkap. Menurut Gunawan, (1992) kultur embrio ditujukan untuk membantu perkecambahan embrio menjadi tanaman lengkap. Problema inkompatibel post zygotic yang diatasi dengan kultur embrio kadang-kadang dikenal dengan istilah embrio rescue walaupun keberhasilan menolong embrio masih tergolong sangat rendah, akan tetapi sudah mampu menghasilkan tanaman lengkap. Pada berbagai tingkat kematangan embrio dapat digunakan sebagai eksplan tergantung dari jenis tanaman dan tujuannya.
Eksplan merupakan faktor penting yang mempengeruhi keberhasilan kultur. Untuk memulai sistem kultur jaringan yang baru dengan spesies atau kultivar tanaman yang baru pula, sering kali menghendaki analisis yang sistemis terhadap potensi dari setiap tipe jaringan. Menurut Oetami, (2009) tiga aspek utama yang harus diperhatikan dalam memilih bahan eksplan adalah genotif, umur dan kondisi fisiologis tanaman induk.
Kondisi fisiologis eksplan memiliki peranan penting bagi keberhasilan teknik kultur jaringan. Menurut Gunawan (1988 dalam winarsih (2002) menyatakan bahwa faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan embrio somatik adalah tingkat perkembangan embryozigotik yang dikulturkan. Tingkat perkembangan eksplan (umur eksplan) mempengaruhi tipe serta morfogenesis
2.5 Zat Pengatur Tumbuh Auksin
Zat pengatur tumbuh pada tanaman (plant regulator) adalah senyawa organik bukan hara (nutrient), yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung (promote), manghambat (inhibit), dan dapat merubah fisiologi tumbuhan (Abidin, 1994). Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan dalam media sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan ke dalam media kultur sangat tergantung dari jenis eksplan yang dikulturkan dan tujuan pengkulturannya. Konsentrasi hormon pertumbuhan optimal yang ditambahkan ke dalam media tergantung pula dari eksplan yang dikulturkan serta kandungan hormon pertumbuhan endogen yang terdapat pada eksplan tersebut. Komposisi yang sesuai ini dapat diperkiraan percobaan-percobaan yang telah dilakukan sebelumnya dibarengi percobaan untuk mengetahui kompisisi hormon pertumbuhan yang sesuai dengan kebutuhan dan arah pertumbuan eksplan yang diinginkan, (Erwin, 2009).
Menurut Hendaryono, (1994) dan Fitrianti, (2006) dalam kultur in vitro terdapat 2 golongan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang sangat penting adalah sitokinin dan auksin. ZPT ini mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ. Interaksi dan perimbangan dalam zat pengatur tumbuh (ZPT) yang diberikan dalam media dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah suatu kultur. Auksin sintetik terdiri dari IAA, IBA, NAA dan herbisida yang bersifat auksin.
Sandra, (2010). Menyatakan bahwa peranan Auksin dalam aktifitas kultur jaringan sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus, menghambat kerja sitokinin membentuk klorofil dalam kalus, mendorong proses morfogenesis kalus, membentuk akar atau tunas, mendorong proses embriogenesis, dan auksin juga dapat mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman.
Auksin digunakan secara luas dalam kultur jaringan untuk merangsang pertumbuhan kalus, suspensi sel, dan organogenesis. Pemilihan jenis auksin dan konsentrasinya tergantung dari tipe pertumbuhan yang dikehendaki, level auksin endogen, kemampuan auksin mensintesis auksin dan zat pengatur tumbuh lain yang ditambahkan, (Sandra, 2010).
Santoso dan Nursandi, (2001) menambahkan auksin sebagai zat pengatur tumbuh berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman yaitu :
a. Auksin dapat meningkatkan kandungan asam nukleat sel karena auksin bekerja pada proses replikasi DNA dan karena DNA mempunyai sifat auto katalitik maka auksin berpengaruh memacu kemampuan DNA agar sifat auto katalitiknya berfungsi
b. Auksin mempengaruhi protein membran sehingga sintesis protein dan asam nukleat dapat lebih cepat
c. Auksin dapat mempengaruhi pembentukan akar baru, pembelahan sel dan pembentukan tunas
Menurut Wattimena (1998, dalam 1998), auksin alamiah yang sering terdapat pada tumbuhan adalah IAA (Asam 3-indol Asetat). IAA disintesis dari triptopan pada bagian tanaman tertentu yaitu primordial daun, daun muda dan biji yang sedang berkembang. Sedangkan auksin sintetik yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah IBA (Asam – Indol Butirat) dan 2,4 D (2,4Diklorofenoksiasetat).
2.5.1 2,4 D (2,4-Diklorofenoksiasetat).
Menurut Ariwahono, (2010) 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) adalah herbisida sistemik yang umum untuk digunakan dalam mengontrol gulma yang tumbuh dalam tanaman pertanian. Selain itu, 2,4-D dikenal sebagai salah satu jenis auksin sintetik. 2,4-D merupakan jenis auksin sintetis yang sering digunakan dalam kultur jaringan, (Abidin, 1982). Dalam konsentrasi rendah 2,4-D dapat berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh yang mampu merangsang dan menggiatkan pertumbuhan tanaman. Hal serupa juga diungkapkan oleh Fitrianti, (2006) Asam 2,4-D adalah salah satu auksin yang berperan dalam pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman. 2,4 Dmemiliki Rantai yang mempunyai gugus karboksil dipisahkan oleh karbon atau karbon dan oksigen akan memberikan aktivitas yang optimal (Abidin, 1985).
Sebagai salah satu senyawa yang masuk ke dalam grup hormon auksin, maka 2,4-D dapat bekerja maksimum untuk pembelahan dan pembesaran sel serta pembentukan akar stek bila diberikan dalam konsentrasi rendah. Herbisida jenis 2,4 -D ini tergolong ideal, karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya : relatif murah, tidak meninggalkan racun pada hewan, (Manurung, 2010).
2.5.2 IBA (Asam 3 – Indol Butirat)
3-indol asam butirat (-indol-3-butanoat asam 1H, IBA) adalah Kristal putih padat, dengan rumus molekul C 12 H 13 NO 2. IBA merupakan salah satu hormon tanaman dalam golongan auksin yang sering digunakan pada pengakaran tanaman hortikultura. IBA meleleh pada 125 ° C dan tekanan atmosfir 15 psi dan terurai sebelum dipanaskan. Untuk dapat menggunakan, harus dilarutkan dalam alkohol 75%, kemudian dilarutkan kembali dengan air steril, karena IBA tidak dapat dilarutkan dengan air. Jenis auksin ini merupakan auksin sintetis, karena terbuan dari daun dan biji jagung, William, (1999).
2.6 Hipotesa
Terdapat 1 jenis auksin dengan 1 konsentrasi yang mempengaruhi pembentukan kalus embryozigotik kakao secara optimal
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Politeknik Negeri Jember di Jember, penelitian akan dimulai pada bulan Januari 2010 sampai dengan Juli 2010.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah : Media B5 ((NH4)2SO4, KNO3, CaCl2 . 2H2O, MgSO4 . 7H2O, NaH2PO4 . H2O, FeSO4 . 7H2O, Na2EDTA, MnSO4 . H2O, CoCl2 . 6H2O Myi-inositol, Niacin, Pyridoxine-HCl, Thiamine-HCl, Sucrosa, ZnSO2 . 7H2O, H3BO3, KI, Na2MoO4 . 2H2O, CuSO4.5H2O), zat pengatur tumbuh (IBA) 2,4 D (2,4-Diklorofenoksiasetat), eksplan (buah kakao yang berumur 90-120 hari), Spiritus, Korek api, dan Alkohol, almunium foil dan aquades steril.
3.2.2 Alat
Alat-alat yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian ini adalah : pipet, Erlenmeyer, gelas ukur, autoklaf, botol kultur, Pinset steril, Pisau steril, laminar, lampu Bunsen, Petridis, pipet, Erlenmeyer, gelas ukur, autoklaf, botol kultur.
3.3 Metode Penelitian
Penelitian disusun menurut rancangan acak lengkap (RAL) faktor tunggal dengan 6 perlakuan pemberian zat pengatur tumbuh golongan auksin (A) dan diulang sebanyak 5 kali. Perlakuan penelitian meliputi :
A1 = MS + IBA 2 ppm
A2 = MS + IBA 3 ppm
A3 = MS + IBA 4 ppm
A4 = MS + 2,4D 2 ppm
A5 = MS + 2,4D 3 ppm
A6 = MS + 2,4D 4 ppm
3.4 Pelaksanaan
3.4.1 Persiapan eksplan
Eksplan yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari buah kakao yang berumur 90 – 120 hari. Buah yang akan digunakan untuk mengantisipasi adanya serangan hama atau pathogen. Satu minggu sebelum inisiasi dilakukan penyemprotan dengan fungisida dan bakterisida pada konsentrasi 1 %.
3.4.2 Persiapan media
Media yang digunakan adalah media B5 yang ditambahkan dengan zat pengatur tumbuh IBA dan 2,4D sesuai dengan perlakuan. Media dituangkan kedalam botol kultur. Setiap botol diisi 20 ml media. Kemudian media disterilkan selama 20 menit dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 121oC dan tekanan 15 Psi.
3.4.3 Inisiasi
Sebelum melakukan kegiatan inisiasi, buah muda yang akan diinisiasi disteril terlebih dahulu. Buah muda dibersihkan dengan menggunakan detergen dan dicuci dengan air hingga bersih. Kemudian kupas kulit buah muda kakao dengan menggunakan pisau. Kemudian bawa buah muda yang telah dikupas kedalam laminar. Cuci eksplan dengan aquadest steril kemudian letakkan eksplan diatas Petridis. Siapkan alat-alat dan bahan yang dibutuhkan dalam inisiasi.
Celupkan eksplan kedalam alcohol 90 % kemudian dibakar (langkah ini diulang sebanyak 2-3 kali). Setelah api padam, ambil eksplan dengan menggunakan pinset. Congkel eksplan pada bagian biji eksplan, kemudian ambil embrio dengan menggunakan pisau. Bersihkan lendir yang menempel pada embrio. Tanam embrio pada media yang telah disiapkan. Kemudian tutup media dengan menggunakan almunium foil.
3.4.4 Inkubasi
Setelah eksplan selesai diinisiasikan pada media, eksplan diinkubasikan diruangan gelap selama 8 minggu. Ruang inkubasi harus dalam keadaan gelap selama 24 jam dengan suhu 230C.
3.5 Parameter Pengamatan
3.5.1 Kecepatan eksplan dalam pembentukan kalus (hari)
Pengamatan bertujuan untuk mengetahui kecepatan berkalus eksplan pada tiap-tiap perlakuan. pengamatan dilakukan dengan cara mengamati perubahan eksplan yang menunjukkan tanda-tanda terbentuknya kalus.
3.5.2 Persentase pembentukan kalus (%)
Pengamatan bertujuan untuk mengetahui eksplan yang membentuk kalus setelah 21 hari setelah tanam dengan cara menghitung persentase terbentuknya kalus pada tiap-tiap perlakuan. Pengamatan ini dilakukan pada minggu ke 8 setelah tanam.
3.5.3 Morfologi kalus yang dihasilkan
Pengamatan bertujuan untuk mengetahui jenis kalus yang dihasilkan pada tiap-tiap perlakuan. pengamatan dilaksanakan dengan cara mengamati kekompakan dan keremahan kalus yang dihasilkan pada tiap-tiap perlakuan. Morfologi kalus dapat diamati dengan cara melihat bentuk butiran kalus yang terbentuk. Pengamatan ini lakukan pada minggu ke 8 setelah tanam.
3.5.4 Berat Kalus (Mg)
Pengamatan bertujuan untuk mengetahui berat kalus yang dihasilkan dalam tiap-tiap perlakuan. pengamatan dilakukan dengan cara menimbang eksplan dengan menggunakan timbangan digital. Pengamatan dilakukan pada minggu ke 8 setelah tanam.
BAB 4 HASIL
4.1 Kedinian Pembentukan Kalus
Kedinian pembentukan kalus adalah kemampan atau kecepatan eksplan dalam membentuk kalus.kedinian pembentukan kalus dihitung berdasarkan kecepatan eksplan menunjukkan tanda-tanda membentuk kalus.
Tabel 4..1.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap Kedinian Pembentukan Kalus Embryozigotik Kakao
SK db JK KT Fhitung Ftabel
0.01 0.05
PERLAKUAN 5 322.30 64.46 3.03 * 3.90 2.62
GALLAT 24 510.40 21.27
TOTAL 29 832.70
KK39.66%
Keterangan * = Berbeda Nyata
Besdasarkan hasil analisis sidik ragam (Tabel 4.1.1), dari 6 perlakuan yang diujikan manunjukkan nilai F hitugn lebih besar dari F tabel 0,05 dan lebih kecil dari F tabel 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa golongan auksin yang ditambahkan pada media MS dengan konsentrasi yang berbeda-beda memberikan respon berbeda sangat nyata.
Tabel 4.1.2 Rerata Kedinian Pembetukan Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin
Perlakuan Rerata kedinian berkalus (hari)
A1 11.00 a
A2 11.40 a
A3 10.20 a
A4 13.50 b
A5 11.67 a
A6 12.00 a
Keterangan : nilai yang dilanjutkan dengan huruf yang sama menunjukkan respon berbeda tidak nyata menurut uji JND 5%
Eksplan yang mampu membentuk kalus rata-rata tumbuh pada kisaran hari ke 10 – 12. Hanya ada satu perlakuan yang menunjukkan awal pembentukan kalus pada hari ke 14 yaitu perlakuan A4. Perkembangan yang optimal rata-rata ditemukan pada perlakuan media MS dengan penambahan IBA. Kalus embryozigotik kakao akan mulai terbentuk antara hari ke 9-12, akan tetapi kalus belum terlihat jelas, (Winarsih, 2002). Kalus yang muncul melebihi 12 hari umumnya perkembangannya kurang bagus, Winarsih, (2009).
4.2 Morfologi Kalus
morfologi kalus adalah bentuk fisik kalus yang dihasilkan pada tiap-tiap perlakuan yang dilihat berdasarkan bentuk, warna dan tekstur kalus. Untuk mengetahui perbedaan kalus dalam tiap-tiap perlakuan dilakuan analisis berdasarkan scoring atau uji tanda. Skor diberikan berdasarkan warna, tekstur dan warna serta arah pertumbuhan kalus.
4.2.1 Perhitungan uji tanda berdasarkan warna tekstur dan arah pertumbuhan kalus perlakuan A1 yang dibandingkan dengan perlakuan A6
n1 = Positif
n2 = Negatif
X2 = (n1-n2)2 /n1+n2
= 9/5 = 1,8
X tabel = 3,90
X2 1,8 ≤ 3,90 = NS
4.2.2 Perhitungan uji tanda berdasarkan warna tekstur dan arah pertumbuhan kalus perlakuan A2 yang dibandingkan dengan perlakuan A6
n1 = Positif
n2 = Negatif
X2 = (n1-n2)2/n1+n2
= 9/5 = 1,8
X tabel = 3,90
X2 1,8 ≤ 3,90 = NS
4.2.3 Perhitungan uji tanda berdasarkan warna tekstur dan arah pertumbuhan kalus perlakuan A3 yang dibandingkan dengan perlakuan A6
n1 = Positif
n2 = Negatif
X2 = (n1-n2)2 /n1+n2
= 9/5 = 1,8
X tabel = 3,90
X2 1,8 ≤ 3,90 = NS
Dilihat dari hasil uji tanda morfologi kalus pada tiap-tiap perlakuan, dari 6 perlakuan yang diujikan menyatakan berbeda tidak nyata. Walaupun kalus yang dihasilkan memiliki ciriyang berbeda, akan tetapi hasil scoring dari tiap-tiap perlakuan menghasilkan selisih nilai lebih rendah dari X tabel.
4.3 Persentase pembentukan Kalus
Persentase kalus dihitung berdasarkan hasil penimbangan berat kalus yang terbentuk dibandingkan dengan total berat akhir eksplan sebelum dikurangi dengan berat kalus.
Tabel 4.3.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap persentase Pembentukan Kalus Embryozigotik Kakao
SK db JK KT Fhitung Ftabel
0.01 0.05
PERLAKUAN 5 1805.90 361.18 6.87 ** 3.90 2.62
GALLAT 24 1261.39 52.56
TOTAL 29 3067.30
KK 42.80 %
Keterangan : ** = Berbeda Sangat Nyata
. Dari hasil sidik ragam pada tabel 4.3.1 menunjukkan setiap perlakuan menunjukkan respon berbeda sangat nyata, dengan koefisien keragaman 42,80 %. Pada pengamatan ini kalus yang terbentuk sudah dapat dilihat bentuk, warna dan arah pertumbuhannya.
Tabel 4.3.2 Rerata persentase Pembetukan Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin
Perlakuan Rerata Persentase Pembentukan Kalus (%)
A1 26.81 d
A2 15.90 b
A3 19.32 c
A4 10.55 a
A5 20.22 c
A6 8.80 a
Keterangan : nilai yang dilanjutkan dengan huruf yang sama menunjukkan respon berbeda sangat nyata menurut uji JND 5%
Pada minggu ke 8 semua perlakuan menunjukkan pengkalusan. Setiap perlakuan menghasilkan kalus dengan persentase yang berbeda-beda. Kalus yang dihasilkan tiap-tiap perlakuan berkisar antara 8 – 26% persentase tertinggi ditunjukkan pada perlakuan A1 yaitu 26,8 % dan persentase berkalus paling rendah ditunjukkan pada perlakuan A6. Berdasarkan notasi perlakuan A6 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A4 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan A1, Sedangkan perlakuan perlakuan A2 dan A3 menunjukkan berbeda nyata dengab perlakuan A1.
4.4 Berat Kalus
Berat kalus dihitung dari kalus yang terbentuk pada setiap perlakuan. Kalus ditimbang dengan menggunakan timbangan digital. Kalus dipisahkan dari eksplan yang belum membentuk kalus.
Tabel 4.4.1 Hasil Analisis Sidik Ragam Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin Terhadap Berat Kalus Embryozigotik Kakao
SK db JK KT Fhitung Ftabel
0.01 0.05
PERLAKUAN 5 1971.50 394.30 3.57 * 3.90 2.62
GALLAT 24 2648.80 110.37
TOTAL 29 4620.30
KK 56.18 %
Keterangan : * = Berbeda Nyata
Berdasarkan analisis sidik ragam pada tabel 4.4.1 menunjukkan bahwa F hitung lebih besar dari F tabel 1%. Hal ini menyatakan bahwa perlakuan yang diujikan menunjukkan berbeda nyata. Dari hasil analisis pada tabel 4.4.1 maka perlu dilakukan uji lanjut dengan menggunakan Jarak Nyata Duncan (DNJ).
Tabel 4.4.2 Rerata Berat Kalus Embryozigotik Kakao Akibat Penambahan Zat Pengatur Tumbuh Golongan Auksin
Perlakuan Rerata berat kalus embryozigotik
A1 29 a
A2 24 ab
A3 26.2 ab
A4 7 b
A5 12 b
A6 14 b
Keterangan : Nilai yang dilanjutkan dengan huruf yang sama menunjukkan respon berbeda sangat nyata berdasarkan uji JND 5%
Berdasarkan hasil analisis rerata pada tabel 4.4.2 menunjukkan bahwa perlakuan yang memiliki berat kalus ditunjukkan pada perlakuan A1 dengan nilai rerata berat kalus 29 gram. Perlakuan A1 berbeda nyata tidak nyata dengan perlakuan A2 dan perlakuan A3 serta berbeda nyata dengan perlakuan A4, A5, dan A6.
BAB 5 PEMBAHASAN
4.1 Kedinian Pembentukan Kalus
Hasil pengamatan pada hari ke awal pembentukan kalus pada hari ke 9-12 menunjukkan respon positif dari tiap tiap perlakuan. Sekitar 90% eksplan yang diinisiasi telah menunjukkan tanda-tanda membentuk kalus, walaupun respon setiap eksplan berbeda-beda. Menurut Winarsih, (2003 dalam Oetami, 2009) menyatakan bahwa periode ini merupakan terbentuknya kalus. Kalus yang terbentuk belun terlihat jelas.
Hasil pengamatan rerata kedinian berkalus eksplan, menunjukkan bahwa eksplan yang mampu membentuk kalus rata-rata tumbuh pada kisaran hari ke 9 – 12. Hanya ada satu perlakuan yang menunjukkan awal pembentukan kalus pada hari ke 14 yaitu perlakuan A4. Kalus embryozigotik kakao akan mulai terbentuk antara hari ke 9-12, akan tetapi kalus belum terlihat jelas, (Utami, 2009). Perkembangan yang optimal rata-rata ditemukan pada perlakuan media MS dengan penambahan IBA. Bahkan Pada hari ke 12 telah ditemukan eksplan yang telah 100% membentuk kalus, walaupun kalus belum dapat terlihat jelas.
Berdasarkan tabel 4.1.2 terlihat bahwa perlakuan menunjukkan respon yang berbeda-beda. Pada 3 level IBA terlihat pertumbuhan eksplan sangat tinggi, >90%. Selain itu eksplan yang membentuk kalus pada perlakuan MS dengan penambahan IBA terlihat cukup tinggi. Berbeda dengan 3 level 2,4D jumlah eksplan yang memberi respon positif lebih sedikit dibandingkan dengan perlakuan media MS dengan penambahan IBA. Selain itu sekitar 30 % dari eksplan yang ditanam pada perlakuan ini tidak mengalami perkembangan dan bahkan mati. Auksin dapat berpengaruh pada pemanjangan sel, akan tetapi pada konsentrasi tinggi malah berfungsi sebaliknya, (Ariwahono, 2010). Menurut Raharja, (1994) bahan yang digunakan harus dengan konsentrasi yang tepat. Kelebihan konsentrasi dapat menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah diuji lanjut dengan menggunakan Jarak Nyata Duncan (JND) 5%, dapat dilihat perakuan yang menunjukkan berbeda sangat nyata. Pertumbuhan paling cepat ditunjukkan oleh perlakuan A3 yaitu media MS dengan penambahan 4 ppm IBA. Menurut winarsih, (2002) setiap klon menampilkan respon yang berbeda-beda pada setiap perlakuan, hasil terbaik diperoleh pada perlakuan klon ICS60 dengan penambahan 3 ppm IBA. Respon paling lambat ditunjukkan oleh perlakuan A4 media MS dengan penambahan 2 ppm 2,4D. menurut Sandra, (2009) pada konsentrasi tinggi 2,4D dapat berubah peranan menjadi herbisida. Terhambatnya pembentukan kalus pada perlakuan dengan penambahan 2,4 D diperkirakan diakibatkan oleh ketidak mampuan eksplan menyerap unsur hara pada media, terutama zat pengatur tumbuh yang tersedia.selain itu karena konsentrasi zat pengatur tumbuh yang tinggi sehingga dan bersifat herbisida, dan dapat menekan pertumbuhan sel-sel pada eksplan yang akhirnya mongering dan mati.
4.2 Morfologi Kalus
Dari hasil identifikasi ciri-ciri kalus, setiap perlakuan menghasilkan kalus dengan ciri-ciri yang berbeda-beda. Pada perlakuan A1 kalus yang dihasilkan terlihat berwarna kuning kehijauan dan bertekstur kompak, sedangkan kalus pada perlakuan A4, A5 dan A6 cenderung berwarna putih dan bertekstur semi remah. Berdasarkan uji tanda, hasil analisis menunjukkan bahwa dari 6 perlakuan yang diujikan tidak ada yang menunjukkan berbeda nyata.
Dari ciri-ciri kalus yang terbentuk, setiap perlakuan menunjukkan pembentukan kalus yang arah pertumbuhannya berbeda-beda. Kalus yang terbentuk pada perlakuan IBA rata-rata menunjukkan ciri-ciri pembentukan embrio. Menurut Winarsih, (2002) kalus yang terbentuk selanjutnya mengalami pendewasaan yang dicirikan oleh bertambahnya volume kalus dan warna kalus yang semula berwarna putih menjadi kuning krem hingga kecoklatan. Sedangkan pada perlakuan 2,4D kalus yang terbentuk masih berwarna putih dan ukuran kalus tidak bertambah. Hal ini dapat diartikan bahwa kalus yang dihasilkan tidak berpotensi menjadi embrio.
4.3 Persentase pembentukan Kalus
. Persentase kalus dihitung dari total berat akhir kalus dari seluruh ulangan perlakuan dikurangi berat kalus yang dihasilkan. Pada pengamatan mingu ke 8 dapat dilihat dengan jelas tekstur, diameter dan warna dari kalus yang terbentuk. Dilihat dari hasil pengamatan minggu ke 8 semua perlakuan menunjukkan pengkalusan. Setiap perlakuan menghasilkan kalus dengan persentase yang berbeda-beda. Kalus yang dihasilkan tiap-tiap perlakuan berkisar antara 8 – 26% persentase tertinggi ditunjukkan pada perlakuan A1 yaitu 26,8 % dan persentase berkalus ter rendah ditunjukkan pada perlakuan A6.
Bila dikaitkan dengan kedinian terbentuknya kalus pada tabel 4.1.2 perlakuan A4 memiliki perkembangan lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan A6. Walaupun dalam pembentukan kalus lebih lambat dibandingkan perlakuan 2,4D lainnya, persentase kalus yang dihasilkan pada perlakuan ini lebih tinggi. Lambatnya pembentukan kalus pada perlakuan A4 diakibatkan oleh kurang tersedianya zat pengatur tumbuh yang tersedia didalam media yang dibutuhkan pada saat awal pembentukan kalus.
Dari hasil uji lanjut dengan menggunakan metode jarak nyata (DNJ) 5% dapat dilihat bahwa perlakuan yang menunjukkan persentase berkalus paling rendah adalah pada perlakuan A6 yaitu Perkembangan hingga minggu ke 8 menunjukkan menghasilkan kalus sekitar 8% dari keseluruhan berat eksplan. Sedangkan persentase tertinggi ditunjukksn pada perlakuan A1.
4.4 Berat Kalus
Perkembangan pada minggu ke 8 berdasarkan analisis sidik ragam, setiap perlakuan mengalami perkembangan yang positif. Setiap eksplan yang pada hari ke 9-13 mengalami pembentukan kalus, pada minggu ke 8 kalus yang terbentuk sangat terlihat jelas. Walaupun setiap perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada setiap perlakuan, akan tetapi setiap eksplan yang diinisiasi mampu memberi respon yang positif terhadap perlakuan yang diujikan, artinya setiap eksplan yang diinisiasi pada perlakuan yang diujikan mempu membentuk kalus. Berdasarkan teori totepotensi yaitu setiap sel organ tanaman akan mampu tumbuh menjadi tanaman yang sempurna jika ditempatkan di lingkungan yang sesuai. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperbanyak tanaman dengan waktu yang lebih singkat (Gunawan, 2003).
Hasil analisis rerata pada tabel 4.4.2menunjukkan bahwa tiap-tiap perlakuan memiliki respon yang berbeda dalam perkembangan kalus. Bila dilihat dari pengamatan awal pembentukan kalus yang dilakukan pada minggu ke 2 setelah inisiasi, A1 menunjukkan perkembangan yang lebih pesat dibandingkan perlakuan yang lain. Pada awal pembentukan kalus (Tabel 4.1.2) lebih lambat dibandingkan A3, akan tetapi kalus yang dihasilkan lebih berat dibandingkan dengan yang lainnya.
Walaupun perlakuan A1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A3, akan tetapi hasil yang ditunjukkan pada perlakuan ini sangat terlihat berbeda. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor lain selain perlakuan misalnya klon. Menurut Zulkarnain, (2009) Setiap genotipe atau jaringan mempunyai respon yang berbeda dalam penyerapan zat pengatur tumbuh dalam media dan memiliki kandungan zat pengatur tumbuh endogen yang berbeda.
Dari hasil analisis rerata dengan uji lanjut jarak nyata duncan (DNJ) 5% dapat dilihat perlakuan yang berbeda nyata adalah perlakuan A6 (perlakuan media MS dengan penambahan 2,4D 4 ppm), berbeda nyata dengan perlakuan A1 (media MS dengan penambahan 2 ppm IBA). berat kalus paling tinggi ditunjukkan oleh perlakuan A1 sedangkan A6 menunjukkan hasil berat kalus yang paling rendah yaitu 7 gram dari hasil rata-rata seluruh ulangan. silva dalam winarsih, (2009) yang menyatakan bahwa frekuensi pembentukan embriosomatik dipengaruhi oleh komposisi dan jenis zat pengatur tumbuh yang digunakan.
Selasa, 08 Juni 2010
apa kata Archimedes....?????
Hukum Archimedes mengatakan bahwa apabila sebuah benda sebagian atau seluruhnya terbenam kedalam air, maka benda tersebut akan mendapat gaya tekan yang mengarah keatas yang besarnya sama dengan berat air yang dipindahkan oleh bagian benda yang terbenam tersebut. Telah sama-sama kita ketahui bahwa berat jenis air tawar adalah 1.000 kg/m3, apabila ada sebuah benda yang terbenam kedalam air tawar; maka berat benda tersebut seolah-olah akan berkurang sebesar 1.000 kg untuk setiap 1 m3 air yang dipindahkan. Konsep ini akan lebih jelas bila diterangkan dengan gambar dibawah ini.
a. Berat benda pada saat diudara dan setelah terbenam dalam air tawar
Pada saat ditimbang diudara benda mempunyai berat 4.000 kg pada skala pengukur berat, sedang setelah dimasukan kedalam air berat benda menjadi 3.000 kg. Padahal masa benda tidak berubah, berkurangnya berat benda tersebut diakibatkan adanya gaya tekan keatas dari air yang dipindahkan oleh bagian benda yang ada didalam air (force of buoyancy), dengan arah kerja gayanya mengarah keatas; sedang garis kerja gayanya segaris dengan garis kerja dari gaya berat benda. Titik tangkap garis kerja gaya buoyancy biasa disebut dengan titik buoyancy atau titik B. Didalam sistem bangunan terapung titik B ini disebut juga dengan titik berat dari volume benda yang ada dibawah garis air (gambar dibawah ini)
b. Ilustrasi letak titik G dan titik B dari bangunan apung
Selanjutnya perhatikan gambar c dibawah ini; dimana pada gambar tersebut mengilustrasikan sebuah benda dengan masa sebesar 4.000 kg namun volume bendanya 8 m3. Pada awalnya benda tersebut dibenamkan kedalam air, kemudian dilepaskan. Apabila keseimbangan telah terjadi, maka benda tersebut akan mengapung seperti ditunjukan pada gambar a. Keseimbangan akan tercapai apabila besarnya gaya buoyancy sama dengan berat air yang dipindahkan oleh bagian benda yang ada didalam air atau apabila benda tersebut mengapung dengan separuh dari volumenya.
Berat benda = berat dari volume air yang dipindahkan
4000 = S x V
4000 = 1000 kg/m3 x V
atau
V = 4 m3
BAB II
Bagaimana caranya mengapungkan sebuah kota di atas laut? Mudah saja! Kita hanya perlu meletakkan kota itu di atas sebuah kapal laut raksasa! Sebuah kapal yang juga merupakan satu kota mandiri yang dapat mengarungi lautan dan samudra!
Rupanya manusia sudah mulai bosan dengan daratan sehingga mulai mencari alternatif lain untuk membangun kehidupannya. Kali ini dunia air yang mulai menarik perhatian karena sebagian besar permukaan bumi memang dipenuhi oleh air. Di saat daratan tidak lagi mampu menampung semua penduduk dunia, kita pun mulai mengadakan invasi ke perairan yang luas ini.
Di dalam air, berat benda tidak sama dengan beratnya di udara. Di dalam air benda mengalami apa yang dinamakan gaya apung (atau gaya keatas). Gaya apung ini membuat berat benda di dalam air akan terasa lebih ringan dibandingkan berat benda di udara.
Gaya apung ini ditemukan oleh Archimedes. Menurut Archimedes, besarnya gaya apung ini sama dengan berat zat cair yang dipindahkan Apa yang dimaksud dengan berat zat cair yang dipindahkan?
Misalnya kita memasukkan sebongkah es batu ke dalam gelas penuh dengan air. Sewaktu es itu dimasukkan ke gelas, ada sebagian air yang tumpah keluar. Berat air yang tumpah inilah yang disebut sebagai berat zat cair yang dipindahkan.
Menurut Archimedes, besar gaya apung pada suatu benda, sangat dipengaruhi oleh volume benda yang tercelup. Semakin besar volume benda yang tercelup semakin besar gaya apungnya. Suatu kapal besar dapat mengapung karena gaya apungnya sangat besar (ini disebabkan karena ukuran kapal yang besar sehingga volume kapal yang tercelup sangat besar).
Disamping itu gaya apung juga dipengaruhi oleh kerapatan (densitas atau massa jenis) dari cairan. Semakin besar massa jenis cairan semakin besar gaya apungnya. Ketika suatu kapal bergerak dari laut ke sungai, kapal tersebut bisa tenggelam karena gaya apung di laut lebih besar dari gaya apung di sungai (massa jenis air laut lebih besar dari massa jenis air sungai).
Berdasarkan prinsip Archimedes inilah dibuat kapal laut yang berfungsi sebagai kota terapung. Kapal laut yang nantinya akan dinamakan Freedom Ship ini berukuran lebih besar dari semua kapal laut yang pernah ada
Panjang kapal bisa mencapai 1.316 meter (4.320 kaki), dengan lebar 221 meter, dan tinggi yang mencapai 103 meter di atas permukaan air! Tentu saja kapal dengan volume sebesar ini dapat mengapung di air laut dengan mudah! Dan bukan hanya mengapung saja, kapal ini dapat juga bergerak mengarungi seluruh perairan dunia walaupun dengan kecepatan yang sangat lambat jika dibandingkan dengan kecepatan kapal layar biasa.
Kapal raksasa ini nantinya mampu menampung 50.000 penghuni tetap yang terus ditemani oleh 15.000 kru kapal. Kapal ini pun masih menyediakan tempat untuk menampung 20.000 pengunjung per harinya. Bagi para pengunjung ini disediakan 10.000 unit perhotelan dengan standar internasional, sedangkan bagi para penghuni tetap disediakan 18.000 unit perumahan dengan berbagai variasi ukuran dan harga.
Penduduk yang tinggal di kota terapung ini bisa tetap menikmati segala fasilitas yang ada di kota asal mereka karena kapal ini dilengkapi dengan perkantoran, pertokoan dan pusat niaga, gedung sekolah, pusat-pusat olahraga, tempat rekreasi, restoran, gedung bioskop, gedung pertunjukan, rumah sakit, dan berbagai fasilitas lainnya. Kota terapung ini bahkan memiliki juga bandara udara yang terletak di atapnya. Helikopter maupun pesawat-pesawat kecil dapat mendarat di bandara ini dengan aman karena ukuran kapal yang sangat besar ini membuatnya sangat stabil sebagai landasan pendaratan.
Para penduduk pun tidak akan terganggu dengan suara bising maupun getaran-getaran yang timbul akibat proses pendaratan di atap kapal raksasa itu karena kapal ini sudah dilengkapi juga dengan sistem insulasi dan desain yang baik. Bagi penduduk yang memiliki pesawat pribadi disediakan pula beberapa hangar kecil khusus untuk mereka. Untuk transportasi melalui jalur laut, kota ini menyediakan juga kapal-kapal feri yang dijadwalkan untuk berangkat ke kota-kota terdekat setiap 15 menit selama 24 jam penuh! Selain itu kota terapung ini dilengkapi juga dengan sarana komunikasi yang sangat lengkap karena setiap rumah akan memiliki saluran telepon, sambungan internet, dan siaran televisi melalui satelit yang dapat pula menyiarkan berbagai program televisi di negaranegara terdekat. Sistem keamanan kota di atas laut ini pun didukung oleh pasukan keamanan yang siap berpatroli setiap saat walaupun setiap rumah sudah
dilengkapi lagi dengan berbagai sistem keamanan elektronik yang canggih.
Penduduk kota terapung ini bisa menikmati keasyikan lain yang tidak ada di kota-kota biasa. Setiap hari mereka bisa terus mengunjungi kota-kota yang berbeda di seluruh dunia. Mungkin saja pada suatu siang tim sepakbola dari sekolah di kota terapung ini datang ke salah satu kota di Italia untuk bertanding dengan tim sepakbola di sekolah lokal di kota tersebut! Seusai pertandingan mengasyikkan itu, malam harinya kelompok band dari kota terapung ini tampil di salah satu gedung pertunjukan di kota di Italia tadi sebagai simbol persahabatan. Kegiatan-kegiatan ini bisa dilakukan di berbagai kota di dunia! Benar-benar pengalaman yang menyenangkan karena bisa mengunjungi seluruh dunia! Para pelajar di kota terapung ini bahkan bisa menikmati kunjungan ke sekolah-sekolah di kota-kota terdekat setiap harinya dengan mengikuti program daily field trip.
Konstruksi kapal terbesar di dunia ini seluruhnya dilakukan di atas laut. Prosesnya diawali dengan membuat permukaan yang mengapung di atas air, yang akan menjadi landasan dibangunnya sebuah kota yang lengkap. Kapal raksasa ini sudah pasti tidak bisa dibangun di daratan karena ukuran dan beratnya yang sangat besar dapat mempersulit proses peluncurannya ke laut. Karena itulah proses pembangunannya langsung dilakukan di atas air. Kapal raksasa ini nantinya akan digerakkan oleh 100 mesin diesel yang masing-masingnya dapat menghasilkan tenaga sebesar 3.700 HP (Horse Power).
Kota di atas laut ini juga menawarkan sistem pengolahan limbah yang sangat ramah lingkungan. Limbah minyak tidak akan dibuang ke laut, tetapi justru akan dibakar untuk menghasilkan listrik yang nantinya digunakan sebagai sumber tenaga bagi semua proses di kapal. Sedangkan berbagai limbah padat akan didaur ulang dan dijual kembali. Dengan sistem pengolahan limbah seperti ini, jumlah limbah (total) yang dihasilkan penduduk kota terapung ini bisa mencapai 80% lebih kecil dari jumlah limbah yang mungkin dihasilkan jika mereka tinggal di kota-kota biasa.
Archimedes yang hidup di Yunani pada tahun 287 sampai 212 sebelum masehi, adalah seorang matematikawan, fisikawan,
astronom sekaligus filusuf. Archimedes dilahirkan di kota pelabuhan bernama Syracuse, kota ini sekarang dikenal sebagai
Sisilia. Archimedes merupakan keponakan raja Hiero II yang memerintah di Syracuse pada masa itu.
Nama Archimedes menjadi terkenal setelah ia melompat dari bak mandinya dan berlari-lari telanjang setelah membuktikan bahwa mahkota raja tidak terbuat dari emas murni. Ucapannya "Eureka (aku menemukannya)" menjadi terkenal sampai saat ini. Archimedes juga merupakan orang pertama yang mendefinisikan sistem angka yang mengandung "myriad (10000)", myramid menunjukkan seuatu bilangan yang nilainya tak berhingga. Ia juga mendefinisikan perbandingan antara keliling lingkaran dan jari-jari lingkaran yang dikenal sebagai pi sebesar 3.1429.
Raja Hiero II kala itu terikat perjanjian dengan bangsa Romawi. Syracuse harus mengirimkan gandum dalam jumlah yang besar pada bangsa Romawi, agar mereka tidak diserang. Hingga pada suatu ketika Hiero II tidak mampu lagi mengirim gandum dalam jumlah yang ditentukan. Karena itu Archimedes ditugaskan merancang dan membuat kapal jenis baru untuk memperkuat angkatan laut raja Hiero II.
Pada masa itu, kapal yang dibuat oleh Archimedes adalah kapal yang terbesar. Untuk dapat mengambang, kapal ini harus dikeringkan dahulu dari air yang menggenangi dek kapal. Karena besarnya kapal ini, jumlah air yang harus dipindahkanpun amat banyak. Karena ituArchimedes menciptakan sebuah alat yang disebut "Sekrup Archimedes". Dengan ini air dapat dengan mudah disedot dari dek kapal. Ukuran kapal yang besar ini juga menimbulkan masalah lain. Massa kapal yang berat, menyebabkan ia sulit untuk dipindahkan. Untuk mengatasi hal ini, Archimedes kembali menciptkan sistem katrol yang disebut "Compound Pulley". Dengan sistem ini, kapal tersebut beserta awak kapal dan muatannya dapat dipindahkan hanya dengan menarik seutas tali. Kapal ini kemudian diberi nama Syracusia, dan menjadi kapal paling fenomenal pada zaman itu.
Selama perang dengan bangsa Romawi, yang dikenal dengan perang punik kedua, Archimedes kembali berjasa besar. Archimedes mendesain sejumlah alat pertahanan untuk mencegah pasukan Romawi di bawah pimpinan Marcus Claudius Marcellus, merebut Syracuse.
Saat armada Romawi yang terdiri dari 120 kapal mulai tampak di cakrawala Syracuse. Archimedes berfikir keras untuk mencegah musuh merapat dipantai. Archimedes kemudian mencoba membakar kapal-kapal Romawi ini dengan menggunakan sejumlah cermin yang disusun dari perisai-perisai prajurit Syracuse. Archimedes berencana untuk membakar kapal-kapal musuh dengan memusatkan sinar matahari. Namun rencana ini tampaknya kurang berhasil. Hal ini disebabkan untuk memperoleh jumlah panas yang cukup untuk membakar sebuah kapal, kapal tersebut haruslah diam.
Walaupun hasilnya kurang memuaskan, dengan alat ini Archimedes berhasil menyilaukan pasukan Romawi hingga mereka kesulitan untuk memanah. Panas yang ditimbulkn dengan alat ini juga berhasil membuat musuh kegerahan, hingga mereka lelah sebelum berhadapan dengan pasukan Syrcuse.
Saat musuh mulai mengepung pantai Syracuse, Archimedes kembali memutar otak. Tujuannya kali ini adalah mencari cara untuk menenggelamkan kapal-kapal Romawi ini. Archimedes kemudian menciptakan alat yang disebut cakar Archimedes. Alat ini bentuknya mirip derek pada masa kini. Setelah alat ini secara diam-diam dikaitkan ke badan kapal musuh, derek ini kemudian ditarik. Akibanya kapal musuh akan oleng, atau bahkan robek dan tenggelam.
Selain kedua alat ini Archimedes juga mengembangkan ketapel dan balista untuk melawan pasukan Romawi. Namun sayangnya walaupun didukung berbagai penemuan Archimedes, Syracuse masih kalah kuat dibandingkan pasukan Romawi. Archimedespun akhirnya terbunuh oleh pasukan Romawi. Saat tewas Archimedes sedang mengerjakan persoalan geometri dengan menggambarkan lingkaran-lingkaran di atas tanah. Sebelum dibunuh ia meneriaki pasukan Romawi yang lewat "Jangan ganggu lingkaranku!!!" Sumber:http://physics-freak.blogspot.com
Hukum Archimedes
Hukum Archimedes menyatakan sebagai berikut, Sebuah benda yang tercelup
sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang
besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkannya.
Sebuah benda yang tenggelam seluruhnya atau sebagian dalam suatu fluida akan
mendapatkan gaya angkat ke atas yang sama besar dengan berat fluida fluida yang
dipindahkan. Besarnya gaya ke atas menurut Hukum Archimedes ditulis dalam
persamaan :
Fa = _ v g
Keterangan :
Fa = gaya ke atas (N)
V = volume benda yang tercelup (m3)
_ = massa jenis zat cair (kg/m3)
g = percepatan gravitasi (N/kg)
Hukum ini juga bukan suatu hukum fundamental karena dapat diturunkan dari
hukum newton juga.
- Bila gaya archimedes sama dengan gaya berat W maka resultan gaya =0 dan
benda
melayang .
- Bila FA>W maka benda akan terdorong keatas akan melayang
- Bila FA
Jika rapat massa fluida lebih kecil daripada rapat massa balok maka agar balok
berada dalam keadaan seimbang,volume zat cair yang dipindahkan harus lebih
kecil dari pada volume balok.Artinya tidak seluruhnya berada terendam dalam
cairan dengan perkataan lain benda mengapung. Agar benda melayang maka
volume zat cair yang dipindahkan harus sama dengan volume balok dan rapat
massa cairan sama dengan rapat rapat massa benda.
Jika rapat massa benda lebih besar daripada rapat massa fluida, maka benda akan
mengalami gaya total ke bawah yang tidak sama dengan nol. Artinya benda akan
jatuh tenggelam.
Berdasarkan Hukum Archimedes, sebuah benda yang tercelup ke dalam zat cair
akan mengalami dua gaya, yaitu gaya gravitasi atau gaya berat (W) dan gaya ke
atas (Fa) dari zat cair itu. Dalam hal ini ada tiga peristiwa yang berkaitan dengan
besarnya kedua gaya tersebut yaitu seperti berikut.
• Tenggelam
Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan tenggelam jika berat benda
(w)
lebih besar dari gaya ke atas (Fa).
w > Fa
_b X Vb X g > _a X Va X g
_b > _a
Volume bagian benda yang tenggelam bergantung dari rapat massa zat cair (_)
• Melayang
Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan melayang jika berat benda
(w)
sama dengan gaya ke atas (Fa) atu benda tersebut tersebut dalam keadaan
setimbang
w = Fa
_b X Vb X g = _a X Va X g
_b = _a
Pada 2 benda atau lebih yang melayang dalam zat cair akan berlaku :
(FA)tot = Wtot
rc . g (V1+V2+V3+V4+…..) = W1 + W2 + W3 + W4 +…..
• Terapung
Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan terapung jika berat benda
(w)
lebih kecil dari gaya ke atas (Fa).
w = Fa
_b X Vb X g = _a X Va X g
_b < _a
Misal : Sepotong gabus ditahan pada dasar bejana berisi zat cair, setelah dilepas,
gabus
tersebut akan naik ke permukaan zat cair (terapung) karena :
FA > W
rc . Vb . g > rb . Vb . g
rc $rb
Selisih antara W dan FA disebut gaya naik (Fn).
Fn = FA - W
Benda terapung tentunya dalam keadaan setimbang, sehingga berlaku :
FA’ = W
rc . Vb2 . g = rb . Vb . g
FA’ = Gaya ke atas yang dialami oleh bagian benda yang tercelup di dalam zat
cair.
Vb1 = Volume benda yang berada dipermukaan zat cair.
Vb2 = Volume benda yang tercelup di dalam zat cair.
Vb = Vb1 + Vb 2
FA’ = rc . Vb2 . g
Berat (massa) benda terapung = berat (massa) zat cair yang dipindahkan
Daya apung (bouyancy) ada 3 macam, yaitu :
1. Daya apung positif (positive bouyancy) : bila suatu benda mengapung.
2. Daya apung negatif (negative bouyancy) : bila suatu benda tenggelam.
3. Daya apung netral (neutral bouyancy) : bila benda dapat melayang.
Bouyancy adalah suatu faktor yang sangat penting di dalam penyelaman. Selama
bergerak dalam air dengan scuba, penyelam harus mempertahankan posisi neutral
bouyancy.
Sumber : http://dr-budiow.com/
Konsep Melayang, Tenggelam dan Terapung.
Kapankah suatu benda dapat terapung, tenggelam dan melayang ?
a. Benda dapat terapung bila massa jenis benda lebih besar dari massa jenis zat
cair.
(miskonsepsi).
b. Benda dapat terapung bila massa jenis benda lebih kecil dari massa jenis zat
cair.
(konsepsi ilmiah)
c. Benda dapat melayang bila massa jenis benda sama dengan massa jenis zat cair.
(konsepsi ilmiah)
d. Benda dapat tenggelam bila massa jenis benda lebih besar dari massa jenis zat
cair.
(konsepsi ilmiah).
e. Terapung, melayang dan tenggelam dipengaruhi oleh volume benda.
(miskonsepsi).
f. Terapung, melayang dan tenggelam dipengaruhi oleh berat dan massa benda
(miskonsepsi).
Tambahan
Mengapa Telur Tenggelam Dalam Air Biasa?
Pada saat telur tenggelam dalam air, berlakulah HUKUM
ARCHIMEDES…”Benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya akan
mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang
dipindahkan.”
Mengapa Telur Tenggelam Dalam Air Biasa? Sesuai dengan Hukum Archimedes
mengenai prinsip TENGGELAM, maka telur tenggelam dalam air biasa
disebabkan karena :
- W telur > Fa
(berat telur > gaya ke atas oleh air)
- S telur > S zat cair
(berat jenis telur > berat jenis zat cair)
dimana rumus berat jenis :
S = massa jenis x gravitasi
Supaya telur tersebut tidak tenggelam, kita dapat menambahkan garam pada air
tersebut. Sehingga menyebabkan W telur < Fa dan S telur < S air.
Sumber : http://sg.ard.yahoo.com
Mengapa Kapal baja bisa mengapung di-Air, padahal BJ baja 7.85 tom/m3 dan BJ
air 1 ton/m3?
Karena berat baja per luasannya masih lebih kecil dari air.
Sumber : http://sg.ard.yahoo.com/
Bagaimana Penerapan Hukum Archimedes ?
Pada kapal selam dimana kapal dapat melayang( tidak tenggelam tdak juga
mengapung). Karena F archimedes = F benda
F archmedes = V benda x massa jenis air x gravitasi.
sebagai percobaan ambil wadah bening di isi air putih lalu masukan 1 butir telur,
yang terjadi telur akan tenggelam, lalu coba dalam wadah itu masukan garam..
hingga telur mengapung. ini dikarenakan perbedaan massa jenis air garam dengan
benda.
karena massa jenis air laut umumnya sama maka berat kapal selam sudah didisain
sedemikian rupa agar kapal bisa melayang.
Sumber : http://sg.ard.yahoo.com/
Mengapa Kapal Yang Berat Terapung tetapi batu yang kecil tenggelam?
Semua ini berkaitan dengan daya apungan, misalnya apabila kita mencampak
sesuatu ke dalam air ia akan menolak & mengantikan kandungan air.
Misalnya apabila kita masukkan sebiji bola tenis ke dalam kolah, air sebanyak
bola tennis akan melimpah keluar.
Jika berat air yang digantikan lebih berat daripada berat bola tennis, bola
berkenaan akan terapung. Jika bola berkenaan dipenuhi dengan logam berbanding
dengan udara, ia akan menjadi lebih berat daripada kandungan yang digantikan
dengan air dan ia akan terapung.
Manusia yang menemui teori ini adalah ahli matematik Greek, Archimedes yang
terkenal sebagai bapa apungan yang menemui teori itu semasa dalam kolah
mandi.
Prinsip Archimedes menyatakan bahawa daya tujah ke atas yang bertindak pada
sesuatu jasad yang tenggelam atau separa tenggelam adalah sama dengan berat
cecair yang disesarkan oleh jasad tersebut.
Aplikasi daya tersebut dalam kehidupan harian adalah kapal laut, kapal selam dan
belon udara. Sebuah kapal selam akan terapung pada permukaan lautan jika tanki
keapungannya diisi dengan udara. Ini adalah kerana daya tujah ke atas bertindak
pada kapal selam melebihi beratnya. Apabila tangki keapungannya diisi dengan
air, kapal tersebut akan tenggelam dalam laut kerana daya tujah yang bertindak ke
atasnya kurang daripada beratnya.
a. Berat benda pada saat diudara dan setelah terbenam dalam air tawar
Pada saat ditimbang diudara benda mempunyai berat 4.000 kg pada skala pengukur berat, sedang setelah dimasukan kedalam air berat benda menjadi 3.000 kg. Padahal masa benda tidak berubah, berkurangnya berat benda tersebut diakibatkan adanya gaya tekan keatas dari air yang dipindahkan oleh bagian benda yang ada didalam air (force of buoyancy), dengan arah kerja gayanya mengarah keatas; sedang garis kerja gayanya segaris dengan garis kerja dari gaya berat benda. Titik tangkap garis kerja gaya buoyancy biasa disebut dengan titik buoyancy atau titik B. Didalam sistem bangunan terapung titik B ini disebut juga dengan titik berat dari volume benda yang ada dibawah garis air (gambar dibawah ini)
b. Ilustrasi letak titik G dan titik B dari bangunan apung
Selanjutnya perhatikan gambar c dibawah ini; dimana pada gambar tersebut mengilustrasikan sebuah benda dengan masa sebesar 4.000 kg namun volume bendanya 8 m3. Pada awalnya benda tersebut dibenamkan kedalam air, kemudian dilepaskan. Apabila keseimbangan telah terjadi, maka benda tersebut akan mengapung seperti ditunjukan pada gambar a. Keseimbangan akan tercapai apabila besarnya gaya buoyancy sama dengan berat air yang dipindahkan oleh bagian benda yang ada didalam air atau apabila benda tersebut mengapung dengan separuh dari volumenya.
Berat benda = berat dari volume air yang dipindahkan
4000 = S x V
4000 = 1000 kg/m3 x V
atau
V = 4 m3
BAB II
Bagaimana caranya mengapungkan sebuah kota di atas laut? Mudah saja! Kita hanya perlu meletakkan kota itu di atas sebuah kapal laut raksasa! Sebuah kapal yang juga merupakan satu kota mandiri yang dapat mengarungi lautan dan samudra!
Rupanya manusia sudah mulai bosan dengan daratan sehingga mulai mencari alternatif lain untuk membangun kehidupannya. Kali ini dunia air yang mulai menarik perhatian karena sebagian besar permukaan bumi memang dipenuhi oleh air. Di saat daratan tidak lagi mampu menampung semua penduduk dunia, kita pun mulai mengadakan invasi ke perairan yang luas ini.
Di dalam air, berat benda tidak sama dengan beratnya di udara. Di dalam air benda mengalami apa yang dinamakan gaya apung (atau gaya keatas). Gaya apung ini membuat berat benda di dalam air akan terasa lebih ringan dibandingkan berat benda di udara.
Gaya apung ini ditemukan oleh Archimedes. Menurut Archimedes, besarnya gaya apung ini sama dengan berat zat cair yang dipindahkan Apa yang dimaksud dengan berat zat cair yang dipindahkan?
Misalnya kita memasukkan sebongkah es batu ke dalam gelas penuh dengan air. Sewaktu es itu dimasukkan ke gelas, ada sebagian air yang tumpah keluar. Berat air yang tumpah inilah yang disebut sebagai berat zat cair yang dipindahkan.
Menurut Archimedes, besar gaya apung pada suatu benda, sangat dipengaruhi oleh volume benda yang tercelup. Semakin besar volume benda yang tercelup semakin besar gaya apungnya. Suatu kapal besar dapat mengapung karena gaya apungnya sangat besar (ini disebabkan karena ukuran kapal yang besar sehingga volume kapal yang tercelup sangat besar).
Disamping itu gaya apung juga dipengaruhi oleh kerapatan (densitas atau massa jenis) dari cairan. Semakin besar massa jenis cairan semakin besar gaya apungnya. Ketika suatu kapal bergerak dari laut ke sungai, kapal tersebut bisa tenggelam karena gaya apung di laut lebih besar dari gaya apung di sungai (massa jenis air laut lebih besar dari massa jenis air sungai).
Berdasarkan prinsip Archimedes inilah dibuat kapal laut yang berfungsi sebagai kota terapung. Kapal laut yang nantinya akan dinamakan Freedom Ship ini berukuran lebih besar dari semua kapal laut yang pernah ada
Panjang kapal bisa mencapai 1.316 meter (4.320 kaki), dengan lebar 221 meter, dan tinggi yang mencapai 103 meter di atas permukaan air! Tentu saja kapal dengan volume sebesar ini dapat mengapung di air laut dengan mudah! Dan bukan hanya mengapung saja, kapal ini dapat juga bergerak mengarungi seluruh perairan dunia walaupun dengan kecepatan yang sangat lambat jika dibandingkan dengan kecepatan kapal layar biasa.
Kapal raksasa ini nantinya mampu menampung 50.000 penghuni tetap yang terus ditemani oleh 15.000 kru kapal. Kapal ini pun masih menyediakan tempat untuk menampung 20.000 pengunjung per harinya. Bagi para pengunjung ini disediakan 10.000 unit perhotelan dengan standar internasional, sedangkan bagi para penghuni tetap disediakan 18.000 unit perumahan dengan berbagai variasi ukuran dan harga.
Penduduk yang tinggal di kota terapung ini bisa tetap menikmati segala fasilitas yang ada di kota asal mereka karena kapal ini dilengkapi dengan perkantoran, pertokoan dan pusat niaga, gedung sekolah, pusat-pusat olahraga, tempat rekreasi, restoran, gedung bioskop, gedung pertunjukan, rumah sakit, dan berbagai fasilitas lainnya. Kota terapung ini bahkan memiliki juga bandara udara yang terletak di atapnya. Helikopter maupun pesawat-pesawat kecil dapat mendarat di bandara ini dengan aman karena ukuran kapal yang sangat besar ini membuatnya sangat stabil sebagai landasan pendaratan.
Para penduduk pun tidak akan terganggu dengan suara bising maupun getaran-getaran yang timbul akibat proses pendaratan di atap kapal raksasa itu karena kapal ini sudah dilengkapi juga dengan sistem insulasi dan desain yang baik. Bagi penduduk yang memiliki pesawat pribadi disediakan pula beberapa hangar kecil khusus untuk mereka. Untuk transportasi melalui jalur laut, kota ini menyediakan juga kapal-kapal feri yang dijadwalkan untuk berangkat ke kota-kota terdekat setiap 15 menit selama 24 jam penuh! Selain itu kota terapung ini dilengkapi juga dengan sarana komunikasi yang sangat lengkap karena setiap rumah akan memiliki saluran telepon, sambungan internet, dan siaran televisi melalui satelit yang dapat pula menyiarkan berbagai program televisi di negaranegara terdekat. Sistem keamanan kota di atas laut ini pun didukung oleh pasukan keamanan yang siap berpatroli setiap saat walaupun setiap rumah sudah
dilengkapi lagi dengan berbagai sistem keamanan elektronik yang canggih.
Penduduk kota terapung ini bisa menikmati keasyikan lain yang tidak ada di kota-kota biasa. Setiap hari mereka bisa terus mengunjungi kota-kota yang berbeda di seluruh dunia. Mungkin saja pada suatu siang tim sepakbola dari sekolah di kota terapung ini datang ke salah satu kota di Italia untuk bertanding dengan tim sepakbola di sekolah lokal di kota tersebut! Seusai pertandingan mengasyikkan itu, malam harinya kelompok band dari kota terapung ini tampil di salah satu gedung pertunjukan di kota di Italia tadi sebagai simbol persahabatan. Kegiatan-kegiatan ini bisa dilakukan di berbagai kota di dunia! Benar-benar pengalaman yang menyenangkan karena bisa mengunjungi seluruh dunia! Para pelajar di kota terapung ini bahkan bisa menikmati kunjungan ke sekolah-sekolah di kota-kota terdekat setiap harinya dengan mengikuti program daily field trip.
Konstruksi kapal terbesar di dunia ini seluruhnya dilakukan di atas laut. Prosesnya diawali dengan membuat permukaan yang mengapung di atas air, yang akan menjadi landasan dibangunnya sebuah kota yang lengkap. Kapal raksasa ini sudah pasti tidak bisa dibangun di daratan karena ukuran dan beratnya yang sangat besar dapat mempersulit proses peluncurannya ke laut. Karena itulah proses pembangunannya langsung dilakukan di atas air. Kapal raksasa ini nantinya akan digerakkan oleh 100 mesin diesel yang masing-masingnya dapat menghasilkan tenaga sebesar 3.700 HP (Horse Power).
Kota di atas laut ini juga menawarkan sistem pengolahan limbah yang sangat ramah lingkungan. Limbah minyak tidak akan dibuang ke laut, tetapi justru akan dibakar untuk menghasilkan listrik yang nantinya digunakan sebagai sumber tenaga bagi semua proses di kapal. Sedangkan berbagai limbah padat akan didaur ulang dan dijual kembali. Dengan sistem pengolahan limbah seperti ini, jumlah limbah (total) yang dihasilkan penduduk kota terapung ini bisa mencapai 80% lebih kecil dari jumlah limbah yang mungkin dihasilkan jika mereka tinggal di kota-kota biasa.
Archimedes yang hidup di Yunani pada tahun 287 sampai 212 sebelum masehi, adalah seorang matematikawan, fisikawan,
astronom sekaligus filusuf. Archimedes dilahirkan di kota pelabuhan bernama Syracuse, kota ini sekarang dikenal sebagai
Sisilia. Archimedes merupakan keponakan raja Hiero II yang memerintah di Syracuse pada masa itu.
Nama Archimedes menjadi terkenal setelah ia melompat dari bak mandinya dan berlari-lari telanjang setelah membuktikan bahwa mahkota raja tidak terbuat dari emas murni. Ucapannya "Eureka (aku menemukannya)" menjadi terkenal sampai saat ini. Archimedes juga merupakan orang pertama yang mendefinisikan sistem angka yang mengandung "myriad (10000)", myramid menunjukkan seuatu bilangan yang nilainya tak berhingga. Ia juga mendefinisikan perbandingan antara keliling lingkaran dan jari-jari lingkaran yang dikenal sebagai pi sebesar 3.1429.
Raja Hiero II kala itu terikat perjanjian dengan bangsa Romawi. Syracuse harus mengirimkan gandum dalam jumlah yang besar pada bangsa Romawi, agar mereka tidak diserang. Hingga pada suatu ketika Hiero II tidak mampu lagi mengirim gandum dalam jumlah yang ditentukan. Karena itu Archimedes ditugaskan merancang dan membuat kapal jenis baru untuk memperkuat angkatan laut raja Hiero II.
Pada masa itu, kapal yang dibuat oleh Archimedes adalah kapal yang terbesar. Untuk dapat mengambang, kapal ini harus dikeringkan dahulu dari air yang menggenangi dek kapal. Karena besarnya kapal ini, jumlah air yang harus dipindahkanpun amat banyak. Karena ituArchimedes menciptakan sebuah alat yang disebut "Sekrup Archimedes". Dengan ini air dapat dengan mudah disedot dari dek kapal. Ukuran kapal yang besar ini juga menimbulkan masalah lain. Massa kapal yang berat, menyebabkan ia sulit untuk dipindahkan. Untuk mengatasi hal ini, Archimedes kembali menciptkan sistem katrol yang disebut "Compound Pulley". Dengan sistem ini, kapal tersebut beserta awak kapal dan muatannya dapat dipindahkan hanya dengan menarik seutas tali. Kapal ini kemudian diberi nama Syracusia, dan menjadi kapal paling fenomenal pada zaman itu.
Selama perang dengan bangsa Romawi, yang dikenal dengan perang punik kedua, Archimedes kembali berjasa besar. Archimedes mendesain sejumlah alat pertahanan untuk mencegah pasukan Romawi di bawah pimpinan Marcus Claudius Marcellus, merebut Syracuse.
Saat armada Romawi yang terdiri dari 120 kapal mulai tampak di cakrawala Syracuse. Archimedes berfikir keras untuk mencegah musuh merapat dipantai. Archimedes kemudian mencoba membakar kapal-kapal Romawi ini dengan menggunakan sejumlah cermin yang disusun dari perisai-perisai prajurit Syracuse. Archimedes berencana untuk membakar kapal-kapal musuh dengan memusatkan sinar matahari. Namun rencana ini tampaknya kurang berhasil. Hal ini disebabkan untuk memperoleh jumlah panas yang cukup untuk membakar sebuah kapal, kapal tersebut haruslah diam.
Walaupun hasilnya kurang memuaskan, dengan alat ini Archimedes berhasil menyilaukan pasukan Romawi hingga mereka kesulitan untuk memanah. Panas yang ditimbulkn dengan alat ini juga berhasil membuat musuh kegerahan, hingga mereka lelah sebelum berhadapan dengan pasukan Syrcuse.
Saat musuh mulai mengepung pantai Syracuse, Archimedes kembali memutar otak. Tujuannya kali ini adalah mencari cara untuk menenggelamkan kapal-kapal Romawi ini. Archimedes kemudian menciptakan alat yang disebut cakar Archimedes. Alat ini bentuknya mirip derek pada masa kini. Setelah alat ini secara diam-diam dikaitkan ke badan kapal musuh, derek ini kemudian ditarik. Akibanya kapal musuh akan oleng, atau bahkan robek dan tenggelam.
Selain kedua alat ini Archimedes juga mengembangkan ketapel dan balista untuk melawan pasukan Romawi. Namun sayangnya walaupun didukung berbagai penemuan Archimedes, Syracuse masih kalah kuat dibandingkan pasukan Romawi. Archimedespun akhirnya terbunuh oleh pasukan Romawi. Saat tewas Archimedes sedang mengerjakan persoalan geometri dengan menggambarkan lingkaran-lingkaran di atas tanah. Sebelum dibunuh ia meneriaki pasukan Romawi yang lewat "Jangan ganggu lingkaranku!!!" Sumber:http://physics-freak.blogspot.com
Hukum Archimedes
Hukum Archimedes menyatakan sebagai berikut, Sebuah benda yang tercelup
sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang
besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkannya.
Sebuah benda yang tenggelam seluruhnya atau sebagian dalam suatu fluida akan
mendapatkan gaya angkat ke atas yang sama besar dengan berat fluida fluida yang
dipindahkan. Besarnya gaya ke atas menurut Hukum Archimedes ditulis dalam
persamaan :
Fa = _ v g
Keterangan :
Fa = gaya ke atas (N)
V = volume benda yang tercelup (m3)
_ = massa jenis zat cair (kg/m3)
g = percepatan gravitasi (N/kg)
Hukum ini juga bukan suatu hukum fundamental karena dapat diturunkan dari
hukum newton juga.
- Bila gaya archimedes sama dengan gaya berat W maka resultan gaya =0 dan
benda
melayang .
- Bila FA>W maka benda akan terdorong keatas akan melayang
- Bila FA
Jika rapat massa fluida lebih kecil daripada rapat massa balok maka agar balok
berada dalam keadaan seimbang,volume zat cair yang dipindahkan harus lebih
kecil dari pada volume balok.Artinya tidak seluruhnya berada terendam dalam
cairan dengan perkataan lain benda mengapung. Agar benda melayang maka
volume zat cair yang dipindahkan harus sama dengan volume balok dan rapat
massa cairan sama dengan rapat rapat massa benda.
Jika rapat massa benda lebih besar daripada rapat massa fluida, maka benda akan
mengalami gaya total ke bawah yang tidak sama dengan nol. Artinya benda akan
jatuh tenggelam.
Berdasarkan Hukum Archimedes, sebuah benda yang tercelup ke dalam zat cair
akan mengalami dua gaya, yaitu gaya gravitasi atau gaya berat (W) dan gaya ke
atas (Fa) dari zat cair itu. Dalam hal ini ada tiga peristiwa yang berkaitan dengan
besarnya kedua gaya tersebut yaitu seperti berikut.
• Tenggelam
Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan tenggelam jika berat benda
(w)
lebih besar dari gaya ke atas (Fa).
w > Fa
_b X Vb X g > _a X Va X g
_b > _a
Volume bagian benda yang tenggelam bergantung dari rapat massa zat cair (_)
• Melayang
Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan melayang jika berat benda
(w)
sama dengan gaya ke atas (Fa) atu benda tersebut tersebut dalam keadaan
setimbang
w = Fa
_b X Vb X g = _a X Va X g
_b = _a
Pada 2 benda atau lebih yang melayang dalam zat cair akan berlaku :
(FA)tot = Wtot
rc . g (V1+V2+V3+V4+…..) = W1 + W2 + W3 + W4 +…..
• Terapung
Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan terapung jika berat benda
(w)
lebih kecil dari gaya ke atas (Fa).
w = Fa
_b X Vb X g = _a X Va X g
_b < _a
Misal : Sepotong gabus ditahan pada dasar bejana berisi zat cair, setelah dilepas,
gabus
tersebut akan naik ke permukaan zat cair (terapung) karena :
FA > W
rc . Vb . g > rb . Vb . g
rc $rb
Selisih antara W dan FA disebut gaya naik (Fn).
Fn = FA - W
Benda terapung tentunya dalam keadaan setimbang, sehingga berlaku :
FA’ = W
rc . Vb2 . g = rb . Vb . g
FA’ = Gaya ke atas yang dialami oleh bagian benda yang tercelup di dalam zat
cair.
Vb1 = Volume benda yang berada dipermukaan zat cair.
Vb2 = Volume benda yang tercelup di dalam zat cair.
Vb = Vb1 + Vb 2
FA’ = rc . Vb2 . g
Berat (massa) benda terapung = berat (massa) zat cair yang dipindahkan
Daya apung (bouyancy) ada 3 macam, yaitu :
1. Daya apung positif (positive bouyancy) : bila suatu benda mengapung.
2. Daya apung negatif (negative bouyancy) : bila suatu benda tenggelam.
3. Daya apung netral (neutral bouyancy) : bila benda dapat melayang.
Bouyancy adalah suatu faktor yang sangat penting di dalam penyelaman. Selama
bergerak dalam air dengan scuba, penyelam harus mempertahankan posisi neutral
bouyancy.
Sumber : http://dr-budiow.com/
Konsep Melayang, Tenggelam dan Terapung.
Kapankah suatu benda dapat terapung, tenggelam dan melayang ?
a. Benda dapat terapung bila massa jenis benda lebih besar dari massa jenis zat
cair.
(miskonsepsi).
b. Benda dapat terapung bila massa jenis benda lebih kecil dari massa jenis zat
cair.
(konsepsi ilmiah)
c. Benda dapat melayang bila massa jenis benda sama dengan massa jenis zat cair.
(konsepsi ilmiah)
d. Benda dapat tenggelam bila massa jenis benda lebih besar dari massa jenis zat
cair.
(konsepsi ilmiah).
e. Terapung, melayang dan tenggelam dipengaruhi oleh volume benda.
(miskonsepsi).
f. Terapung, melayang dan tenggelam dipengaruhi oleh berat dan massa benda
(miskonsepsi).
Tambahan
Mengapa Telur Tenggelam Dalam Air Biasa?
Pada saat telur tenggelam dalam air, berlakulah HUKUM
ARCHIMEDES…”Benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya akan
mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang
dipindahkan.”
Mengapa Telur Tenggelam Dalam Air Biasa? Sesuai dengan Hukum Archimedes
mengenai prinsip TENGGELAM, maka telur tenggelam dalam air biasa
disebabkan karena :
- W telur > Fa
(berat telur > gaya ke atas oleh air)
- S telur > S zat cair
(berat jenis telur > berat jenis zat cair)
dimana rumus berat jenis :
S = massa jenis x gravitasi
Supaya telur tersebut tidak tenggelam, kita dapat menambahkan garam pada air
tersebut. Sehingga menyebabkan W telur < Fa dan S telur < S air.
Sumber : http://sg.ard.yahoo.com
Mengapa Kapal baja bisa mengapung di-Air, padahal BJ baja 7.85 tom/m3 dan BJ
air 1 ton/m3?
Karena berat baja per luasannya masih lebih kecil dari air.
Sumber : http://sg.ard.yahoo.com/
Bagaimana Penerapan Hukum Archimedes ?
Pada kapal selam dimana kapal dapat melayang( tidak tenggelam tdak juga
mengapung). Karena F archimedes = F benda
F archmedes = V benda x massa jenis air x gravitasi.
sebagai percobaan ambil wadah bening di isi air putih lalu masukan 1 butir telur,
yang terjadi telur akan tenggelam, lalu coba dalam wadah itu masukan garam..
hingga telur mengapung. ini dikarenakan perbedaan massa jenis air garam dengan
benda.
karena massa jenis air laut umumnya sama maka berat kapal selam sudah didisain
sedemikian rupa agar kapal bisa melayang.
Sumber : http://sg.ard.yahoo.com/
Mengapa Kapal Yang Berat Terapung tetapi batu yang kecil tenggelam?
Semua ini berkaitan dengan daya apungan, misalnya apabila kita mencampak
sesuatu ke dalam air ia akan menolak & mengantikan kandungan air.
Misalnya apabila kita masukkan sebiji bola tenis ke dalam kolah, air sebanyak
bola tennis akan melimpah keluar.
Jika berat air yang digantikan lebih berat daripada berat bola tennis, bola
berkenaan akan terapung. Jika bola berkenaan dipenuhi dengan logam berbanding
dengan udara, ia akan menjadi lebih berat daripada kandungan yang digantikan
dengan air dan ia akan terapung.
Manusia yang menemui teori ini adalah ahli matematik Greek, Archimedes yang
terkenal sebagai bapa apungan yang menemui teori itu semasa dalam kolah
mandi.
Prinsip Archimedes menyatakan bahawa daya tujah ke atas yang bertindak pada
sesuatu jasad yang tenggelam atau separa tenggelam adalah sama dengan berat
cecair yang disesarkan oleh jasad tersebut.
Aplikasi daya tersebut dalam kehidupan harian adalah kapal laut, kapal selam dan
belon udara. Sebuah kapal selam akan terapung pada permukaan lautan jika tanki
keapungannya diisi dengan udara. Ini adalah kerana daya tujah ke atas bertindak
pada kapal selam melebihi beratnya. Apabila tangki keapungannya diisi dengan
air, kapal tersebut akan tenggelam dalam laut kerana daya tujah yang bertindak ke
atasnya kurang daripada beratnya.
khasiat dan amannya obat dari bahan alam
Prof.dr. Amir Syarif, SKM, SpF(K)
Perlu Bukti Khasiat dan Keamanan Obat Bahan Alam
UNIVERSITARIA - Edisi Maret 2008 (Vol.7 No.8)
________________________________________
Anggapan masyarakat bahwa obat yang berasal dari bahan alam adalah aman, terbebas dari efek toksik merupakan pendapat keliru. Setiap bahan atau zat memiliki potensi bersifat toksik, seberapa besar efek itu ditimbulkan tergantung dari takarannya dalam tubuh. Efek toksik merupakan efek yang dapat menimbulkan gejala-gejala keracunan dengan tingkat gangguan yang bervariasi dari ringan sampi terjadinya kematian.
Hal demikian disampaikan Prof.dr. Amir Syarif, SKM, SpF(K) pada pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap dalam Ilmu Farmakologi dan Terapeutik pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di Auditorium FK UI, 23 Februari 2008 lalu.
Dalam orasinya, Prof Amir mengangkat tema " Peran Toksikologi dalam Pengembangan dan Pemanfaatan Obat Bahan Alam di Indonesia". Menurutnya, obat bahan alam adalah obat yang dikembangkan dari tanaman atau tumbuhan.Sebagaimana obat konvensional, obat bahan alam juga mesti diwaspadai. Pasalnya, keberadaan obat dalam takaran tertentu dapat menimbulkan efek toksik. Kadar obat dalam tubuh akan menentukan seberapa besar efek suatu obat atau dikenal dose-response relationship. Dalam hal ini, toksikologi akan berperan untuk menentukan berapa besar efek toksik yang ditimbulkan oleh suatu obat. "Dengan mengatur kadar obat maka efek toksik dapat dicegah." kata suami R. Enar Suminar itu.
Obat bahan alam, selayaknya bahan kimia, akan mengalami proses kinetik, berupa proses absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi.Absorpsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian masuk ke sirkulasi sistemik. Distribusi sendiri merupakan proses perdaran obat ke seluruh cairan tubuh baik kedalam cairan antar sel ( interstitial) maupun ke dalam sel (intracellular). Pada wanita hamil, obat dapat pula terdistribusi ke dalam janin. Melalui proses ditribusi , obat akan samapai ke organ target tempat obat bekerja. Sedangkan metabolisme atau biotrasformasi adalah proses perubahan senyawa obat dalam tubuh. Pada akhirnya kebanyakan senyawa aktif akan mengalami perubahan menjadi senyawa tidak aktif dan lebih mudah diekskresi, sehingga efek obat tersebut akan hilang. Proses metabolisme ini bida terjadi diseluruh jaringa tubuh, dimana hati merupakan organ metabolime obat yang paling utama. Sementara ekskresi adalah proses pengularan obat dari tubuh, baik dalam bentuk senyawa aktif maupun senyawa tidak aktif. Berkurangnya senyawa aktif, menyebakan berkurang efek obat tersbut. Organ yang paling berperan dalam proses ekskresi adalah ginjal. Di samping itu, proses ekskresi juga dapat terjadi melalui empedu, sekres cairan intestinal, keringat , saliva, dan air susu ibu.
Di pasaran dikenal tiga jenis obat bahan alam, yaitu obat tradisional, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Pengembangan obat bahan alam tersebut harus melalui prinsip-prinsip ilmiah. Bisa berawal dari obat tradisional, atau dari tanaman yang diduga memiliki khasiat sebagai obat. Bila obat tradisional telah dibuktikan khasiat dan keamanannya melalui uji klinik, maka obat tersebut digolongkan sebagai fitofarmaka.
Sedikitnya ada empat tahap yang mesti dilalui untuk menjadi fitofarmaka, yaitu standarisasi bahan baku dari tanaman, pembuktian terbebas dari bahan cemaran, uji praklinik, dan uji klinik terhadap khasiat dan keamanannya. Sementara obat herbal terstandar adalah obat baha alam yang bahan bakunya telah mengalami standarisasi dan telah melalui tahapan uji praklinik.
Standarisasi obat bahan alam tidak berbeda dengan obat konvensional. Begitu pula dengan pemanfaatannya, dimana dalam memakai obat bahan alam juga mempertimbangkan faktor dosis dan lama pemberian, usia, kehamilan dan menyusui, jenis penyakit khususnya yang disertai dengan gangguan fungsi hati dan ginjal, serta kombinasi obat.
Untuk mendapat khasiat serta keamanan obat bahan alam, Prof. Amir pada akhir pidatonya, berpesan pada sejawat dokter agar jangan melupakan prinsip-prinsip farmakologi dalam berpraktik. Dan bagi calon dokter spesialis farmakologi diharap sesegera mungkin dapat menyelesaikan pendidikannya agar dapat mengisi kekurangan farmakolog di negeri ini dan menggantikan farmakolog yang sebagian besar mendekati usia pensiun.
________________________________________
Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi Maret 2008 , Halaman: 70 (1972 hits)
http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=695
Mainan bayi mengandung bahan kimia toksik
November 3, 2005 at 10:51 pm • Filed under Uncategorized
Kalbefarma – Berita terbaru yang dilaporkan 12 Oktober 2005, oleh Environment California Research menjelaskan bahwa terdapat bahan kima toksik seperti phthalate dan polybrominate diphenyl ethers (PBDEs) yang terkandung pada mainan bayi yang dapat digigit, buku dan perlengkapan tidur bayi.
Seorang anak pada tahun pertama kehidupannya merupakan anak yang menggemaskan bagi orang tuanya, mereka berharap anak mereka dapat tumbuh menjadi anak yang sehat dan bahagia, dikatakan Rachel Gibson, pengacara kesehatan lingkungan dan staf Attorney Environnment California. Meskipun demikian para orang tua tidak memiliki banyak informasi tentang perlindungan yang adekuat untuk melindungi anak-anaknya dari bahan kimia toksik tersebut.
The Environment California Research dan Policy Center bergabung melakukan penelitian terhadap 80 produk untuk anak, termasuk mainan yang dapat digigit dan beberapa jenis mainan lainnya. Mereka meneliti kandungan bahan kima phthalate yang terkandung pada mainan tersebut, dan menguji 7 jenis perlengkapan tidur anak seperti matras bayi yang mengandung PBDEs. Hasil uji yang dilakukan adalah:
- Limapuluh dari delapan puluh produk buku yang dapat dibawa mandi (bath books), mainan anak yang dapat digigit, mainan mandi, dan produk mainan anak lainnya, mengandung phthalate.
- Satu produk yang menyebut “phthalate-free” ternyata setelah dites produk tersebut masih mengandung 2 type phthalate: DEHP dan DBP.
- Tiga dari tujuh perlengkapan tidur bayi pada saat dites mengandung PBDEs pada material busanya.
Phthalate adalah bahan kimia yang digunakan untuk banyak produk plastik, untuk meningkatkan kelenturan dan mengikat aroma harum pada produk tersebut. Namun bahan kima ini mempengaruhi kesehatan antara lain dapat menimbulkan kelahiran bayi prematur, gangguan reproduksi dan mempercepat terjadinya pubertas.
Polybrominate diphenyl ethers (PBDEs) adalah suatu bahan kimia yang digunakan untuk menghambat penyebaran api. Bahan kimia ini dapat mempengaruhi kesehatan, misalnya terjadi gangguan memori, gangguan reproduksi, kanker dan gangguan sistem imun.
Environment California Recearch dan Policy Center menganjurkan kepada orang tua yang memiliki bayi dan perawatnya untuk:
- menghindari penggunaan mainan plastik yang dimasukkan kemulut
- menggunakan komponen gelas untuk menyimpan makanan dan minuman bila memungkinkan
- mencuci produk plastik secara benar, hindari mencuci peralatan plastik menggunakan sabun yang kasar dan juga air panas, kerena bila plastiknya lemas atau meleleh akan mempercepat proses.
http://artikelkesehatan.wordpress.com/2005/11/03/mainan-bayi-mengandung-bahan-kimia-toksik/
Senin, 14 Juli 2008
BAHAN KIMIA BERACUN ATAU TOKSIK
Jika kita sehari – hari bekerja, atau kontak dengan zat kimia, kita sadar dan tahu bahkan menyadari bahwa setiap zat kimia adalah beracun, sedangkan untuk bahaya pada kesehatan sangat tergantung pada jumlah zat kimia yang masuk kedalam tubuh.
Seperti garam dapur, garam dapur merupakan bahan kimia yang setiap hari kita konsumsi namun tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Namun, jika kita terlalu banyak mengkonsumsinya, maka akan membahayakan kesehatan kita. Demikian juga obat yang lainnya, akan menjadi sangat bermanfaat pada dosis tertentu, jangan terlalu banyak ataupun sedikit lebih baik berdasarkan resep dokter.
Dalam dunia laboratorium, bahan-bahan kimia dapat masuk ke dalam tubuh melewati tiga saluran, yakni:
1. Melalui mulut atau tertelan bisa disebut juga per-oral atau ingesti. Hal ini sangat jarang terjadi kecuali kita memipet bahan-bahan kimia langsung menggunakan mulut atau makan dan minum di laboratorium.
2. Melalui kulit. Bahan kimia yang dapat dengan mudah terserap kulit ialah aniline, nitrobenzene, dan asam sianida.
3. Melalui pernapasan (inhalasi). Gas, debu dan uap mudah terserap lewat pernapasan dan saluran ini merupakan sebagian besar dari kasus keracunan yang terjadi. SO2 (sulfur dioksida) dan Cl2 (klor) memberikan efek setempat pada jalan pernapasan. Sedangkan HCN, CO, H2S, uap Pb dan Zn akan segera masuk ke dalam darah dan terdistribusi ke seluruh organ-organ tubuh.
Gangguan toksik (keracunan) dari bahan kimia terhadap tubuh berbeda-beda. Misalnya CCL4 dan benzene dapat menimbulkan kerusakan pada hati ; metal isosianat dapat menyebabkan kebutaan dan kematian ; senyawa merkuri dapat menimbulkan kelainan genetic atau keturunan ; dan banyak senyawa organic yang mengandung cincin benzene, senyawa nikel dan krom dapat bersifat karsinogenik atau penyebab kanker.
Gangguan-gangguan tersebut diatas sangat tergantung pada kondisi kesehatan orang yang terpaparnya. Kondisi badan yang sehat dan makan yang bergizi akan mudah mengganti kerusakan sel-sel akibat keracunan. Sebaliknya kondisi badan yang kurang gizi akan sangat rawan terhadap keracunan.
Efek Akut dan Kronis
Efek keracunan pada tubuh manusia dibagi dua yaitu :
• Efek akut yaitu pengaruh sejumlah dosis tertentu yang akibatnya dapat dilihat atau dirasakan dalam waktu pendek. Contoh, keracunan fenol menyebabkan diare dan gas CO dapat menyebabkan hilang kesdaran atau kematian dalam waktu singkat.
• Efek kronis yaitu suatu akibat keracunan bahan-bahan kimia dalam dosis kecil tetapi terus menerus dan efeknya baru dapat dirasakan dalam jangka panjang (minggu, bulan, atau tahun). Misalnya, menghirup uap benzene dan senyawa hidrokarbon terkklorinasi (spt. Kloroform, karbon tetraklorida) dalam kadar rendah tetapi terus menerus akan menimbulkan penyakit hati (lever) setelah beberapa tahun. Uap timbal akan menimbulkan kerusakan dalam darah.
Usaha Menghindari Keracunan
• Penggunaan pelarut atau reagen-reagen yang toksik di usahakan diganti
• Perlakuan khusus pada beberapa zat kimia seperti senyawa yang dengan gugus amino, nitro dan gugus halogen reaktif perlu dicurigai akan kemungkinan bahayanya
• Gunakan lemari asam untuk bahan – bahan yang sekiranya menimbulkan pencemaran udara kerja
• Ventilasi udara, supaya ruangan tidak lembab dan tercemar oleh gas-gas berbahaya
• Makan dan minum di laboratorium sebisa mungkin dihindari untuk mencegah terjadinya kontaminasi
• Alat pelindung seperti masker (pelindung pernapasan), gloves (sarung tangan), dan kacamata pelindung harus di gunakan meskupun kurang enak di pakai? He he he he (itung-itung mejeng!!!)
O iya, untuk definisi racun itu sendiri apa? Nanti deh lain waktu bisa menambah catatan ini. Semoga bermanfaat……..
Sumber : catatan kuliah (toksikologi dan Keselamatan Kerja Laboratorium) AAK BA 2005 dan Keselamatan kerja dalam laboratorium oleh Soemanto Imamkhasam, PT Gramedia, Jakarta ; 1990. Hal 7-13
Diposkan oleh imad di 09:34
http://imadanalyzeartikelkesehatan.blogspot.com/2008/07/bahan-kimia-beracun-atau-toksik.html
Perlu Bukti Khasiat dan Keamanan Obat Bahan Alam
UNIVERSITARIA - Edisi Maret 2008 (Vol.7 No.8)
________________________________________
Anggapan masyarakat bahwa obat yang berasal dari bahan alam adalah aman, terbebas dari efek toksik merupakan pendapat keliru. Setiap bahan atau zat memiliki potensi bersifat toksik, seberapa besar efek itu ditimbulkan tergantung dari takarannya dalam tubuh. Efek toksik merupakan efek yang dapat menimbulkan gejala-gejala keracunan dengan tingkat gangguan yang bervariasi dari ringan sampi terjadinya kematian.
Hal demikian disampaikan Prof.dr. Amir Syarif, SKM, SpF(K) pada pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap dalam Ilmu Farmakologi dan Terapeutik pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di Auditorium FK UI, 23 Februari 2008 lalu.
Dalam orasinya, Prof Amir mengangkat tema " Peran Toksikologi dalam Pengembangan dan Pemanfaatan Obat Bahan Alam di Indonesia". Menurutnya, obat bahan alam adalah obat yang dikembangkan dari tanaman atau tumbuhan.Sebagaimana obat konvensional, obat bahan alam juga mesti diwaspadai. Pasalnya, keberadaan obat dalam takaran tertentu dapat menimbulkan efek toksik. Kadar obat dalam tubuh akan menentukan seberapa besar efek suatu obat atau dikenal dose-response relationship. Dalam hal ini, toksikologi akan berperan untuk menentukan berapa besar efek toksik yang ditimbulkan oleh suatu obat. "Dengan mengatur kadar obat maka efek toksik dapat dicegah." kata suami R. Enar Suminar itu.
Obat bahan alam, selayaknya bahan kimia, akan mengalami proses kinetik, berupa proses absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi.Absorpsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian masuk ke sirkulasi sistemik. Distribusi sendiri merupakan proses perdaran obat ke seluruh cairan tubuh baik kedalam cairan antar sel ( interstitial) maupun ke dalam sel (intracellular). Pada wanita hamil, obat dapat pula terdistribusi ke dalam janin. Melalui proses ditribusi , obat akan samapai ke organ target tempat obat bekerja. Sedangkan metabolisme atau biotrasformasi adalah proses perubahan senyawa obat dalam tubuh. Pada akhirnya kebanyakan senyawa aktif akan mengalami perubahan menjadi senyawa tidak aktif dan lebih mudah diekskresi, sehingga efek obat tersebut akan hilang. Proses metabolisme ini bida terjadi diseluruh jaringa tubuh, dimana hati merupakan organ metabolime obat yang paling utama. Sementara ekskresi adalah proses pengularan obat dari tubuh, baik dalam bentuk senyawa aktif maupun senyawa tidak aktif. Berkurangnya senyawa aktif, menyebakan berkurang efek obat tersbut. Organ yang paling berperan dalam proses ekskresi adalah ginjal. Di samping itu, proses ekskresi juga dapat terjadi melalui empedu, sekres cairan intestinal, keringat , saliva, dan air susu ibu.
Di pasaran dikenal tiga jenis obat bahan alam, yaitu obat tradisional, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Pengembangan obat bahan alam tersebut harus melalui prinsip-prinsip ilmiah. Bisa berawal dari obat tradisional, atau dari tanaman yang diduga memiliki khasiat sebagai obat. Bila obat tradisional telah dibuktikan khasiat dan keamanannya melalui uji klinik, maka obat tersebut digolongkan sebagai fitofarmaka.
Sedikitnya ada empat tahap yang mesti dilalui untuk menjadi fitofarmaka, yaitu standarisasi bahan baku dari tanaman, pembuktian terbebas dari bahan cemaran, uji praklinik, dan uji klinik terhadap khasiat dan keamanannya. Sementara obat herbal terstandar adalah obat baha alam yang bahan bakunya telah mengalami standarisasi dan telah melalui tahapan uji praklinik.
Standarisasi obat bahan alam tidak berbeda dengan obat konvensional. Begitu pula dengan pemanfaatannya, dimana dalam memakai obat bahan alam juga mempertimbangkan faktor dosis dan lama pemberian, usia, kehamilan dan menyusui, jenis penyakit khususnya yang disertai dengan gangguan fungsi hati dan ginjal, serta kombinasi obat.
Untuk mendapat khasiat serta keamanan obat bahan alam, Prof. Amir pada akhir pidatonya, berpesan pada sejawat dokter agar jangan melupakan prinsip-prinsip farmakologi dalam berpraktik. Dan bagi calon dokter spesialis farmakologi diharap sesegera mungkin dapat menyelesaikan pendidikannya agar dapat mengisi kekurangan farmakolog di negeri ini dan menggantikan farmakolog yang sebagian besar mendekati usia pensiun.
________________________________________
Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi Maret 2008 , Halaman: 70 (1972 hits)
http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=695
Mainan bayi mengandung bahan kimia toksik
November 3, 2005 at 10:51 pm • Filed under Uncategorized
Kalbefarma – Berita terbaru yang dilaporkan 12 Oktober 2005, oleh Environment California Research menjelaskan bahwa terdapat bahan kima toksik seperti phthalate dan polybrominate diphenyl ethers (PBDEs) yang terkandung pada mainan bayi yang dapat digigit, buku dan perlengkapan tidur bayi.
Seorang anak pada tahun pertama kehidupannya merupakan anak yang menggemaskan bagi orang tuanya, mereka berharap anak mereka dapat tumbuh menjadi anak yang sehat dan bahagia, dikatakan Rachel Gibson, pengacara kesehatan lingkungan dan staf Attorney Environnment California. Meskipun demikian para orang tua tidak memiliki banyak informasi tentang perlindungan yang adekuat untuk melindungi anak-anaknya dari bahan kimia toksik tersebut.
The Environment California Research dan Policy Center bergabung melakukan penelitian terhadap 80 produk untuk anak, termasuk mainan yang dapat digigit dan beberapa jenis mainan lainnya. Mereka meneliti kandungan bahan kima phthalate yang terkandung pada mainan tersebut, dan menguji 7 jenis perlengkapan tidur anak seperti matras bayi yang mengandung PBDEs. Hasil uji yang dilakukan adalah:
- Limapuluh dari delapan puluh produk buku yang dapat dibawa mandi (bath books), mainan anak yang dapat digigit, mainan mandi, dan produk mainan anak lainnya, mengandung phthalate.
- Satu produk yang menyebut “phthalate-free” ternyata setelah dites produk tersebut masih mengandung 2 type phthalate: DEHP dan DBP.
- Tiga dari tujuh perlengkapan tidur bayi pada saat dites mengandung PBDEs pada material busanya.
Phthalate adalah bahan kimia yang digunakan untuk banyak produk plastik, untuk meningkatkan kelenturan dan mengikat aroma harum pada produk tersebut. Namun bahan kima ini mempengaruhi kesehatan antara lain dapat menimbulkan kelahiran bayi prematur, gangguan reproduksi dan mempercepat terjadinya pubertas.
Polybrominate diphenyl ethers (PBDEs) adalah suatu bahan kimia yang digunakan untuk menghambat penyebaran api. Bahan kimia ini dapat mempengaruhi kesehatan, misalnya terjadi gangguan memori, gangguan reproduksi, kanker dan gangguan sistem imun.
Environment California Recearch dan Policy Center menganjurkan kepada orang tua yang memiliki bayi dan perawatnya untuk:
- menghindari penggunaan mainan plastik yang dimasukkan kemulut
- menggunakan komponen gelas untuk menyimpan makanan dan minuman bila memungkinkan
- mencuci produk plastik secara benar, hindari mencuci peralatan plastik menggunakan sabun yang kasar dan juga air panas, kerena bila plastiknya lemas atau meleleh akan mempercepat proses.
http://artikelkesehatan.wordpress.com/2005/11/03/mainan-bayi-mengandung-bahan-kimia-toksik/
Senin, 14 Juli 2008
BAHAN KIMIA BERACUN ATAU TOKSIK
Jika kita sehari – hari bekerja, atau kontak dengan zat kimia, kita sadar dan tahu bahkan menyadari bahwa setiap zat kimia adalah beracun, sedangkan untuk bahaya pada kesehatan sangat tergantung pada jumlah zat kimia yang masuk kedalam tubuh.
Seperti garam dapur, garam dapur merupakan bahan kimia yang setiap hari kita konsumsi namun tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Namun, jika kita terlalu banyak mengkonsumsinya, maka akan membahayakan kesehatan kita. Demikian juga obat yang lainnya, akan menjadi sangat bermanfaat pada dosis tertentu, jangan terlalu banyak ataupun sedikit lebih baik berdasarkan resep dokter.
Dalam dunia laboratorium, bahan-bahan kimia dapat masuk ke dalam tubuh melewati tiga saluran, yakni:
1. Melalui mulut atau tertelan bisa disebut juga per-oral atau ingesti. Hal ini sangat jarang terjadi kecuali kita memipet bahan-bahan kimia langsung menggunakan mulut atau makan dan minum di laboratorium.
2. Melalui kulit. Bahan kimia yang dapat dengan mudah terserap kulit ialah aniline, nitrobenzene, dan asam sianida.
3. Melalui pernapasan (inhalasi). Gas, debu dan uap mudah terserap lewat pernapasan dan saluran ini merupakan sebagian besar dari kasus keracunan yang terjadi. SO2 (sulfur dioksida) dan Cl2 (klor) memberikan efek setempat pada jalan pernapasan. Sedangkan HCN, CO, H2S, uap Pb dan Zn akan segera masuk ke dalam darah dan terdistribusi ke seluruh organ-organ tubuh.
Gangguan toksik (keracunan) dari bahan kimia terhadap tubuh berbeda-beda. Misalnya CCL4 dan benzene dapat menimbulkan kerusakan pada hati ; metal isosianat dapat menyebabkan kebutaan dan kematian ; senyawa merkuri dapat menimbulkan kelainan genetic atau keturunan ; dan banyak senyawa organic yang mengandung cincin benzene, senyawa nikel dan krom dapat bersifat karsinogenik atau penyebab kanker.
Gangguan-gangguan tersebut diatas sangat tergantung pada kondisi kesehatan orang yang terpaparnya. Kondisi badan yang sehat dan makan yang bergizi akan mudah mengganti kerusakan sel-sel akibat keracunan. Sebaliknya kondisi badan yang kurang gizi akan sangat rawan terhadap keracunan.
Efek Akut dan Kronis
Efek keracunan pada tubuh manusia dibagi dua yaitu :
• Efek akut yaitu pengaruh sejumlah dosis tertentu yang akibatnya dapat dilihat atau dirasakan dalam waktu pendek. Contoh, keracunan fenol menyebabkan diare dan gas CO dapat menyebabkan hilang kesdaran atau kematian dalam waktu singkat.
• Efek kronis yaitu suatu akibat keracunan bahan-bahan kimia dalam dosis kecil tetapi terus menerus dan efeknya baru dapat dirasakan dalam jangka panjang (minggu, bulan, atau tahun). Misalnya, menghirup uap benzene dan senyawa hidrokarbon terkklorinasi (spt. Kloroform, karbon tetraklorida) dalam kadar rendah tetapi terus menerus akan menimbulkan penyakit hati (lever) setelah beberapa tahun. Uap timbal akan menimbulkan kerusakan dalam darah.
Usaha Menghindari Keracunan
• Penggunaan pelarut atau reagen-reagen yang toksik di usahakan diganti
• Perlakuan khusus pada beberapa zat kimia seperti senyawa yang dengan gugus amino, nitro dan gugus halogen reaktif perlu dicurigai akan kemungkinan bahayanya
• Gunakan lemari asam untuk bahan – bahan yang sekiranya menimbulkan pencemaran udara kerja
• Ventilasi udara, supaya ruangan tidak lembab dan tercemar oleh gas-gas berbahaya
• Makan dan minum di laboratorium sebisa mungkin dihindari untuk mencegah terjadinya kontaminasi
• Alat pelindung seperti masker (pelindung pernapasan), gloves (sarung tangan), dan kacamata pelindung harus di gunakan meskupun kurang enak di pakai? He he he he (itung-itung mejeng!!!)
O iya, untuk definisi racun itu sendiri apa? Nanti deh lain waktu bisa menambah catatan ini. Semoga bermanfaat……..
Sumber : catatan kuliah (toksikologi dan Keselamatan Kerja Laboratorium) AAK BA 2005 dan Keselamatan kerja dalam laboratorium oleh Soemanto Imamkhasam, PT Gramedia, Jakarta ; 1990. Hal 7-13
Diposkan oleh imad di 09:34
http://imadanalyzeartikelkesehatan.blogspot.com/2008/07/bahan-kimia-beracun-atau-toksik.html
11 RESEP RAMUAN KHUSUS UNTUK LOMBA MANCING IKAN MAS
Maret 3, 2008 in mancing, umpan
Beberapa ramuan umpan ikan berikut ini digunakan untuk satu hari pemancingan. Jika dianggap terlalu banyak maka takaran menu dapat anda ubah sendiri sesuai dengan perbandingannya.
RAMUAN UMPAN (1)
Bahan :
3 kg ikan mas atau belut
cara membuat :
Bila memakai ikan mas, buang isi perut dan insangnya, kukus hingga masak. Untuk belut, masukan saja ke dalam kantong plastik bening dapat juga ditambahkan daun pandan dan sedikit daun sereh, kukus hingga matang.
Cara pakai cukup diambil dagingnya saja, kaitkan pada kail.
RAMUAN UMPAN (2)
Bahan-bahan
30 Tongkol jagung muda
1,5 ons singkong
0,5 butir kelapa muda
1 blok keju Kraft
Roombutter Weijmans secukupnya
5 butir kuning telur bebek ( boleh tidak dipakai )
3 kg kroto (kroto beras)
Cara membuat :
Jagung, singkong, kelapa muda dan keju diparut lalu dicampurkan dengan sisa bahan dan diaduk rata. Adonan dibungkus rapat dengan alumunium foil. Dikukus selama 2 jam dengan api kecil, air sudah harus mendidih saat adonan dimasukkan. Kroto dicampurkan saat umpan akan dipakai.
RAMUAN UMPAN (3)
Bahan-bahan
5 kg ubi jalar
2kg daging belut
Ocoy (pengeras umpan) secukupnya
2 kg kroto
Cara membuat :
Ubi jalar dikupas. Ubi jalar, daging belut, dan ocoy dicampurkan kemudian dihaluskan dengan blender. Ocoy fungsinya sebagai pengeras. Bila tidak ada, bisa diganti dengan tepung mie atau susu bubuk. Saat akan dipakai, adonan dicampur lagi denagan kroto.
RAMUAN UMPAN (4)
Bahan-bahan
1 kg ubi kuning
20 tongkol jagung manis
1 pak keju Kraft (250 g)
250 gram mentega
3 kaleng ikan tuna
250 gram Bubur bayi Cerelac rasa pisang
10 ekor belut
8 butir telur (bagian kuningnya saja)
Susu murni secukupnya
1 kg kroto
Cara membuat :
Ubi, belut dan parutan jagung manis dikukus terpisah. Untuk jagung kukus setengah matang saja.Parut ubi dan keju, haluskan daging ikan tuna dan daging belut. Campurkan semua bahan di atas tadi aduk hingga rata. Untuk kroto dicampurkan saat umpan akan dipakai.
RAMUAN UMPAN (5)
Bahan-bahan
2 bungkus Indomie kari ayam
4 butir telur ayam kampung
2 sendok makan penuh bubur bayi Nutrisia beras
1 sendok makan susu bubuk Infamil
2 sendok makan roombutter Weijmans
1 sendok teh keju Kraft
1 sendok teh bubur bayi Cerelac beras
Cara membuat :
Indomie diblender sampai halus lalu diaduk dengan kuning telur yang sudah dikocok. Roombutter dipanaskan sampai mencair. Ke dalamnya lalu dimasukkan keju parut dan diaduk. Pemanasan diteruskan dengan api kecil. Bahan-bahan lain kemudian dicampurkan. Selama pengadukan, api harus tetap kecil supaya adonan tidak hangus. Setelah warnanya agak kuning, bubur bayi Cerelac beras dimasukkan dan diaduk lagi. Adonan didinginkan sebelum dimasukkan kedalam kaleng untuk disimpan. Cerelac berfungsi untuk pengeras umpan. Apabila saat dipakai umpan terlalu lembek ( mudah hancur ), tepung Cerelac dapat ditambahkan lagi. Sebelum dipakai umpan harus dicampur rata dengan telur semut merah atau kroto secukupnya.
RAMUAN UMPAN (6)
Bahan-bahan
1,5 bungkus mie instan
3 sendok makan pelet
2 ons kelapa parut
2 ons ubi jalar putih atau kuning
2 ons ikan tongkol segar atau olahan
1,5 ons susu bubuk full cream
4 butir telur bebek ( mentah atau asin )
1,5 ons keju
2 ons kroto
3 tetes esen nangka
Cara membuat :
Mie instan dan pelet dibuat menjadi tepung, kelapa parut dibuat santan dan digodok sampai keluar minyaknya. Ubi jalar dikupas dan dicuci bersih lalu dikukus sampai matang. Ikan tongkol dicuci bersih dan dikukus sampai matang. Kulit dan duri ikan dibuang kemudian ikan digoreng dengan minyak hasil rebusan santan kelapa.Telur bebek mentah digodok sampai matang dan diambil bagian kuningnya. Keju diparut. Semua campuran bahan diaduk atau ditumbuk bersama susu dan esen sampai benar – benar halus dan tercampur dengan baik. Kroto diseduh dengan air mendidih. kotoran dan semut yang masih ada dibuang lalu ditiriskan dengan sedikit diperas. Kroto dicampurkan dengan umpan pada saat mulai mancing.
RAMUAN UMPAN (7)
Bahan-bahan
2 tongkol jagung manis (sweetcorn ) muda
1,5 ons ubi jalar manis
1 ons singkong
0,5 ons keju Kraft
2 kuning telur ayam kampung
0,5 sendok teh gula pasir
0,5 sendok garam
1 ons kacang tanah
2 ons kacang mete
mentega secukupnya
Cara membuat :
Kacang mete dan kacang tanah digoreng dengan mentega, setelah matang keduanya kemudian diblender sampai benar-benar halus. Jagung muda, ubi jalar, dan singkong dikupas lalu diparut sampai halus demikian juga keju kraft dihaluskan, diaduk jadi satu dengan bahan-bahan yang lain, kemudian dibungkus, dikukus dengan api besar sampai matang. Pada saat digunakan, umpan umpan jagung ini harus dicampur dulu dengan kroto atau daging belut.
RAMUAN UMPAN (8)
Bahan-bahan
3 buah ubi jalar manis
1 kaleng Tuna (Tuna in oil)
2 bungkus Chiki Snack keju
2 bungkus pelet merah
1 tutup botol minyak ikan (Scott’s Emultion White)
Cara membuat :
Kukus ubi jalar, parut dan haluskan. Remas Chiki Snack hingga hancur, campurkan dengan adonan aduk lagi sampai rata. Tuna kaleng dibuka tuangkan minyaknya saja tambahkan sedikit air tuang lagi ke adonan (daging ikan dapat dipakai ke umpan lain). Masukkan pelet dan minyak ikan Scott’s, aduk hingga merata. Campurkan kroto atau daging belut saat akan dipakai.
RAMUAN UMPAN (9)
Bahan-bahan
20 tongkol jagung manis
1/3 kelapa ukuran sedang.
1 kg ubi kuning
1 blok keju Kraft
3/4 sendok makan mentega Weijmans
8 butitr telur bebek
1 liter susu sapi murni.
Bahan campuran lain :
4 ekor bandeng hitam basah
2 Kg kroto putih segar
Cara membuat :
Jagung dan kelapa digiling halus. Ubi kuning dikukus lalu diparut. Keju diparut. Susu sapi dimasak diatas api kecil sambil terus diaduk hingga tinggal 6 sendok makan. Telur bebek ( 5 butir campur dan 3 kuningnya saja ) diaduk dengan mixer pada kecepatan tinggi. Jagung, kelapa, ubi, keju, susu sapi, dan mentega dicampurkan ke adonan telur sambil terus diaduk pada kecepatan tinggi. Umpan siap dipakai. Catatan : Jika akan dipakai mancing pada pagi hari, umpan harus dibuat malam hari dan harus sudah jadi tepat menjelang pagi.
Cara memakai : Kroto puith sebanyak 1/2 dikukus lalu dicampur pelet. Gunakan sebagai bom. Kroto dikukus dengan maksud agar bisa tenggelam. Seperti biasa, sebelum dipasang umpan harus dicampur lagi dengan kroto di bagian luarnya. Jika ikan mas di kolam ternyata menyukai umpan amis, selain kroto, adonan boleh dicampur lagi dengan daging bandeng yang sebelumnya telah dikukus dan dihaluskan. Daging bandeng bisa dicampur langsung ke adonan atau hanya dibagian luar.
RAMUAN UMPAN (10)
Bahan-bahan
2 kg kroto beras
2 butir telur ayam
500 gram tepung ketan
Daun pandan
Cara membuat :
Rendam kroto dengan air panas, bersihkan hingga tersisa yang putihnya saja. Kocok telur, tambahkan tepung ketan, aduk dan ratakan tambahkan sedikit air agar adonan tidak liat (agak encer). Masukkan kroto sedikit demi sedikit, aduk secara perlahan agar kroto tidak terlalu hancur. Gunakan daun pisang untuk membungkus adonan tambahkan daun pandan agar menjadi wangi, jadikan beberapa bungkus kecil. Lalu dikukus dengan api kecil. Saat akan dipakai beri kroto segar, tak perlu diaduk, pulungan umpan cukup diguling-gulingkan saja pada kroto. Jika umpan terlalu lembek dapat ditambahkan pengeras.
RAMUAN UMPAN (11)
Bahan-bahan
150 gram ubi jalar
100 gram singkong
2 tongkol jagung manis
50 gram keju
2 kuning telur ayam kampung
1,5 sendok makan gula
1,5 sendok garam halus
50 gram kacang tanah goreng
50 gram kacang mete goreng
Cara membuat :
Kukus ubi jalar, singkong, dan jagung manis sampai setengah matang. Parut keju kemudian aduk rata bersama kuning telur. Giling kacang tanah dan mete dengan blender, goreng sampai halus. Tambahkan ubi jalar, singkong, jagung yang telah dikukus, keju dicampur kuning telur, garam, dan gula. Blender sekali lagi hingga halus dan tercampur merata. Kukus adonan yang telah diblender diatas cetakan kue beralas daun pisang kurang lebih 30 menit. Campurkan kroto sewaktu akan digunakan.
dari : geocities.com/mancingikan
Beberapa ramuan umpan ikan berikut ini digunakan untuk satu hari pemancingan. Jika dianggap terlalu banyak maka takaran menu dapat anda ubah sendiri sesuai dengan perbandingannya.
RAMUAN UMPAN (1)
Bahan :
3 kg ikan mas atau belut
cara membuat :
Bila memakai ikan mas, buang isi perut dan insangnya, kukus hingga masak. Untuk belut, masukan saja ke dalam kantong plastik bening dapat juga ditambahkan daun pandan dan sedikit daun sereh, kukus hingga matang.
Cara pakai cukup diambil dagingnya saja, kaitkan pada kail.
RAMUAN UMPAN (2)
Bahan-bahan
30 Tongkol jagung muda
1,5 ons singkong
0,5 butir kelapa muda
1 blok keju Kraft
Roombutter Weijmans secukupnya
5 butir kuning telur bebek ( boleh tidak dipakai )
3 kg kroto (kroto beras)
Cara membuat :
Jagung, singkong, kelapa muda dan keju diparut lalu dicampurkan dengan sisa bahan dan diaduk rata. Adonan dibungkus rapat dengan alumunium foil. Dikukus selama 2 jam dengan api kecil, air sudah harus mendidih saat adonan dimasukkan. Kroto dicampurkan saat umpan akan dipakai.
RAMUAN UMPAN (3)
Bahan-bahan
5 kg ubi jalar
2kg daging belut
Ocoy (pengeras umpan) secukupnya
2 kg kroto
Cara membuat :
Ubi jalar dikupas. Ubi jalar, daging belut, dan ocoy dicampurkan kemudian dihaluskan dengan blender. Ocoy fungsinya sebagai pengeras. Bila tidak ada, bisa diganti dengan tepung mie atau susu bubuk. Saat akan dipakai, adonan dicampur lagi denagan kroto.
RAMUAN UMPAN (4)
Bahan-bahan
1 kg ubi kuning
20 tongkol jagung manis
1 pak keju Kraft (250 g)
250 gram mentega
3 kaleng ikan tuna
250 gram Bubur bayi Cerelac rasa pisang
10 ekor belut
8 butir telur (bagian kuningnya saja)
Susu murni secukupnya
1 kg kroto
Cara membuat :
Ubi, belut dan parutan jagung manis dikukus terpisah. Untuk jagung kukus setengah matang saja.Parut ubi dan keju, haluskan daging ikan tuna dan daging belut. Campurkan semua bahan di atas tadi aduk hingga rata. Untuk kroto dicampurkan saat umpan akan dipakai.
RAMUAN UMPAN (5)
Bahan-bahan
2 bungkus Indomie kari ayam
4 butir telur ayam kampung
2 sendok makan penuh bubur bayi Nutrisia beras
1 sendok makan susu bubuk Infamil
2 sendok makan roombutter Weijmans
1 sendok teh keju Kraft
1 sendok teh bubur bayi Cerelac beras
Cara membuat :
Indomie diblender sampai halus lalu diaduk dengan kuning telur yang sudah dikocok. Roombutter dipanaskan sampai mencair. Ke dalamnya lalu dimasukkan keju parut dan diaduk. Pemanasan diteruskan dengan api kecil. Bahan-bahan lain kemudian dicampurkan. Selama pengadukan, api harus tetap kecil supaya adonan tidak hangus. Setelah warnanya agak kuning, bubur bayi Cerelac beras dimasukkan dan diaduk lagi. Adonan didinginkan sebelum dimasukkan kedalam kaleng untuk disimpan. Cerelac berfungsi untuk pengeras umpan. Apabila saat dipakai umpan terlalu lembek ( mudah hancur ), tepung Cerelac dapat ditambahkan lagi. Sebelum dipakai umpan harus dicampur rata dengan telur semut merah atau kroto secukupnya.
RAMUAN UMPAN (6)
Bahan-bahan
1,5 bungkus mie instan
3 sendok makan pelet
2 ons kelapa parut
2 ons ubi jalar putih atau kuning
2 ons ikan tongkol segar atau olahan
1,5 ons susu bubuk full cream
4 butir telur bebek ( mentah atau asin )
1,5 ons keju
2 ons kroto
3 tetes esen nangka
Cara membuat :
Mie instan dan pelet dibuat menjadi tepung, kelapa parut dibuat santan dan digodok sampai keluar minyaknya. Ubi jalar dikupas dan dicuci bersih lalu dikukus sampai matang. Ikan tongkol dicuci bersih dan dikukus sampai matang. Kulit dan duri ikan dibuang kemudian ikan digoreng dengan minyak hasil rebusan santan kelapa.Telur bebek mentah digodok sampai matang dan diambil bagian kuningnya. Keju diparut. Semua campuran bahan diaduk atau ditumbuk bersama susu dan esen sampai benar – benar halus dan tercampur dengan baik. Kroto diseduh dengan air mendidih. kotoran dan semut yang masih ada dibuang lalu ditiriskan dengan sedikit diperas. Kroto dicampurkan dengan umpan pada saat mulai mancing.
RAMUAN UMPAN (7)
Bahan-bahan
2 tongkol jagung manis (sweetcorn ) muda
1,5 ons ubi jalar manis
1 ons singkong
0,5 ons keju Kraft
2 kuning telur ayam kampung
0,5 sendok teh gula pasir
0,5 sendok garam
1 ons kacang tanah
2 ons kacang mete
mentega secukupnya
Cara membuat :
Kacang mete dan kacang tanah digoreng dengan mentega, setelah matang keduanya kemudian diblender sampai benar-benar halus. Jagung muda, ubi jalar, dan singkong dikupas lalu diparut sampai halus demikian juga keju kraft dihaluskan, diaduk jadi satu dengan bahan-bahan yang lain, kemudian dibungkus, dikukus dengan api besar sampai matang. Pada saat digunakan, umpan umpan jagung ini harus dicampur dulu dengan kroto atau daging belut.
RAMUAN UMPAN (8)
Bahan-bahan
3 buah ubi jalar manis
1 kaleng Tuna (Tuna in oil)
2 bungkus Chiki Snack keju
2 bungkus pelet merah
1 tutup botol minyak ikan (Scott’s Emultion White)
Cara membuat :
Kukus ubi jalar, parut dan haluskan. Remas Chiki Snack hingga hancur, campurkan dengan adonan aduk lagi sampai rata. Tuna kaleng dibuka tuangkan minyaknya saja tambahkan sedikit air tuang lagi ke adonan (daging ikan dapat dipakai ke umpan lain). Masukkan pelet dan minyak ikan Scott’s, aduk hingga merata. Campurkan kroto atau daging belut saat akan dipakai.
RAMUAN UMPAN (9)
Bahan-bahan
20 tongkol jagung manis
1/3 kelapa ukuran sedang.
1 kg ubi kuning
1 blok keju Kraft
3/4 sendok makan mentega Weijmans
8 butitr telur bebek
1 liter susu sapi murni.
Bahan campuran lain :
4 ekor bandeng hitam basah
2 Kg kroto putih segar
Cara membuat :
Jagung dan kelapa digiling halus. Ubi kuning dikukus lalu diparut. Keju diparut. Susu sapi dimasak diatas api kecil sambil terus diaduk hingga tinggal 6 sendok makan. Telur bebek ( 5 butir campur dan 3 kuningnya saja ) diaduk dengan mixer pada kecepatan tinggi. Jagung, kelapa, ubi, keju, susu sapi, dan mentega dicampurkan ke adonan telur sambil terus diaduk pada kecepatan tinggi. Umpan siap dipakai. Catatan : Jika akan dipakai mancing pada pagi hari, umpan harus dibuat malam hari dan harus sudah jadi tepat menjelang pagi.
Cara memakai : Kroto puith sebanyak 1/2 dikukus lalu dicampur pelet. Gunakan sebagai bom. Kroto dikukus dengan maksud agar bisa tenggelam. Seperti biasa, sebelum dipasang umpan harus dicampur lagi dengan kroto di bagian luarnya. Jika ikan mas di kolam ternyata menyukai umpan amis, selain kroto, adonan boleh dicampur lagi dengan daging bandeng yang sebelumnya telah dikukus dan dihaluskan. Daging bandeng bisa dicampur langsung ke adonan atau hanya dibagian luar.
RAMUAN UMPAN (10)
Bahan-bahan
2 kg kroto beras
2 butir telur ayam
500 gram tepung ketan
Daun pandan
Cara membuat :
Rendam kroto dengan air panas, bersihkan hingga tersisa yang putihnya saja. Kocok telur, tambahkan tepung ketan, aduk dan ratakan tambahkan sedikit air agar adonan tidak liat (agak encer). Masukkan kroto sedikit demi sedikit, aduk secara perlahan agar kroto tidak terlalu hancur. Gunakan daun pisang untuk membungkus adonan tambahkan daun pandan agar menjadi wangi, jadikan beberapa bungkus kecil. Lalu dikukus dengan api kecil. Saat akan dipakai beri kroto segar, tak perlu diaduk, pulungan umpan cukup diguling-gulingkan saja pada kroto. Jika umpan terlalu lembek dapat ditambahkan pengeras.
RAMUAN UMPAN (11)
Bahan-bahan
150 gram ubi jalar
100 gram singkong
2 tongkol jagung manis
50 gram keju
2 kuning telur ayam kampung
1,5 sendok makan gula
1,5 sendok garam halus
50 gram kacang tanah goreng
50 gram kacang mete goreng
Cara membuat :
Kukus ubi jalar, singkong, dan jagung manis sampai setengah matang. Parut keju kemudian aduk rata bersama kuning telur. Giling kacang tanah dan mete dengan blender, goreng sampai halus. Tambahkan ubi jalar, singkong, jagung yang telah dikukus, keju dicampur kuning telur, garam, dan gula. Blender sekali lagi hingga halus dan tercampur merata. Kukus adonan yang telah diblender diatas cetakan kue beralas daun pisang kurang lebih 30 menit. Campurkan kroto sewaktu akan digunakan.
dari : geocities.com/mancingikan
Kamis, 10 Desember 2009
“ARTI SEBUAH KEMERDEKAAN”
SABTU 21 NOVEMBER 2009
KEDUNGGALAR
06.34 pm WAKTU SETEMPAT
Pagi yang cerah disebuah pedesaan. Asri, nyaman, peduli, indah,dan penuh dengan kedamaian. Itulah kesan yang aku rasakan di desa Gemarang, kecamatan Kedunggalar ngawi jawatimur. Hari ini aku merasakan kedamaian ini lagi, setelah sekian lama aku tak merasakannya. Kadamaian yang ada dipedesaan ini membawaku kedalam sebuah ketenangan yang tidak pernah aku rasakan selama satu tahun terakhir ini. “Damai” mungkin satu kata ini yang bisa ku ungkapkan dalam hati kecilku saat ini. Tak ada kebulan asap knalpot, dering suara motor, tak ada listrik, tak ada gosip selebriti, dan banyak hal” lain yang selama ini memanjakan diriku. Disinilah aku dapat merasakan batapa indahnya hidup ini, ditempat ini aku bisa menemukan sesuatu yang selama ini aku cari.
Jauh angan ini melayang” memandang hamparan hijaunya sawah dan ladang” penduduk dan lalulalang para petani yang melakukan aktifitas mereka masing” gerakan seekor kerbau yang sedang menarik bajak disebuah sawah terlihat begitu kuatnya dia. Para ibu” topi berbentuk prisma yang bergegas menuju sebuah sawah untuk membantu suaminya bekerja. Banyak hal yang aku dapatkan disini.
Tak pernah aku membayangkan hal sampai sejauh ini. Disebuah pulau yang paling tua dinegara kita tercinta ternyata masih ada daerah yang tidak terjangkau oleh pandangan pemerintah. Rakyat yang serba kekurangan, pendidikan yang rendah, sarana transportasi yang tidak memadai, dan jauh dari segala harapa masyarakat. kemanakah pemerintah kita??? Tahukah mereka bahwa disini masih ada rakyat yang selalu mengharapkan bantuan. Sadarkah mereka disini ada rakyat yang harus bertahan hidup dengan serba kekurangan?? Hati ini bertanya, kemana hati nurani mereka??
Pada UUD 1945 tertuliskan “ Bahwa penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan…” Indonesia telah lama merdeka, tapi kenapa masih ada orang” yang terjajah. Terjajah oleh kemiskinan, kobodohan, kekejaman para koruptor, dan banyak penjajah” lainnya. Apakah ini arti kemerdekaan ?? atau kemerdekaan itu hanya ucapan saja ???
Kulihat jalan setapak berbatu disebrang hamparan sawah yang begitu luas, satu-satunya jalan yang menghubungkandesa ini dengan desa yang lain. Kondisi jalan yang tidak karuan, berlubang dimana-mana, jalan yang setian saat bisa berpindah-pindah, dan pasti becek apabila musim penghujan datang. Aku bertanya?? Apakah ada seorang yang peduli akan keadaan jalan itu, kapan jalan itu akan tetap berada ditempat itu iutuk selamanya, kapan jalan itu akan ditutup batunya, kapan jalan itu akan bias dilalui oleh mobil-mobil mewah para pejabat Negara ??? KAPAN???
Jerittan seorang anak kecil yang kira-kira berusia 7 tahunan membuyarkan khayalanku yang semakin dalam. Dalam pelukan seorang nenek dia menangis. Aku tak tau apa arti tangisan tersebut. Badan yang kurus, tanpa ditutupi sehelai benangpun. Tampak jelas bentuk tulang iga dan tulang punggung yang kecil dan rapuh. Kulit tubuh yang pucat dan layu membungkus tubuh anak itu. Air liur yang selalu mengalis dari bibir manis sibocah dan ttatapan hampa yang mungkin tanpa asa didalam hati. Mungkinkah dia mengerti akan indahnya hidup, apakah dia tau indahnya dunia ini, dan apakah dia tidak punya keinginan untuk menemukan hidup yang lebih indah dari yang sekarang ini. Tertawa, bermain bersama teman-teman, sekolah, belajar, jalan-jalan, atau kebutuhan hidup lainnya yang orang lain alami??!!
Tanpa sadar aku mulai terbawa oleh situasi ini. Segelintir air mata menetes dari mataku. Aku membayangkan betapa kejamnya hidup bila dalam kondisi seperti ini. Kini aku sadar, ternyata hidupku tidak ada artinya dibandingkan dengan mereka. Mereka yang hidup serba berkecukupan bahkan !!
TO BE CONTINEU…………………….!!!!!!!!!!!
KEDUNGGALAR
06.34 pm WAKTU SETEMPAT
Pagi yang cerah disebuah pedesaan. Asri, nyaman, peduli, indah,dan penuh dengan kedamaian. Itulah kesan yang aku rasakan di desa Gemarang, kecamatan Kedunggalar ngawi jawatimur. Hari ini aku merasakan kedamaian ini lagi, setelah sekian lama aku tak merasakannya. Kadamaian yang ada dipedesaan ini membawaku kedalam sebuah ketenangan yang tidak pernah aku rasakan selama satu tahun terakhir ini. “Damai” mungkin satu kata ini yang bisa ku ungkapkan dalam hati kecilku saat ini. Tak ada kebulan asap knalpot, dering suara motor, tak ada listrik, tak ada gosip selebriti, dan banyak hal” lain yang selama ini memanjakan diriku. Disinilah aku dapat merasakan batapa indahnya hidup ini, ditempat ini aku bisa menemukan sesuatu yang selama ini aku cari.
Jauh angan ini melayang” memandang hamparan hijaunya sawah dan ladang” penduduk dan lalulalang para petani yang melakukan aktifitas mereka masing” gerakan seekor kerbau yang sedang menarik bajak disebuah sawah terlihat begitu kuatnya dia. Para ibu” topi berbentuk prisma yang bergegas menuju sebuah sawah untuk membantu suaminya bekerja. Banyak hal yang aku dapatkan disini.
Tak pernah aku membayangkan hal sampai sejauh ini. Disebuah pulau yang paling tua dinegara kita tercinta ternyata masih ada daerah yang tidak terjangkau oleh pandangan pemerintah. Rakyat yang serba kekurangan, pendidikan yang rendah, sarana transportasi yang tidak memadai, dan jauh dari segala harapa masyarakat. kemanakah pemerintah kita??? Tahukah mereka bahwa disini masih ada rakyat yang selalu mengharapkan bantuan. Sadarkah mereka disini ada rakyat yang harus bertahan hidup dengan serba kekurangan?? Hati ini bertanya, kemana hati nurani mereka??
Pada UUD 1945 tertuliskan “ Bahwa penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan…” Indonesia telah lama merdeka, tapi kenapa masih ada orang” yang terjajah. Terjajah oleh kemiskinan, kobodohan, kekejaman para koruptor, dan banyak penjajah” lainnya. Apakah ini arti kemerdekaan ?? atau kemerdekaan itu hanya ucapan saja ???
Kulihat jalan setapak berbatu disebrang hamparan sawah yang begitu luas, satu-satunya jalan yang menghubungkandesa ini dengan desa yang lain. Kondisi jalan yang tidak karuan, berlubang dimana-mana, jalan yang setian saat bisa berpindah-pindah, dan pasti becek apabila musim penghujan datang. Aku bertanya?? Apakah ada seorang yang peduli akan keadaan jalan itu, kapan jalan itu akan tetap berada ditempat itu iutuk selamanya, kapan jalan itu akan ditutup batunya, kapan jalan itu akan bias dilalui oleh mobil-mobil mewah para pejabat Negara ??? KAPAN???
Jerittan seorang anak kecil yang kira-kira berusia 7 tahunan membuyarkan khayalanku yang semakin dalam. Dalam pelukan seorang nenek dia menangis. Aku tak tau apa arti tangisan tersebut. Badan yang kurus, tanpa ditutupi sehelai benangpun. Tampak jelas bentuk tulang iga dan tulang punggung yang kecil dan rapuh. Kulit tubuh yang pucat dan layu membungkus tubuh anak itu. Air liur yang selalu mengalis dari bibir manis sibocah dan ttatapan hampa yang mungkin tanpa asa didalam hati. Mungkinkah dia mengerti akan indahnya hidup, apakah dia tau indahnya dunia ini, dan apakah dia tidak punya keinginan untuk menemukan hidup yang lebih indah dari yang sekarang ini. Tertawa, bermain bersama teman-teman, sekolah, belajar, jalan-jalan, atau kebutuhan hidup lainnya yang orang lain alami??!!
Tanpa sadar aku mulai terbawa oleh situasi ini. Segelintir air mata menetes dari mataku. Aku membayangkan betapa kejamnya hidup bila dalam kondisi seperti ini. Kini aku sadar, ternyata hidupku tidak ada artinya dibandingkan dengan mereka. Mereka yang hidup serba berkecukupan bahkan !!
TO BE CONTINEU…………………….!!!!!!!!!!!
Minggu, 15 November 2009
perbaikan bibit kakao melalui kultur jaringan
TERBATASNYA bibit bermutu menyebabkan rendahnya produktivitas tanaman kakao saat ini, yakni hanya 625 kilogram (kg) per hektar per tahun. Hal itu setara 32 persen dari potensi seharusnya sebesar 2.000 kg per hektar per tahun.
Untuk itu, diperlukan terobosan teknologi pembibitan kakao berkualitas untuk memenuhi kebutuhan yang kian besar dengan cara mengembangkan kultur jaringan atasi kebutuhan bibit kakau.
Demikian disampaikan Menteri Pertanian Anton Apriyantono saat meresmikan Laboratorium Teknologi Kultur Jaringan (somatyc embryogenesis/SE) untuk pembibitan kopi dan kakao, di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, Jawa Timur, Sabtu (16/2).
Menurut Mentan, dari 992.000 hektar kebun kakao 87 persen dikelola oleh perkebunan rakyat, enam persen perkebunan milik negara, dan tujuh persen perkebunan milik swasta.
Indonesia merupakan negara pertama yang mengembangkan teknologi kultur jaringan (SE) di dunia untuk kakao, ujar Mentan.
Pemanfaatan teknologi kultur jaringan dalam pembibitan kakao diperlukan guna mempercepat penyediaan bibit kakao nasional. Pencanangan program revitalisasi perkebunan kakao telah memacu peningkatan kebutuhan bibit kakao hingga 75 juta bibit per tahun.
Jumlah itu terdiri dari 50 juta bibit untuk memenuhi kebutuhan program revialisasi 200.000 hektar dan 25 juta bibit untuk kebutuhan lain.
Revitalisasi 200.000 hektar perkebunan kakao, kata Mentan, dilakukan dengan cara bertahap hingga tahun 2010. Terdiri dari 54.000 hektar program peremajaan, 36.000 hektar rehabilitasi, dan 110.000 hektar perluasan areal tanaman.
Sementara, target revitalisasi terjadinya peningkatan nilai ekspor kakao sebesar 20 persen pertahun. Tahun lalu nilai ekspor kakao sekitar 500 juta dolar AS per tahun. Sentra produksi kakao adalah Jatim, Sumbar, Sulsel, Sulbar, Sultra, dan Sulteng, Kalimantan Timur, Maluku, dan Papua.
Terkait revitalisasi perkebunan, pemerintah memfasilitasi dalam empat hal. Yaitu skema investasi, impor untuk keperluan barang modal dan industri, negosiasi untuk membuka pasar dunia bagi produk Indonesia, dan subsidi bunga kredit bagi petani. Subsidi diberikan agar petani mampu meremajakan tanaman tua dan memperluas areal tanam.
Kekurangan
Indonesia saat ini, sambung Mentan, masih kekurangan 23 juta benih kakao untuk mendukung pencapaian target pengembangan 200.000 hektar kakao hingga 2010 mendatang. Saat ini, benih yang tersedia hanya sebanyak 34 juta benih, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan 200.000 hektar dibutuhkan 57 juta benih kakao.
Deptan akan memproduksi benih unggul kakao melalui teknik kultur jaringan. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung percepatan produksi benih unggul kakao.
Tahun ini Deptan akan merevitalisasi perkebunan kakao baik melalui perluasan maupun peremajaan dan rehabilitasi lahan, ujar Mentan. Luas lahan baru kakao tahun ini mencapai 29.000 hektar, sedangkan peremajaan dan rehabilitasi masing-masing 15.000 hektar dan 10.000 hektar.
Sementara untuk menunjang program revitalisasi perkebunan kakao tahun ini, lanjut Anton, Deptan menyediakan benih unggul kakao sebanyak satu juta benih. Benih yang siap disalurkan tersebut terdiri dari benih lokal dan benih kakao mulia.
Program revitalisasi mendesak dilakukan mengingat banyaknya lahan perkebunan kakao yang terlantar. Banyak tanaman kakao sudah tua, rusak, atau bukan berasal dari benih unggul.
Turunnya produksi kakao saat ini membuat posisi Indonesia sebagai produsen utama kakao dunia tergeser Pantai Gading dan Ghana.
Mengganasnya hama pengganggu kakao (PBK) menjadi penyebab utama tergesernya posisi Indonesia itu, disamping karena rendahnya produktivitas rata-rata nasional yang kurang dari 50 persen potensinya.
Kepala Puslit Kopi dan Kakao, Teguh Wahyu, menambahkan pengembangan laboratorium teknologi kultur jaringan menggunakan dana hibah Deptan tahun 2007 sebesar Rp9 miliar dan dilanjutkan dana hibah tahun 2008 sebesar Rp4 miliar. Untuk teknologinya, Deptan mendapatkan bantuan alih teknologi dari Pusat Litbang Nestle Perancis yang difasilitasi PT Nestle Indonesia.
Kepala Biro Riset Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, Gede Wibawa, mengatakan teknologi ini tak hanya mampu menyediakan bibit dalam jumlah besar. Namun juga menghasilkan bibit berkualitas tinggi berukuran seragam.
Menurutnya, perbanyakan tanaman kakao umumnya dilakukan secara generatif menggunakan benih dan vegetatif menggunakan setek, okulasi, dan sambung pucuk. Namun, hasilnya kualitas bibit umumnya rendah, ukuran tidak seragam, dan produktivitas rendah.
Dengan teknologi kultur jaringan, masalah pengadaan bibit berkualitas tinggi dan seragam secara cepat bisa diatasi. Tahun 2009 kapasitas produkti akan mencapai empat juta bibit kakao, kata Gede. (cr-1)
Untuk itu, diperlukan terobosan teknologi pembibitan kakao berkualitas untuk memenuhi kebutuhan yang kian besar dengan cara mengembangkan kultur jaringan atasi kebutuhan bibit kakau.
Demikian disampaikan Menteri Pertanian Anton Apriyantono saat meresmikan Laboratorium Teknologi Kultur Jaringan (somatyc embryogenesis/SE) untuk pembibitan kopi dan kakao, di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, Jawa Timur, Sabtu (16/2).
Menurut Mentan, dari 992.000 hektar kebun kakao 87 persen dikelola oleh perkebunan rakyat, enam persen perkebunan milik negara, dan tujuh persen perkebunan milik swasta.
Indonesia merupakan negara pertama yang mengembangkan teknologi kultur jaringan (SE) di dunia untuk kakao, ujar Mentan.
Pemanfaatan teknologi kultur jaringan dalam pembibitan kakao diperlukan guna mempercepat penyediaan bibit kakao nasional. Pencanangan program revitalisasi perkebunan kakao telah memacu peningkatan kebutuhan bibit kakao hingga 75 juta bibit per tahun.
Jumlah itu terdiri dari 50 juta bibit untuk memenuhi kebutuhan program revialisasi 200.000 hektar dan 25 juta bibit untuk kebutuhan lain.
Revitalisasi 200.000 hektar perkebunan kakao, kata Mentan, dilakukan dengan cara bertahap hingga tahun 2010. Terdiri dari 54.000 hektar program peremajaan, 36.000 hektar rehabilitasi, dan 110.000 hektar perluasan areal tanaman.
Sementara, target revitalisasi terjadinya peningkatan nilai ekspor kakao sebesar 20 persen pertahun. Tahun lalu nilai ekspor kakao sekitar 500 juta dolar AS per tahun. Sentra produksi kakao adalah Jatim, Sumbar, Sulsel, Sulbar, Sultra, dan Sulteng, Kalimantan Timur, Maluku, dan Papua.
Terkait revitalisasi perkebunan, pemerintah memfasilitasi dalam empat hal. Yaitu skema investasi, impor untuk keperluan barang modal dan industri, negosiasi untuk membuka pasar dunia bagi produk Indonesia, dan subsidi bunga kredit bagi petani. Subsidi diberikan agar petani mampu meremajakan tanaman tua dan memperluas areal tanam.
Kekurangan
Indonesia saat ini, sambung Mentan, masih kekurangan 23 juta benih kakao untuk mendukung pencapaian target pengembangan 200.000 hektar kakao hingga 2010 mendatang. Saat ini, benih yang tersedia hanya sebanyak 34 juta benih, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan 200.000 hektar dibutuhkan 57 juta benih kakao.
Deptan akan memproduksi benih unggul kakao melalui teknik kultur jaringan. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung percepatan produksi benih unggul kakao.
Tahun ini Deptan akan merevitalisasi perkebunan kakao baik melalui perluasan maupun peremajaan dan rehabilitasi lahan, ujar Mentan. Luas lahan baru kakao tahun ini mencapai 29.000 hektar, sedangkan peremajaan dan rehabilitasi masing-masing 15.000 hektar dan 10.000 hektar.
Sementara untuk menunjang program revitalisasi perkebunan kakao tahun ini, lanjut Anton, Deptan menyediakan benih unggul kakao sebanyak satu juta benih. Benih yang siap disalurkan tersebut terdiri dari benih lokal dan benih kakao mulia.
Program revitalisasi mendesak dilakukan mengingat banyaknya lahan perkebunan kakao yang terlantar. Banyak tanaman kakao sudah tua, rusak, atau bukan berasal dari benih unggul.
Turunnya produksi kakao saat ini membuat posisi Indonesia sebagai produsen utama kakao dunia tergeser Pantai Gading dan Ghana.
Mengganasnya hama pengganggu kakao (PBK) menjadi penyebab utama tergesernya posisi Indonesia itu, disamping karena rendahnya produktivitas rata-rata nasional yang kurang dari 50 persen potensinya.
Kepala Puslit Kopi dan Kakao, Teguh Wahyu, menambahkan pengembangan laboratorium teknologi kultur jaringan menggunakan dana hibah Deptan tahun 2007 sebesar Rp9 miliar dan dilanjutkan dana hibah tahun 2008 sebesar Rp4 miliar. Untuk teknologinya, Deptan mendapatkan bantuan alih teknologi dari Pusat Litbang Nestle Perancis yang difasilitasi PT Nestle Indonesia.
Kepala Biro Riset Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, Gede Wibawa, mengatakan teknologi ini tak hanya mampu menyediakan bibit dalam jumlah besar. Namun juga menghasilkan bibit berkualitas tinggi berukuran seragam.
Menurutnya, perbanyakan tanaman kakao umumnya dilakukan secara generatif menggunakan benih dan vegetatif menggunakan setek, okulasi, dan sambung pucuk. Namun, hasilnya kualitas bibit umumnya rendah, ukuran tidak seragam, dan produktivitas rendah.
Dengan teknologi kultur jaringan, masalah pengadaan bibit berkualitas tinggi dan seragam secara cepat bisa diatasi. Tahun 2009 kapasitas produkti akan mencapai empat juta bibit kakao, kata Gede. (cr-1)
Langganan:
Postingan (Atom)